Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan Indonesia meniadakan bea masuk untuk beberapa komoditas asal Amerika Serikat (AS), termasuk produk pertanian.
Budi mengatakan semua produk yang diimpor dari AS merupakan produk yang dibutuhkan oleh Indonesia, sebab lebih banyak bahan baku yang tidak dimiliki Indonesia.
“Memang kita butuhkan, karena kebanyakan bahan baku. Kedelai kita juga butuh, kita impor terbesar dari Amerika. Kalau kita nggak mempermudah itu justru menyusahkan industri kita. Gandum juga kita butuh, kita butuh banyak. Yang kita nggak punya,” kata Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Jumat (20/2).
Budi menyebutkan jika bahan baku mudah diimpor dan dengan harga terjangkau, biaya produksi menjadi lebih murah juga. Dengan demikian tidak akan mengerek harga jual.
“Jadi saya kira nggak masalah, ya justru harus begitu malah. Biar industri kita bisa berjalan. Caranya untuk murah ya dipermudah. Biar kita nggak belinya mahal. Nah kalau kita beli mahal nanti harga makanan mahal juga,” tuturnya.
Sebelumnya Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia memberikan tarif 0 persen atau bebas bea masuk untuk produk pertanian Amerika Serikat (AS).
Airlangga menyebutkan salah satu komoditas yang banyak diimpor oleh Indonesia dari AS adalah kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu. Selain itu, bahan baku mi yaitu gandum untuk tepung terigu yang juga dibebaskan bea masuk.
“Sehingga masyarakat Indonesia membayar 0 persen untuk barang yang diproduksi dari soya bean ataupun wheat, dalam hal ini noodle ataupun dalam bentuk tahu dan tempe,” tutur Airlangga dalam konferensi pers secara daring, Jumat (20/2).
Dengan demikian masyarakat Indonesia yang akan mengimpor produk pertanian termasuk kacang kedelai dan gandum tidak akan dikenakan bea masuk dan tidak akan berdampak pada harga produk turunannya.





