Bisnis.com, JAKARTA – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) tidak berencana melakukan revisi terhadap target pembukaan gerai Alfamart pada tahun ini. Namun, manajemen memastikan akan melakukan ekspansi sesuai koridor yang berlaku.
Direktur Sumber Alfaria Trijaya Solihin, menerangkan bahwa AMRT masih akan tetap berupaya ekspansif pada tahun ini. Artinya, target pembukaan 800 gerai tidak urung dijalankan meski Menteri Koperasi Ferry Juliantono meminta pengusaha ritel modern menahan laju ekspansi tahun ini.
”Sampai saat ini kami masih on the track. Mudah-mudahan saja tidak ada halangan ke depannya karena membuka toko itu harus menyewa tempat. Kalau tempatnya mahal, hitungannya tidak masuk, kami tidak buka dong,” katanya kepada Bisnis, Kamis (26/2/2026).
Pria yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) ini, menegaskan bahwa pembukaan gerai baru akan mengikuti aturan yang berlaku di daerah terkait. Artinya, pria itu tidak hanya berbicara mewakili Alfamart, melainkan juga mewakili pengusaha ritel di Tanah Air.
Meskipun begitu, dia enggan menjawab apakah pembukaan gerai akan mempertimbangkan posisi Koperasi Desa Merah Putih di wilayah tersebut.
”Kami membuka suatu tempat atau penambahan jumlah gerai baru di suatu daerah, mengikuti aturan yang ada di wilayah tersebut. Jadi kalau kami membuka gerai, di samping lingkungan, apakah pemerintah setuju untuk mengeluarkan izin, baru kami buka,” katanya.
Baca Juga
- Pedagang Klaim Jutaan Warung Kelontong Tutup Terdesak Ekspansi Indomaret-Alfamart
- Menkop Minta Alfamart-Indomaret Cs Tak Ekspansi ke Desa, Ada KopDes Merah Putih
- Bertemu Mendes Yandri, Mendag: Kopdes Bukan untuk Mematikan Alfamart-Indomaret Cs
Sebelumnya, Kementerian Koperasi (Kemenkop) meminta ritel modern seperti Alfamart-Indomaret Cs untuk menahan laju ekspansi ke wilayah pedesaan, seiring hadirnya Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes/Kel) Merah Putih.
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menilai pelaku usaha besar sebaiknya tidak agresif berekspansi hingga ke desa karena terdapat ruang ekonomi yang menjadi hak masyarakat.
“Itu yang kita ingin kemarin sebenarnya mendudukkan masalahnya. Sudah, ritel modern yang sudah ada kita hormati, enggak apa-apa. Tapi terhadap keinginan ekspansi sampai apalagi ke desa, ya mbok ingat-ingat yang lain. Ini ada ranah yang juga menjadi haknya rakyat juga,” kata Ferry dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koperasi, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Begitu juga dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, meminta pemerintah menghentikan izin baru bagi ritel modern untuk berekspansi.
“Seolah-olah saya ingin menutup Indomaret dan Alfamart yang sudah ada, tidak, ya. Yang ada kita setop itu, maka saya pakai bahasa setop. Setop ekspansi yang baru, setop izin yang baru,” kata Yandri melalui akun @yandri_susanto.
Sementara itu, Solihin menerangkan bahwa dalam pembangunan gerai pada 2026, pihaknya tidak akan lagi fokus pada ekspansi di kawasan Jabodetabek. Beberapa kawasan lain di Indonesia yang belum terjamah bakal menjadi target ekspansi Alfamart.
“Saya bisa pastikan di luar Jakarta. Di Jakarta ada, tapi kecil. Kebanyakan wilayah [Indonesia] timur dan [Indonesia] tengah ya,” katanya kepada wartawan, Kamis (28/1/2026).
Selain itu, selepas mengakuisisi Lawson dari PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI), Alfamart juga berencana untuk menambah sejumlah gerai Lawson. Solihin tidak menerangkan ke daerah mana Lawson akan berekspansi, tetapi pembukaan gerai Lawson pada tahun ini akan dilakukan dengan lebih hati-hati.





