Anis Hunowu (72) termasuk beruntung masih hidup setelah banjir menerjang rumahnya di Sario Utara, Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (14/2/2026) sore. Ia terpeleset dua kali ketika hendak menutupi celah-celah pintu rumahnya dengan kain untuk menghentikan arus air yang sudah terlanjur merembes deras ke dalam dari luapan parit di dekat rumahnya.
Ia terjatuh di ruang makan, lalu terjatuh lagi di teras samping rumah yang telah tergenang air setelah menjebol undakan plaster di pintu yang mengarah ke selokan di belakang rumahnya. Dua kali pula kepalanya membentur lantai ubin keramik yang keras.
“Ada anak saya yang bantu angkat. Untungnya (keadaan) bae-bae, tapi sekarang kepala saya masih rasa nda enak di sini, gara-gara tatoki (terbentur),” kata Anis ketika ditemui di halaman rumahnya pada Kamis (19/2/2026), lima hari setelah musibah itu.
Tak jauh dari rumahnya, seorang pria 67 tahun bernama Joktan Tatimu terpeleset saat sedang memindahkan perabotan di rumahnya untuk mengantisipasi dampak banjir yang sudah pasti masuk ke rumah. Menurut keterangan Kepolisian Sektor Sario, ia dibawa ke RS Bhayangkara Manado, tetapi nyawanya tak tertolong.
Hari itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menerbitkan peringatan untuk wilayah Sulut. Sembilan kabupaten/kota, termasuk Manado disarankan waspada hujan berintensitas sedang hingga lebat.
Menurut Anis, sebelumnya hujan turun hampir setiap hari dan memuncak pada Sabtu. “Sekitar hampir satu jam itu deras sekali, sekalian dengan angin (kencang) juga. Sekitar jam 15.00, itu air sudah naik di jalan dan masuk ke pekarangan rumah warga,” katanya.
Alhasil, genangan sekitar 30 sentimeter masuk ke rumahnya, tetapi Anis bilang tidak sampai merusak perabotan apa pun. Ia mengatakan, keluarganya sudah belajar dari pengalaman menjadi korban banjir bandang pada 2014 ketika air dan lumpur setinggi 1,5 meter menggenangi rumah yang telah ia tempati sejak 1979 itu.
“Kemarin nda evakuasi barang-barang, sih. Tapi memang ada salon (pelantang musik) yang ditaruh di lantai, jadi musti angkat,” ucapnya.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manado, di Lingkungan 1 Kelurahan Sario Utara saja ada 117 orang dari 40 keluarga yang terdampak genangan air. Di Kelurahan Singkil II dan Taas, longsor merusak masing-masing satu rumah. Secara keseluruhan, sebanyak 10 dari 87 kelurahan tergenang banjir.
Sementara itu, Ivon (59), warga Kelurahan Sario, mengatakan, rumahnya yang terletak di simpang empat yang menghubungkan Kelurahan Sario, Sario Kotabaru, dan Sario Utara tergenang air setinggi 30 sentimeter juga. “Sampai segini,” ujarnya sambil menunjuk betisnya, tak sampai sejengkal dari mata kaki.
Meski begitu, ia tetap bersyukur karena banjir kali ini tidak bercampur lumpur seperti pada 2014, sehingga mudah dibersihkan dan dikeringkan. Menurut Ivon, banjir pada 2014 juga mengajarkan langkah-langkah untuk mengantisipasi banjir.
“Itu barang-barang yang mo mengapung torang so angkat. Kulkas taruh di (lantai) atas, terus angkat kursi-kursi, pokoknya barang-barang yang kita boleh kase nae,” kata dia, sembari menambahkan bahwa sofanya hanya terendam di kaki-kaki, tak sampai ke bantalannya.
Trik-trik yang membentuk ketangguhan atau kebiasaan Anis dan Ivon dalam menghadapi banjir tidak hanya berasal dari pengalaman rumah kemasukan terjangan air. Sebab, meski diwawancarai terpisah, keduanya mengaku hanya pernah mengalami rumah kebanjiran sebanyak dua kali, yaitu pada 2014 dan baru-baru ini pada 2026.
Karena itu, Anis yang adalah pensiunan pegawai negeri tak melihat alasan untuk pindah rumah. “Torang 12 tahun baru kemasukan air lagi. Kalau di Jakarta, kan, bisa setahun dua kali,” katanya.
Lagipula, terkena banjir secara rutin tak berarti pemerintah akan datang membantu. Ivon mengatakan, kepala lingkungan tempatnya tinggal sempat melihat keadaan rumah, tetapi tidak dapat mengupayakan bantuan karena banjir kali ini disebabkan oleh faktor alam.
Anis juga mengaku tak mau mengharapkan bantuan dari pemerintah setelah belajar dari banjir 2014. “Kalau saya nda ngamuk karena yang lain dapat Rp 40 juta, nda akan dapat bantuan. Itu pun cuma Rp 3,5 juta,” katanya sembari mengaku telah mengeluarkan uang Rp 50 juta untuk perbaikan rumah.
Hal ini pula yang ditemukan oleh antropolog Belanda, Roanne van Voorst. Dalam bukunya Tempat Terbaik di Dunia yang terbit pada 2018, ia menyebut orang Indonesia, terutama yang miskin, tak dapat bersandar pada jaring pengaman sosial dari pemerintah.
“Jika mereka jatuh sakit, rumahnya kebanjiran, perabotannya dihanyutkan banjir, mereka harus menemukan cara sendiri untuk menyelesaikan masalah keuangannya,” tulis van Voorst.
Di tengah keadaan ini, Anis mengatakan, dirinya hanya berharap pemerintah menertibkan rumah-rumah yang dibangun secara sembarangan di dekat sungai sehingga mempersempit alirannya. Lagipula, menurut dia, lebih baik memperbaiki infrastruktur publik ketimbang memberi bantuan sosial yang tak seberapa terus menerus.
Untuk sementara, Pemkot Manado gencar mengambil langkah-langkah pencegahan banjir dengan intensifikasi komunikasi melalui media sosial. Laman Facebook pemkot digunakan untuk menyiarkan secara langsung situasi pos pemantau banjir di Kelurahan Dendengan Luar sehingga masyarakat bisa melihat langsung ketinggian air sungai dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Langkah preventif lainnya adalah dengan menerbitkan imbauan melalui media sosial seperti Instagram. Pada Sabtu lalu, misalnya, Pemkot Manado mengingatkan agar warga yang tinggal di daerah Sungai meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana banjir dan segera mengungsi bila permukaan air Sungai mulai meningkat dan mendekati level berbahaya.
Warga yang tinggal di lereng-lereng curam atau tebing juga diingatkan agar segera mengungsi bila permukaan tanah mulai lembek. Aparat pemerintah di tingkat kecamatan, kelurahan, dan lingkungan pun diimbau untuk berpatroli dan mengingatkan bahaya bencana yang mungkin mengintai.
Setelah banjir surut, menurut keterangan BPBD, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Kepolisian Daerah Sulut, Kepolisian Resor Kota Manado, dan dinas-dinas terkait lainnya turut serta dalam upaya pembersihan dampak banjir.





