Berhenti Makan Lebih Dini Membantu Melawan Lemak Tubuh 

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Pembatasan waktu makan lebih dini berpotensi membantu melawan lemak tubuh. Pola makan dengan mengakhiri asupan makanan pada pertengahan sore terbukti mampu menstabilkan rasa lapar dan mengubah pola pembakaran energi.

Demikian hasil studi yang dilakukan tim peneliti dari Pennington Biomedical Research Center, Amerika Serikat. Hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa pembatasan waktu makan lebih dini berpotensi membantu melawan lemak tubuh.

Courtney Peterson, peneliti dari Pennington Biomedical Research Center menyatakan, makan dalam rentang waktu lebih singkat dari biasanya dapat membantu mengendalikan berat badan atau mencegah kelebihan berat badan. Peserta riset yang makan lebih awal mengalami tingkat rasa lapar lebih stabil dibandingkan mereka yang makan hingga pukul 20.00.

Para peneliti berangkat dari pemahaman bahwa tubuh memiliki jam biologis internal, dan fungsi metabolisme cenderung bekerja lebih optimal pada pagi hingga siang hari.

Sebelumnya, studi pada hewan pengerat menunjukkan pembatasan makan di awal waktu dapat menurunkan massa lemak dan risiko penyakit kronis. Uji coba pada manusia ini dilakukan untuk melihat apakah temuan serupa berlaku pada metabolisme manusia.

Penelitian ini mengkaji pembatasan waktu makan dini atau early time-restricted feeding (eTRF). Dalam skema eTRF, peserta mengonsumsi makanan antara pukul 08.00 hingga 14.00, kemudian berpuasa selama sekitar 18 jam hingga keesokan paginya. Pola ini berbeda dengan kebiasaan umum yang memperpanjang waktu makan hingga malam hari.

Sebanyak 11 pria dan perempuan dengan kelebihan berat badan mengikuti dua pola makan berbeda, masing-masing selama empat hari. Dalam kedua skema tersebut, jumlah kalori yang dikonsumsi tetap sama guna memastikan bahwa variabel yang diuji semata-mata adalah waktu makan.

Baca JugaMengatur Makan di Malam Hari untuk Kesehatan

Hasilnya menunjukkan, eTRF tidak meningkatkan total kalori yang dibakar, tetapi mampu meningkatkan pembakaran lemak pada malam hari serta memperbaiki fleksibilitas metabolisme. Fleksibilitas ini merujuk pada kemampuan tubuh beralih antara membakar karbohidrat dan lemak sebagai sumber energi.

Meski demikian, para peneliti menekankan dampak jangka panjang terhadap penurunan berat badan masih memerlukan studi lanjutan. Namun temuan awal ini memperkuat bukti bahwa waktu makan memengaruhi metabolisme dan berpotensi menjadi pendekatan baru dalam pencegahan obesitas.

Manfaat bagi kesehatan jantung

Sementara itu, hasil studi terbaru menunjukkan bahwa menghentikan makan setidaknya tiga jam sebelum tidur juga dapat memberikan manfaat nyata bagi kesehatan jantung. Pengaturan waktu makan yang selaras dengan siklus tidur-bangun alami tubuh terbukti memperbaiki sejumlah penanda kardiometabolik tanpa harus mengurangi asupan kalori.

Studi tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari Northwestern Medicine, Amerika Serikat. Studi yang dipublikasikan di jurnal Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology, 12 Februari 2026, ini menguji apakah perpanjangan waktu puasa semalaman dapat meningkatkan fungsi kardiovaskular dan metabolisme.

Ketiga sistem tersebut bekerja bersama dalam melindungi kesehatan kardiovaskular.

Fokus penelitian bukan pada jumlah kalori, melainkan pada penyesuaian waktu makan terhadap ritme sirkadian. Ritme sirkadian berperan penting dalam mengatur tekanan darah, detak jantung, serta pengolahan gula darah. Ketika waktu makan diselaraskan dengan ritme biologis tersebut, koordinasi antara jantung, metabolisme, dan tidur menjadi lebih optimal.

Profesor riset neurologi dari Northwestern University Feinberg School of Medicine, Daniela Grimaldi mengemukakan, penyelarasan periode puasa dengan ritme bangun-tidur alami tubuh dapat meningkatkan koordinasi antara sistem jantung dan metabolisme.

“Ketiga sistem tersebut bekerja bersama dalam melindungi kesehatan kardiovaskular,” ujar Grimaldi yang juga penulis utama studi tersebut seperti dikutip dari situs resmi Northwestern University, pada Rabu (18/2/2026).

Penelitian ini berlangsung selama 7,5 minggu dan melibatkan 39 orang dewasa dengan kelebihan berat badan atau obesitas berusia 36 hingga 75 tahun. Peserta dibagi ke dalam kelompok yang berpuasa 13 hingga 16 jam setiap malam dan kelompok kontrol yang berpuasa 11 hingga 13 jam.

Baca JugaWaktu Makan Menentukan Kesehatan

Studi tersebut menemukan bahwa orang dewasa paruh baya hingga lanjut usia yang berisiko tinggi mengalami penyakit kardiometabolik memperoleh manfaat dari memperpanjang waktu puasa semalaman sekitar dua jam. Mereka juga diminta menghindari makanan dan meredupkan lampu selama tiga jam sebelum waktu tidur.

Hasilnya menunjukkan perbaikan terukur pada berbagai penanda kesehatan jantung dan metabolisme, baik selama tidur maupun pada hari berikutnya. Tekanan darah dan detak jantung menunjukkan pola harian yang lebih sehat setelah intervensi dilakukan.

Kelompok yang menghentikan makan setidaknya tiga jam sebelum tidur mengalami penurunan tekanan darah malam hari sebesar 3,5 persen dan penurunan detak jantung sebesar 5 persen. Selain itu, kontrol gula darah pada siang hari juga membaik, ditandai dengan respons pankreas yang lebih efektif dalam melepaskan insulin.

Phyllis Zee yang memimpin pusat kedokteran sirkadian dan tidur menekankan pentingnya waktu makan relatif terhadap waktu tidur. Ia menilai manfaat diet terbatas waktu tidak hanya ditentukan oleh jenis dan jumlah makanan, tetapi juga kapan makanan dikonsumsi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Antara Prosedur dan Substansi: Demokrasi di Wilayah Abu-Abu
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
LPS Bayarkan Klaim Simpanan BPR Cirebon Rp89,5 Miliar
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
AKBP Didik, eks Kapolres Bima Kota Bakal Disidang Etik Terkait 2 Kasus Narkoba
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Meksiko Tolak Keanggotaan Penuh Dewan Perdamaian Gaza yang Digagas Trump
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kementrans Perkuat Pengembangan Kawasan Transmigrasi Barelang Dukung Kesejahteraan Warga
• 6 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.