EtIndonesia. Majalah Happiness di Amerika pernah memuat sebuah pertanyaan di rubrik pembaca: “Jika diberi kesempatan untuk memilih kembali, Anda ingin menjadi apa?”
Jawaban-jawabannya cukup mengejutkan.
Seorang tokoh militer ingin membuka toko kelontong di pedesaan.
Seorang menteri wanita ingin mengelola penginapan kecil di tepi pantai Kosta Rika.
Seorang wali kota berharap bisa berganti profesi menjadi jurnalis foto.
Seorang menteri tenaga kerja ingin menjadi manajer perusahaan minuman.
Jawaban para pebisnis bahkan lebih aneh lagi.
Ada yang ingin terlahir sebagai perempuan.
Ada yang ingin menjadi seekor anjing.
Bahkan ada yang ingin keluar dari dunia manusia dan menjelma menjadi tumbuhan.
Jawaban dari masyarakat umum pun beragam: ada yang ingin menjadi presiden, diplomat, pembuat roti, dan sebagainya.
Namun satu hal yang mencolok: Sangat sedikit orang yang ingin tetap menjadi dirinya yang sekarang.
Manusia memang sering kali penuh kontradiksi.
Padahal hidup mereka baik-baik saja, lingkungan mendukung, kondisi tidak buruk. Namun orang yang menjalaninya justru merasa bosan dan jenuh.
Perasaan ini tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan kata “tidak tahu bersyukur”.
Saya pernah sangat iri pada sepasang suami istri yang tinggal di dekat taman hutan. Di sana udaranya segar, pohon cemara dan rumpun bambu membentang luas, jalan setapak sunyi di antara pepohonan, kicau burung dan harum bunga menyatu dengan alam.
Namun ketika mereka tahu ada orang yang iri pada tempat tinggal mereka, mereka justru terkejut.
Bagi mereka, tempat itu tidak istimewa. Tidak banyak yang layak dikagumi. Bahkan menurut mereka, kota jauh lebih menarik dan penuh warna.
Saat itu saya menyadari satu hal:
Tempat yang terlalu akrab, sering kali tidak lagi terlihat sebagai pemandangan indah.
Karena terlalu terbiasa, pepohonan, angin sepoi, dan cahaya bulan bukan lagi sesuatu yang istimewa, melainkan sekadar bagian dari rutinitas sehari-hari.
Para menteri, pebisnis, dan masyarakat dalam majalah tadi pun demikian. Mereka tidak ingin menjadi diri mereka sekarang, karena pemandangan yang sudah lama mereka miliki tidak lagi terasa sebagai “pemandangan”. Semuanya telah menjadi kebiasaan.
Dalam perjalanan hidup, kondisi terburuk sering kali bukanlah kemiskinan atau kesialan.
Yang paling menyedihkan adalah ketika jiwa dan pikiran terjebak dalam kelelahan tanpa rasa.
Hal-hal yang dulu pernah menggetarkan hati, kini tak lagi menyentuh. Hal-hal yang dulu menarik, kini tak lagi menggoda. Bahkan sesuatu yang dulu bisa membuat marah, kini pun tak lagi membangkitkan emosi.
Pada saat itulah, seseorang mulai mencari “pemandangan” yang baru.
Dalam pekerjaan dan kehidupan, kita mengejar ilmu, memperbarui diri, memurnikan pikiran, mengangkat kualitas diri.
Namun jika ditelusuri lebih dalam, semua itu sering berakar dari satu sebab: Tempat yang sudah terlalu akrab tidak lagi memiliki pemandangan.
Kita mungkin bekerja dengan sungguh-sungguh setiap hari. Tetapi jika hidup bisa diulang, sebagian besar orang kemungkinan akan memilih jalan yang berbeda.
Mengapa?
Karena tempat yang terlalu akrab, tak lagi terlihat indah.
Kita sudah terlalu terbiasa dengan apa yang kita miliki, hingga lupa bahwa itulah sebenarnya pemandangan yang dulu pernah kita impikan.
Yang paling berbahaya dalam perjalanan hidup bukanlah kekurangan materi, melainkan kelelahan batin yang tak disadari.
Ketika semua tak lagi menggugah, kita pun mulai bersusah payah mencari sesuatu yang baru.
Jika keadaan tak bisa kita ubah, mungkin mengenal orang baru, membuka sudut pandang baru, bisa menjadi cara untuk menemukan “pemandangan” yang berbeda.
Renungan
Ada pepatah yang mengatakan: “Orang yang tinggal paling dekat dengan kuil justru yang paling jarang beribadah.” Artinya, ketika seseorang terlalu terbiasa dengan sesuatu, dia kehilangan rasa kagum dan syukur.
Kebiasaan ini sering membuat kita berada dalam kebahagiaan tanpa menyadarinya.
Ada pula hal menarik: Terkadang sebuah pertanyaan itu sendiri adalah jebakan cara berpikir.
Bayangkan dua warung sarapan. Yang satu bertanya: “Tambah satu telur atau dua telur?”
Yang lain bertanya, “Mau tambah telur atau tidak?”
Sebagian besar orang akan menjawab “satu telur” di tempat pertama, dan “tidak” di tempat kedua.
Demikian pula dengan pertanyaan: “Jika hidup bisa diulang, kamu ingin jadi apa?”
Sejak awal, pertanyaan itu sudah mengarahkan kita untuk membayangkan sesuatu yang berbeda.
Padahal hidup hanya sekali.
Daripada terus berkhayal mengulang hidup, lebih baik mulai mengubah langkah dari sekarang.
Tempat yang terlalu akrab mungkin terasa hambar, tetapi tempat yang tidak kita kenal pun sering menyimpan jebakan.
Kita sering tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sedang berada di dalam kebahagiaan. Baru ketika kehilangan, kita tersadar bahwa itulah yang selama ini kita cari.
Mungkin bukan hidup yang kurang indah. Mungkin hanya hati kita yang terlalu terbiasa.(jhn/yn)





