JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah dominasi ojek onlinedan angkutan bermotor lainnya, moda transportasi tradisional becak kayuh masih bertahan di sejumlah wilayah padat, salah satunya Pasar Senen, Jakarta Pusat.
Namun, di balik nuansa nostalgia yang melekat, keberadaan becak memunculkan perdebatan mengenai relevansi, aspek kemanusiaan, hingga legalitasnya di Ibu Kota.
Pengamat transportasi, Deddy Herlambang, menilai becak kayuh tidak lagi relevan dengan perkembangan transportasi perkotaan modern.
Baca juga: Remaja Laki-laki di Tangsel Jadi Tersangka Pencabulan 3 Bocah Sesama Jenis
“Kalau melihat kondisi sekarang, becak itu sudah tidak diperlukan lagi karena sudah marak ojek online dan bajaj. Bahkan kalau di DKI ada bajaj online mungkin lebih efektif,” ujar Deddy saat dihubungi, Senin (23/2/2026).
Menurut dia, perubahan pola mobilitas masyarakat di Jakarta sudah sangat dipengaruhi teknologi digital.
KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Susanto (56), yang akrab disapa Yanto, pengemudi becak selama 40 tahun di Pasar Sene, Jakarta Pusat. Jumat (20/2/2026)
Pemesanan transportasi kini mengandalkan aplikasi, sehingga kecepatan, kemudahan akses, dan integrasi sistem menjadi faktor utama.
Deddy juga menyoroti aspek kemanusiaan dalam penggunaan becak yang digerakkan tenaga manusia.
Menurut dia, pada era modern dengan perkembangan mesin dan baterai, penggunaan tenaga manusia sebagai penggerak utama transportasi tidak lagi sejalan dengan prinsip kehidupan manusia saat ini.
“Kalau becak listrik mungkin masih relevan untuk era digital saat ini. Tapi kalau becak dikayuh manusia, itu sudah tidak relevan lagi karena tidak menghormati martabat manusia di era modernitas,” kata dia.
Ia menambahkan, sekitar 50 tahun lalu kondisi transportasi sangat jauh berbeda dengan saat ini.
“Mungkin 50 tahun lalu (becak) masih dibutuhkan karena belum ada mesin dan baterai. Tapi sekarang sudah berbeda,” ucap Deddy.
Dari sisi operasional, Deddy menilai becak juga memiliki keterbatasan signifikan. Tantangan utamanya, kata dia, adalah tidak bisa dipesan secara daring.
Selain itu, kecepatan becak yang dikayuh manusia relatif lambat.
Baca juga: Jalan Rusak Pasar Kemis Makan Korban, Perbaikan Pemkab Disebut Hanya Tambal Sulam
“Kalau lambat tentu akan menambah kemacetan lalu lintas. Di kota seperti Jakarta yang sudah padat, itu jadi persoalan tersendiri,” ujar dia.