Siap Go Private, Indonet (EDGE) Ternyata Dikendalikan Miliarder Australia

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

PT Indointernet Tbk atau Indonet (EDGE) resmi mengajukan penghapusan pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

PT Indointernet Tbk atau Indonet (EDGE) resmi mengajukan penghapusan pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Indointernet Tbk atau Indonet (EDGE) resmi mengajukan penghapusan pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Keputusan tersebut sejalan dengan rencana perusahaan data center itu untuk menjadi perusahaan tertutup alias go private.

Langkah strategis tersebut dipilih setelah perseroan menggelar penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) pada 8 Februari 2021. Dengan kata lain, Indonet baru menjadi perusahaan terbuka pada lima tahun silam.

Baca Juga:
Indonet (EDGE) Ajukan Go Private, Baru IPO 5 Tahun Lalu

Hingga 31 Januari 2026, porsi free float EDGE sangat minim yakni hanya 7,9 persen dari total saham beredar. Artinya, 92,1 persen saham dikuasai pengendali lewat Digital Edge (Hong Kong) Ltd dan DIGITAL EDGE (HK) SPVI Lmited.

Dalam laporan keuangan Indonet, perseroan menyebut, entitas induk terakhir yang menjadi pengendali Digital Edge adalah DEA TopCo Limited Partnership. Namun, sesuai aturan baru soal Ultimate Benefial Ownership, penerima manfaat akhir Indonet adalah Michael Brian Dorrell alias Mike Dorrell.

Baca Juga:
Indonet (EDGE) Kembali Setor Modal Anak Usaha Rp283 Miliar untuk Bangun Data Center

Dorrell merupakan miliarder asal Australia yang memiliki private equity Stonepeak yang berbasis di New York, AS. Per September 2025, dana kelolaan Stonepeak mencapai USD84 miliar atau setara dengan Rp1.428 triliun.

Pria berusia 52 tahun merupakan lulusan University of South Wales, Sydney. Dia awalnya bekerja di bank investasi Macquarie Group pada 1998 sebelum akhirnya mendirikan Stonepeak bersama mitranya, Trent Vichie pada 2011.

Stonepeak mengelola aset milik investor dengan fokus pada bidang infrastruktur. Selain data center, portofolio Stonepeak menyebar di bidang energi, internet, hingga bandara khusus private jet

Dikutip dari Forbes, Selasa (24/2/2026), Stonepeak memilih bisnis infrastruktur yang menawarkan Internal Rate of Return (IRR) sekitar 12 persen, mencerminkan risiko yang relatif rendah dengan imbal hasil (return) yang stabil dan berkelanjutan. Strategi investasi ini berlawanan dengan private equity pada umumnya yang menawarkan return agresif di atas 20 persen.

Forbes mengestimasi kekayaan Dorrell mencapai USD8,5 miliar atau setara dengan Rp140 triliun. Dia juga dikabarkan membeli pulau pribadi di Palm Beach, Florida senilai USD150 juta.

Kini, Dorrell berencana untuk mengembalikan Indonet menjadi perusahaan tertutup. Sebagai bagian dari portofolio Stonepeak, langkah go private diambil untuk memuluskan proses integrasi antargrup dan pengambilan keputusan hingga penyelerasan keputusan yang strategis yang tidak dapat dilakukan secara optimal jika perseroan menjadi perusahaan terbuka.

Selain itu, manajemen Indonet juga menilai, saham EDGE di BEI tidak terlalu aktif diperdagangkan sehingga likuiditasnya sangat terbatas.

"Proses go private dan voluntary delisting juga memberikan kesempatan keluar yang adil dan teratur bagi pemegang saham publik," kata Direktur Utama Indonet, Andrew Joseph Rigoli.

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mau Ambil Sembako Subsidi KJP? Begini Cara Daftar Antriannya
• 3 menit lalumedcom.id
thumb
Pilu Ibu Kandung di Sukabumi Tahu Anak Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Kuasa Hukum Yaqut Tepis Dugaan Pembagian Kuota Haji Tambahan 50-50
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Trump Siapkan Strategi Baru Usai Tarif Dibatalkan Mahkamah Agung AS
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Kriminal kemarin, pegawai SPBU dianiaya hingga vonis Dirut PT. CAD
• 12 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.