Pengeboran minyak Rusia mengalami penurunan sepanjang 2025. Tren ini merupakan yang terparah dalam tiga tahun terakhir.
Dikutip dari Bloomberg, Kamis (19/2), turunnya pengeboran minyak Rusia karena sanksi dari negara barat dan naiknya mata uang rubel yang menggerus pendapatan dari minyak.
Sepanjang 2025, perusahaan minyak Rusia hanya mengebor 29.140 kilometer sumur produksi. Angka ini turun 3,4 persen dibanding tahun 2024.
“Produksi Rusia sangat mirip dengan shale AS, di mana pertumbuhan dan penurunan output seperti gema dari jumlah pengeboran beberapa bulan sebelumnya,” kata Sergey Vakulenko, peneliti di Carnegie Endowment for International Peace yang pernah satu dekade menjadi eksekutif di perusahaan minyak Rusia.
Walau sempat mencapai rekor pada awal 2025, pengeboran justru melambat pada Juni lalu dan merosot sekitar 16 persen pada Desember 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena produksi minyak Rusia ditekan oleh harga minyak global yang lebih rendah dan penetapan harga diskon yang makin dalam atas minyak Rusia akibat pengetatan sanksi negara barat.
Harga minyak Urals yang merupakan minyak campuran utama ekspor Rusia turun menjadi USD 39,18 per barel pada Desember 2025 untuk keperluan pajak atau anjlok 42 persen dibanding Januari 2025 usai AS memasukkan Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC ke daftar hitam. Diskon Urals terhadap acuan Brent juga melebar menjadi sekitar USD 27 per barel untuk ekspor pada Desember atau menjadi lebih dari dua kali lipat dibanding awal.
Sementara di saat yang sama, rubel menguat hampir seperempat terhadap dolar AS seiring suku bunga acuan bank sentral Rusia bertahan mendekati rekor tertinggi.
“Semua faktor ini menurunkan nilai kini bersih berbasis rubel dari sumur prospektif sehingga perusahaan (minyak Rusia) mengurangi pengeboran,” ujar Vakulenko.
Pada Januari ini, produksi minyak mentah Rusia rata-rata berada pada 9,246 juta barel per hari atau 328.000 barel di bawah kuota bulanan dalam kesepakatan OPEC+. Jika produksi terus turun, Rusia berisiko kehilangan pangsa pasar global ke sekutu OPEC+.
Menurut estimasi Kasatkin Consulting, tahun ini produksi minyak mentah Rusia memang diperkirakan sedikit turun, namun peningkatan produksi kondensat minyak ringan akan menutup penurunan tersebut sehingga total output setara dengan level 2024, yakni 516 juta ton. Angka itu setara 10,36 juta barel per hari dengan konversi 7,33 barel per ton, dibandingkan 10,28 juta barel per hari tahun lalu.





