Di atap gapura itu tertulis Kampung Nastar, yang menggambarkan sumber penghasilan para penghuninya. Tamu langsung disambut dengan sejumlah mural bertema kue kering begitu memasuki gang berpenduduk padat selebar tak lebih dari 3 meter, yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua itu.
Tak jauh dari gapura itu, terdapat Botisha Cookies, usaha kue kering rumahan yang sudah berdiri sejak tahun 1987. Dapur kerjanya menggunakan teras dan ruang dapur kering berukuran sekitar 6 meter x 4 meter.
Aroma wangi yang sudah tercium sejak masuk gapura tersebut berasal dari dapur Botisha yang sedang memanggang nastar dengan menggunakan oven sederhana. Beno, salah satu pekerjanya, sibuk mengecek kadar kematangan nastar yang dipanggang di dalam oven dengan menggunakan alat semacam garpu. ”Ini oven sederhana, tidak ada pengatur waktu dan pengatur suhunya. Jadi, setiap beberapa saat, harus cek tingkat kematangannya agar tidak gosong,” tutur Beno.
Sekali memanggang, ia bisa memasukkan enam loyang nastar ke dalam oven. Jika pantat nastar sudah mulai kecoklatan, itu artinya nastar sudah matang dan siap dikeluarkan dari oven. ”Enggak sampai lima menit untuk memanggang nastar ini,” ujarnya melanjutkan.
Sang pemilik usaha, Sudartati (64), sibuk mondar-mandir mengawasi pekerjanya dan sesekali membantu membawa loyang berisi adonan kue kering siap dipanggang untuk diserahkan ke Beno. Jika sedang sibuk menjelang Lebaran seperti ini, pekerja yang membantunya mencapai 23 orang. Sudartati dibantu putranya, Reza (38), mengawasi setiap proses pembuatan kue kering.
”Ya, begini kondisi Kampung Nastar kalau menjelang hari-hari besar seperti Lebaran,” kata Reza membuka percakapan.
Dalam kondisi ramai seperti saat ini, dalam sehari Botisha mampu membuat sekitar 300 toples kue kering dengan 18 jenis varian. Harganya yang ditawarkan per toples mulai dari Rp 68.000 hingga Rp 170.000.
”Kami mulai tancap gas sejak November lalu untuk memenuhi pesanan Natal, setelah itu sedikit santai sekitar 2 minggu, habis itu gas lagi lanjut Imlek dan sekarang memenuhi pesanan untuk Lebaran,” kata Reza.
Banyaknya UMKM kue kering di RT 005 RW 001, Kelurahan Larang Utara, Larangan, Kota Tangerang, ini menyebabkan kawasan tersebut dikenal dengan sebutan Kampung Nastar. Menurut Reza, ramainya usaha cemilan menjelang Lebaran ini juga dialami oleh pengusaha rumahan kue kering yang lain di kampung tersebut. Sedikitnya ada 10 tempat usaha kue kering di kampung ini.
Apa yang diutarakan Reza itu tecermin ketika melihat kesibukan yang juga terjadi di dapur Max Amazing Cookies milik Sri Kusmiati di Gang Merpati II. Menghadapi permintaan jelang Lebaran ini, rata-rata setiap hari, dengan dibantu 23 perkerjanya, Sri membuat adonan kue kering hingga 150 kilogram. Padahal, saat hari biasa, ia paling membuat 20-an kilogram adonan, Itu pun untuk stok selama beberapa hari.
”Saya sampai kewalahan memenuhi permintaan hotel, kemarin mereka mendadak minta 200 toples nastar. Saya hanya punya stok 150 toples, akhirnya kekurangannya varian kue kering jenis lain,” kata Sri
Sri yang mendirikan usaha kue keringnya sejak 1997 ini bahkan menyewa beberapa rumah di sekitar tempat tinggalnya sebagai tempat produksi dan menyimpan bahan.
Untuk harga, Sri mematok mulai dari Rp 35.000 per toples ukuran 250 gram hingga yang terbesar Rp 140.000. ”Kebanyakan yang mengambil barang di sini itu reseller. Sampai sekitar 100 reseller. Makanya, saya cukup produksi saja. Tetapi, kalau ada pelanggan yang langsung datang ke sini, tetap dilayani dengan harga pabrik,” kata Sri.
Menurut Sri, meskipun pesanan menumpuk, ia tetap melayani konsumen yang datang langsung. ”Kasihan, mereka sudah datang jauh-jauh ke sini, kan, pasti karena ingin mendapatkan harga yang lebih murah,” ujarnya memberi alasan.
Kampung Nastar sudah siap melayani pelanggan yang ingin berburu cemilan untuk kudapan saat hari raya. Biasanya dua minggu menjelang Lebaran gang-gang sempit di kampung tersebut akan dipenuhi oleh ”pemburu” kue kering yang berdatangan dari berbagai tempat.





