Perkembangan ini merupakan kelanjutan proses akuisisi yang telah disampaikan perseroan sebelumnya pada November 2025 lalu.
IDXChannel - PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) baru saja mengonfirmasi rampungnya proses penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) antara sejumlah pemegang saham eksistingnya dengan perusahaan Hong Kong, Dragonmine Mining Limited.
Konfirmasi tersebut disampaikan manajemen BLUE lewat keterbukaan informasi Perseroan, yang diterbitkan Kamis (19/2/2026), di mana Dragonmine Mining berencana membeli 334,4 juta saham BLUE, atau setara 80 persen dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.
Perkembangan ini merupakan kelanjutan proses akuisisi yang telah disampaikan perseroan sebelumnya pada November 2025 lalu. Dengan bakal tampilnya Dragonmine sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) Perseroan, kalangan pelaku pasar pun mulai mencermati sejumlah peluang yang berpotensi terjadi ke depan.
Salah satunya terkait opsi diubahnya kegiatan bisnis utama (core business) Perseroan, yang selama ini dikenal sebagai produsen tinta merek Blueprint.
"Memang ada potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali. Langkah ini berpotensi dapat memperbaiki kinerja perusahaan dengan performa rendah di Bursa Efek Indonesia pada masa di mana pengawasan masih minim, sehingga memungkinkan perusahaan dengan kualitas yang lebih baik untuk masuk melalui skema backdoor listing," ujar Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, dalam keterangan resminya, Senin (23/2/2026).
Selain itu, Ezaridho juga mempertimbangkan bahwa BEI juga telah merilis regulasi baru yang memungkinkan perusahaan tercatat untuk mengubah kode saham (ticker) mereka. Sebagai referensi, sekitar 30 persen dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih.
"Maka dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO," ujar Ezar.
Dengan adanya potensi kemacetan tersebut, maka peluang untuk terjadinya backdoor listing juga makin terbuka lebar, yaitu dengan mengambil alih perusahaan yang sebelumnya telah listing, kemudian dilakukan perubahan core business menyesuaikan sektor usaha yang sebelumnya telah digeluti oleh pemegang saham pengendali.
Sebagai informasi, jika dilihat dari profil Dragonmine Mining yang merupakan perusahaan private berkantor pusat di Hong Kong, pemiliknya adalah Huayou Hongkong Limited.
Meski pihak BLUE belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait identitas Dragonmine Mining, namun berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co.,Ltd, yang difokuskan sebagai unit investasi luar negeri di bidang pertambangan dan mineral.
Huayou memiliki lima pilar bisnis utama yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, di mana industri nikel Indonesia menjadi salah satu sektor strategisnya.
Perusahaan asal China tersebut makin ekspansif di Indonesia dalam mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui Proyek Titan yang bekerjasama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Langkah Dragonmine terhadap BLUE bukanlah fenomena tunggal. Untuk memahami masa depan BLUE, dapat dilihat dari apa yang dilakukan CNGR Advanced Material Co. saat menguasai saham PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK), dan lalu mengubahnya menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk
Mengingat Dragonmine dimiliki secara langsung oleh Huayou yang sudah memiliki investasi miliaran dolar di Morowali dan Pomalaa, transmisi aset nikel ke dalam BLUE diprediksi tinggal menunggu waktu.
Pergerakan harga saham BLUE melonjak signifikan dengan kenaikan 117 persen year to date dan hampir 1.900 persen dalam setahun. Namun harga saham BLUE sempat terkoreksi ditengah kondisi pasar yang volatile saat mengumumkan fakta CSPA ini.
Bagi raksasa global seperti Huayou dan CNGR, mengakuisisi emiten dengan kapitalisasi pasar kecil seperti BLUE dan PACK, menawarkan jalur ekspres ketimbang melakukan IPO dari nol yang memakan waktu lama.
"Mereka menggunakan perusahaan listing agar dapat menarik modal dari investor lokal dan institusi melalui Rights Issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia," ujar Ezaridho.
Keberadaan entitas publik di BEI sendiri diyakini dapat membantu meningkatkan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi lokal, serta memperkuat profil ESG (Environmental, Social, and Governance) di mata investor global.
Aksi Dragonmine di BLUE menegaskan bahwa Indonesia bukan lagi sekadar penyedia bahan mentah, melainkan pusat finansial bagi raksasa energi hijau dunia.
(taufan sukma)





