Keterjagaan Jasad Firaun: Tantangan Al-Quran Berusia 1.400 Tahun

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Beberapa penelitian menyatakan sudah menemukan jasad Firaun yang digambarkan Al-Quran tenggelam di laut.

Salah satunya penelitian medis yang dilakukan Dr. Maurice Bucaille (1975) yang menemukan sisa garam tinggi pada jasad Ramses II yang diyakini menurut beberapa penelitian sebagai Firaun. Hal ini merupakan indikator kematian jasad tersebut akibat tenggelam di laut.

Al-Quran memberikan jaminan bahwa jasad Firaun akan dijaga keberadaannya oleh Allah SWT sampai akhir zaman, sebagai pelajaran bagi umat manusia.

Jaminan ini pada saat bersamaan sebenarnya juga dapat dimaknai sebagai tantangan kepada siapa pun yang meragukan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu Allah SWT. Tantangan itu berlaku sampai hari kiamat.

Tantangan serupa pernah dilakukan Al-Quran kepada Abu Lahab dan istrinya serta masyarakat Quraisy yang menolak kerasulan Nabi Muhammad saat Rasulullah masih hidup.

Analogi Abu Lahab

Al-Quran secara implisit menyatakan Abu Lahab dan istrinya tidak akan pernah masuk Islam dan akan meninggal dalam keadaan tidak beragama Islam.

Surah Al-Quran yang menyatakan itu turun pada saat Abu Lahab dan istrinya masih hidup. Bahkan beberapa tahun setelah surah tersebut turun, Abu Lahab dan istrinya masih hidup.

Mengikuti pikiran dan logika manusia yang terbatas, bukankah mudah saja bagi Abu Lahab dan istrinya membuktikan ketidakbenaran surah Al-Lahab tersebut? Bukankah jika Abu Lahab dan/atau istrinya masuk Islam, maka QS. Al-Lahab akan terbukti tidak benar?

Jangankan satu surah, bahkan jika satu ayat Al-Quran saja dapat dibuktikan tidak benar maka tidak benarlah seluruh isi Al-Quran sebagai firman Allah SWT, Tuhan Sekalian Alam Yang Maha Benar.

Toh, hingga akhir hayatnya, setiap detik kehidupannya, setiap tarikan napasnya, dan setiap aktivitasnya bersama istrinya justru membuktikan kebenaran seluruh isi QS. Al-Lahab tersebut.

Seperti halnya janji Allah SWT mengenai Abu Lahab yang tak dapat dibantah oleh manusia, prinsip yang sama berlaku pada keterjagaan jasad Firaun. Allah menjamin keterjagaan jasad Firaun sebagai pelajaran bagi umat manusia, yang hingga kini tetap terpelihara, yang menegaskan kebenaran firman-Nya.

Tantangan Firaun

Bukankah sangat mudah bagi siapa pun, apalagi saat zaman kecerdasan buatan ini, jika menggunakan logika manusia yang terbatas, untuk membuktikan ketidakbenaran jaminan Al-Quran tersebut? Dan membuktikan ketidakbenarannya pun tidak perlu dengan menggunakan argumentasi akademik yang kuat dan berbelit.

Cukup dengan melakukan tindakan yang berakibat menegasikan ketidakterjagaan jasad Firaun, maka terbuktilah ketidakbenaran salah satu ayat Al-Quran yaitu QS Yunus: 92, yang berbunyi:

Namun demikian, di kalangan ilmuwan dan sejarawan memang terdapat perbedaan pendapat mengenai identitas historis Firaun yang dimaksud dalam Al-Qur’an, termasuk apakah jasad yang kini tersimpan dan diteliti benar-benar merujuk pada figur tersebut.

Firaun bukanlah nama orang tetapi gelar penguasa absolut Mesir zaman Nabi Musa AS diutus sebagai Nabi dan Rasul.

Demikian pula, frasa “Kami selamatkan jasadmu” dalam QS Yunus: 92 dapat dipahami dalam berbagai dimensi tafsir, baik sebagai penyelamatan dari laut agar terlihat oleh kaumnya, maupun sebagai bentuk keterjagaan hingga menjadi pelajaran lintas zaman.

Namun, terlepas dari perbedaan identifikasi historis maupun penafsiran detailnya, fakta bahwa narasi Al-Qur’an menyatakan adanya keterjagaan jasad sebagai tanda bagi generasi setelahnya tetap berdiri sebagai klaim teologis yang terbuka untuk diuji dalam realitas dan lintasan sejarah sepanjang masa menggunakan pendekatan keilmuan apa pun.

Hal ini menarik bagi rasionalitas saya, karena justru dalam ruang perdebatan itulah, klaim Al-Qur’an menunjukkan keberaniannya sebagai teks yang tidak takut diuji oleh waktu dan penelitian manusia sepanjang masa sampai hari kiamat nanti.

Bahkan jika seluruh makhluk bersatu pun, pasti tidak akan dapat melawan jaminan Allah SWT. Sesederhana apa pun kelihatannya untuk mematahkan jaminan tersebut. Bukankah jika suatu jaminan mengatasnamakan Tuhan Semesta Alam dapat dibuktikan ketidakbenarannya, maka penjamin tidak layak disebut Tuhan sekalian alam?

Sampai saat ini, setelah 1.400 tahun berlalu semenjak diturunkan, tak seorang pun di dunia ini yang dapat mematahkan jaminan keterjagaan jasad Firaun yang sekaligus merupakan bukti ketidakbenaran QS. Yunus: 92.

Kontemplasi

Maka, bukti dan tantangan apa lagi yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran Al-Quran sebagai kitab suci agama Islam?

Tantangan yang sangat sederhana saja tidak mampu dilawan oleh manusia, apalagi tantangan yang besar seperti membuat satu surat yang dapat menandingi salah satu surah Al-Quran.

Seperti tantangan langsung dan vulgar dengan kebolehan bersekutu dengan selain Allah untuk menjawab tantangan itu sebagaimana tertulis dalam QS Al-Baqarah: 23-24.

Sebagai penutup, tulisan ini bukan untuk memaksa keyakinan, melainkan untuk mengajak merenungkan keberanian teks suci Al-Quran menghadapi waktu.

Semoga nikmat Islam dan nikmat iman yang telah disemayamkan Allah SWT dalam kalbu kita senantiasa dijaga dan ditingkatkan-Nya menuju muttaqin melalui momentum puasa Ramadan 1447 H ini, allahumma aamiin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terjerat Kasus Korupsi Kuota Haji, Yaqut: Ini Pelajaran bagi Tiap Pemimpin
• 1 jam laludetik.com
thumb
Wanita Viral Berulang Kali karena Tak Mau Bayar Makan, Polisi Lempar Bola ke Dinsos
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Gerombolan Pemotor yang Bikin Konten Terobos JLNT Casablanca Ditangkap
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Tanpa Repot-repot Naturalisasi, 4 Wajah Baru Ini Bisa Langsung Dipanggil John Herdman ke Timnas Indonesia
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Prediksi Malut United Vs Persija di BRI Super League: Semakin Panas di Papan Atas
• 9 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.