EtIndonesia. Kadang kita bertanya pada diri sendiri: “Mengapa aku harus menderita? Jika Tuhan itu ada, mengapa Dia membiarkan semua ini terjadi dalam hidupku?”
Mungkin, inilah salah satu jawabannya.
Seorang anak perempuan mengeluhkan pada ibunya bahwa hidupnya sedang kacau:
Nilai ujian akhirnya hampir membuatnya tidak lulus. Pacarnya yang telah tiga tahun bersamanya meninggalkannya demi sahabatnya sendiri. Dan guru yang paling dia cintai meninggal karena sakit.
Di tengah kesedihan itu, sang ibu tidak banyak berkata-kata. Dia hanya ingin melakukan sesuatu untuk menghibur anaknya.
Ibu berkata : “Mari kita membuat kue.”
Mereka masuk ke dapur. Saat ibu menyiapkan bahan dan peralatan, sang anak duduk termenung tanpa berkata apa-apa.
Ibu bertanya lembut : “Kamu suka kue buatan Ibu, bukan?”
“Tentu, Bu. Itu kue favoritku.”
“Baiklah,” kata ibu sambil tersenyum. “Coba kamu minum sedikit minyak zaitun ini.”
Anak itu terkejut : “Kenapa? Aku tidak mau!”
“Kalau begitu makan dua butir telur mentah?”
“Bu, apa Ibu bercanda?”
“Atau coba makan sedikit tepung?”
“Nanti aku sakit, Bu!”
Ibu lalu berkata : “Semua bahan ini, jika dimakan mentah-mentah, rasanya tidak enak. Tapi ketika dicampur dan diproses bersama, semuanya berubah menjadi kue yang lezat.”
Tuhan seperti seorang koki. Ketika kita bertanya mengapa kita harus mengalami penderitaan, sebenarnya kita tidak tahu ke mana penderitaan itu akan membawa kita, atau hasil apa yang akan lahir darinya.
Yang penting adalah Tuhan tahu. Dia tidak membiarkan kita jatuh tanpa makna.
Mungkin kita tidak sanggup menghadapi ‘bahan-bahan mentah’ dalam hidup. Namun kita bisa memilih untuk percaya dan menunggu, untuk melihat apa yang sedang Dia kerjakan dalam hidup kita.
Seperti tertulis: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan setia dan tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu…” (1 Korintus 10:13)
Kapan pun kamu ingin mencurahkan isi hatimu, Dia mendengar.Tuhan mengasihi kita dan memiliki rencana indah dalam hidup kita.
Dia memberi bunga bermekaran setiap musim semi. Dia membuat matahari terbit setiap pagi. Dia bisa saja tinggal di mana pun di dunia ini, namun Dia memilih tinggal di dalam hati kita.
Renungan
Jika berbagai peristiwa hidup diibaratkan sebagai bahan-bahan masakan, maka sikap kita, cara kita menghadapi masalah, kemampuan pribadi, relasi, dan kecerdasan emosi—itulah teknik memasaknya.
Kita tidak bisa memilih agar sepanjang hidup hanya bertemu hal-hal baik. Seperti bahan makanan, tidak semuanya terasa enak.
Namun enak atau tidaknya sebuah hidangan tidak hanya ditentukan oleh kualitas bahan, melainkan oleh keterampilan si koki.
Begitu pula hidup. Baik buruknya hidup tidak hanya ditentukan oleh nasib atau kesempatan, melainkan oleh cara kita menyikapinya.
Bahan terbaik sekalipun bisa menjadi makanan yang gagal jika dimasak tanpa keahlian. Sebaliknya, bahan sederhana di tangan koki yang terampil bisa menjadi hidangan istimewa.
Dalam hidup, kita bisa menjadi tiga jenis orang:
- Mereka yang sejak awal tampak berbakat—bahkan dari keadaan sulit pun mampu menghasilkan sesuatu yang baik.
- Mereka yang selalu gagal, bahkan dengan peluang terbaik sekalipun.
- Mereka yang awalnya tidak mahir, tetapi mau belajar dan terus berkembang hingga akhirnya mampu menciptakan hasil yang baik.
Kita mungkin tidak dilahirkan sebagai orang pertama. Namun kita selalu bisa memilih menjadi yang ketiga.
Melalui usaha, pembelajaran, dan kemauan untuk memperbaiki diri, kita bukan hanya memperkaya hidup sendiri, tetapi juga memberi kebaikan bagi orang lain.
Pelajaran dari sepotong kue ini sederhana: Yang menentukan rasa kue bukanlah bahan semata, melainkan cara mengolahnya.
Dan yang menentukan baik buruknya hidup bukanlah peristiwa yang kita alami, melainkan cara kita merespons dan menghadapinya. (jhn/yn)




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F12%2F0a136bd50b5847866b834ff579357b38-KLIK_CROPPING_3A.jpg)
