FAJAR, JAKARTA – Seorang mahasiswi akhirnya angkat bicara. Dengan tegas berani bersumpah bahwa dirinya bukanlah pemeran dalam video viral KKN 17 Menit yang tengah menghebohkan Telegram dan media sosial.
Meski tautan video dengan embel-embel Teh Pucuk tersebar masif, hasil verifikasi menunjukkan bahwa narasi tersebut merupakan hoaks lama. Sengaja diunggah kembali untuk menjebak warganet lewat konten clickbait.
Nama Anis Januar Putri mendadak terseret dalam pusaran isu miring setelah foto dan identitasnya dikaitkan dengan video asusila yang diklaim sebagai mahasiswa KKN di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak ingin fitnah berkembang liar, ia memberikan bantahan keras.
“Saya Anis Januar Putri, saya berani bersumpah bahwa orang di dalam video itu bukan saya,” ungkapnya dengan tegas seperti dilansir solobalapan.jawapos.com.
Perbedaan fisik, suara, hingga ciri visual antara dirinya dengan sosok dalam video tersebut dinilai sangat mencolok.
Pihak kampus melalui Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Universitas Mataram juga telah memastikan bahwa pemeran video tersebut bukan mahasiswa mereka.
“Kami menegaskan bahwa pemeran dalam video itu bukan mahasiswa Unram. Video tersebut sudah ada sejak September 2025 dan kejadiannya bukan di Lombok, melainkan di luar NTB,” ujar perwakilan Satgas PPKS.
Fakta di Balik Label Teh Pucuk
Frasa Teh Pucuk viral dan KKN 17 menit mendadak menjadi kata kunci paling dicari. Istilah ini muncul karena adanya botol minuman kemasan yang terlihat dalam potongan video pendek yang beredar di TikTok.
Namun, penelusuran lebih lanjut mengungkap fakta-fakta berikut:
Konten Lama: Video tersebut diketahui sudah beredar sejak September 2025.
Lokasi Salah: Kejadian aslinya dipastikan bukan terjadi di Lombok atau wilayah NTB lainnya.
Durasi Fiktif: Klaim “17 menit” diduga hanya strategi clickbait. Hingga kini, tidak ditemukan bukti autentik mengenai versi panjang video tersebut.
Bahaya Link Telegram dan Modus Phishing
Meningkatnya rasa penasaran publik dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan tautan berbahaya, terutama di grup-grup Telegram. Warganet diimbau waspada karena mayoritas link tersebut mengarah ke situs mencurigakan.
Modus yang sering ditemui antara lain:
Pencurian Data: Pengguna diminta login akun media sosial untuk melihat video.
Malware: Tautan otomatis mengunduh file berbahaya ke perangkat.
Iklan Berlebihan: Diarahkan ke situs judi online atau konten dewasa lainnya.
Setop Penyebaran Fitnah Digital
Fenomena ini menjadi pengingat keras akan bahaya literasi digital yang rendah. Narasi liar yang dibangun tanpa verifikasi tidak hanya merugikan reputasi individu yang dituduh, tetapi juga menghancurkan kondisi psikologis korban fitnah.
Pihak Satgas PPKS mengimbau masyarakat untuk berhenti berburu tautan ilegal dan tidak ikut menyebarkan konten yang belum terbukti kebenarannya.
“Video ini sudah diklarifikasi sebagai konten lama dari luar daerah, jadi mari berhenti mengaitkannya dengan mahasiswa kami,” pungkas perwakilan Satgas. (*)




