EtIndonesia. Dalam kurun waktu 24 jam, Iran menghadapi rangkaian peristiwa dramatis yang dinilai sebagai momen paling berbahaya sejak Revolusi Islam 1979. Peristiwa yang terjadi pada 21–22 Februari 2026 itu mencakup pergeseran kekuasaan di tingkat tertinggi negara, ledakan di sejumlah fasilitas strategis, gelombang demonstrasi mahasiswa, hingga dinamika regional yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.
Situasi berkembang sangat cepat dan terjadi hampir bersamaan, memunculkan spekulasi luas tentang arah masa depan Republik Islam tersebut.
22 Februari 2026: Pergeseran Kekuasaan di Puncak Kepemimpinan
Pada Sabtu, 22 Februari 2026, beredar laporan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei (86), secara substantif telah menyerahkan wewenang operasional kepada Ali Larijani, yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh senior keamanan nasional dan mantan komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Sumber internal menyebutkan bahwa Larijani kini secara de facto mengendalikan sektor keamanan, militer, dan diplomasi strategis Iran. Pergeseran ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan ancaman konflik regional.
Langkah tersebut tidak dipandang sebagai rotasi jabatan biasa, melainkan sebagai konsolidasi kekuasaan dalam konteks kesiapsiagaan perang. Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang selama ini dikenal sebagai figur moderat, disebut semakin terpinggirkan dalam pengambilan keputusan strategis.
Sistem Suksesi Empat Lapis
Bersamaan dengan pergeseran kekuasaan, Khamenei dilaporkan mengeluarkan instruksi agar setiap jabatan kunci militer dan pemerintahan memiliki empat lapis urutan suksesi. Artinya, apabila pejabat utama gugur, pengganti telah ditentukan hingga tiga tingkat berikutnya.
Langkah ini dinilai sebagai antisipasi terhadap kemungkinan serangan presisi yang menargetkan pucuk pimpinan negara. Kebijakan tersebut sekaligus menunjukkan tingkat kewaspadaan dan kekhawatiran tinggi di dalam struktur kekuasaan Teheran.
22 Februari 2026: Ledakan di Parand dan Khorramabad
Beberapa jam setelah laporan pergeseran kekuasaan mencuat, wilayah Parand di Provinsi Teheran diguncang ledakan beruntun pada Sabtu malam, 22 Februari 2026.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap tebal membumbung tinggi. Listrik di sebagian wilayah Parand dilaporkan padam total. Kawasan tersebut selama ini kerap dikaitkan dengan fasilitas bawah tanah milik IRGC, termasuk instalasi rudal dan pusat komando.
Saksi mata mengaku mendengar suara pesawat jet tak dikenal sebelum ledakan terjadi. Pada hari yang sama, ledakan juga dilaporkan terjadi di pangkalan militer pegunungan dekat Khorramabad, Iran barat.
Hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai penyebab ledakan maupun pihak yang bertanggung jawab.
21 Februari 2026: Gelombang Protes Mahasiswa Menguat
Sehari sebelumnya, Jumat 21 Februari 2026, sejumlah universitas terkemuka di Iran kembali dilanda demonstrasi besar.
Di Sharif University of Technology, mahasiswa meneriakkan slogan-slogan keras, termasuk seruan yang secara langsung menentang kepemimpinan negara. Di Amirkabir University of Technology, demonstran mengkritik keras elite keagamaan dan struktur kekuasaan.
Sejumlah mahasiswa terlihat mengangkat kertas putih sebagai simbol protes—taktik yang pernah muncul dalam gerakan perlawanan tanpa slogan tertulis.
Aparat keamanan kembali diterjunkan untuk mengendalikan situasi. Laporan di lapangan menyebut terjadi bentrokan sporadis, meski belum ada data resmi mengenai jumlah korban atau penangkapan.
Dinamika Perbatasan dan Ancaman Internal
Di wilayah perbatasan barat Iran, beberapa faksi politik Kurdi dilaporkan membentuk aliansi baru dan menyatukan kekuatan bersenjata mereka. Pernyataan bersama yang beredar menyebut kesiapan untuk mendukung gerakan protes nasional apabila situasi memburuk.
Pengamat menilai skenario “tekanan dari dalam dan luar” merupakan tantangan paling kompleks bagi stabilitas rezim.
21 Februari 2026: Serangan Israel ke Baalbek
Pada malam 21 Februari 2026, militer Israel melancarkan serangan presisi ke struktur komando pasukan rudal Hizbullah di Baalbek, Lebanon.
Laporan awal menyebut delapan perwira kunci tewas dalam serangan tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya melemahkan proksi utama Iran di perbatasan Israel serta mengurangi potensi ancaman rudal balasan.
22 Februari 2026: Insiden Keamanan di Mar-a-Lago
Di Amerika Serikat, Sabtu 22 Februari 2026, terjadi insiden keamanan di kediaman Presiden Donald Trump di Mar-a-Lago, Florida. Seorang pria bersenjata berusia 21 tahun berhasil menembus perimeter keamanan sebelum akhirnya ditembak mati aparat. Trump tidak berada di lokasi saat kejadian.
Insiden ini memicu kembali perdebatan politik domestik menjelang pemilu sela 2026, di tengah meningkatnya polarisasi nasional.
Dunia Menuju Fase Ketidakpastian
Rangkaian peristiwa 21–22 Februari 2026 menunjukkan meningkatnya ketegangan regional dan global secara simultan. Di Iran, konsolidasi kekuasaan militer, ledakan di fasilitas strategis, serta demonstrasi mahasiswa menciptakan kombinasi tekanan yang kompleks.
Di kawasan Timur Tengah, eskalasi antara Israel dan kelompok proksi Iran menambah risiko konflik terbuka. Sementara di Amerika Serikat, dinamika politik domestik turut memperumit lanskap global.
Situasi ini menempatkan Iran pada persimpangan sejarah yang sangat menentukan. Apakah langkah konsolidasi kekuasaan dan sistem suksesi berlapis mampu menjaga stabilitas, atau justru menandai fase baru dalam gejolak kawasan—pertanyaan tersebut kini menjadi sorotan utama komunitas internasional.
Perkembangan selanjutnya dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator penting arah stabilitas Timur Tengah dan dampaknya terhadap tatanan global.





