Ketika Ignatius Loyola mendirikan Serikat Yesus pada tahun 1540, ia tidak sekadar membentuk sebuah tarekat religius baru. Ia melahirkan sebuah gerakan rohani yang berfokus pada satu tujuan besar: menyelamatkan jiwa-jiwa (cura animarum). Namun, penyelamatan jiwa itu tidak berdiri sendiri. Ia ditempatkan dalam horizon yang lebih luas, yakni Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG) — “Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar.” Bahkan secara lengkap, spiritualitas Ignasian dirumuskan dalam ungkapan: Ad Maiorem Dei Gloriam inque hominum salutem — demi kemuliaan Allah yang lebih besar dan keselamatan umat manusia.
Menurut saya, di sinilah letak kedalaman ajaran Ignatius: keselamatan manusia dan kemuliaan Allah bukanlah dua tujuan yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Menyelamatkan Jiwa: Lebih dari Sekadar Urusan AkhiratSering kali, frasa “menyelamatkan jiwa” dipahami secara sempit, seolah hanya menyangkut kehidupan setelah kematian. Padahal dalam spiritualitas Ignatian, keselamatan jiwa juga berarti memulihkan martabat manusia secara utuh — akal, hati, kehendak, dan tindakan.
Karena itu, karya-karya Jesuit berkembang luas: pendidikan, misi lintas budaya, dialog intelektual, pendampingan rohani, hingga pelayanan sosial. Semua itu bukan penyimpangan dari tujuan awal, melainkan justru pengejawantahan konkret dari cura animarum. Jiwa manusia tidak dapat diselamatkan tanpa disentuh realitas hidupnya: kebodohan, ketidakadilan, kemiskinan, dan kekeringan rohani.
Bagi Ignatius, menyelamatkan jiwa berarti membantu manusia menemukan kembali arah hidupnya dalam terang kehendak Allah.
AMDG: Orientasi Hidup yang RadikalMoto Ad Maiorem Dei Gloriam bukan slogan kosong. Ini adalah orientasi hidup. Kata “maiorem” (yang lebih besar) menunjukkan dinamika: selalu mencari yang lebih baik, lebih dalam, lebih bermakna — bukan demi ambisi pribadi, tetapi demi Allah.
Spiritualitas ini menantang kecenderungan manusia untuk berpusat pada diri sendiri. Dalam konteks modern yang sering menonjolkan pencapaian individual dan popularitas, AMDG mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah tepuk tangan manusia, melainkan sejauh mana hidup kita memuliakan Allah melalui pelayanan kepada sesama.
Kemuliaan Allah, dalam perspektif Ignatius, tampak ketika manusia bertumbuh dalam kebaikan, kebebasan batin, dan cinta.
Kemuliaan Allah dan Keselamatan Manusia: Dua Sisi Mata UangYang menarik, Ignatius tidak memisahkan dimensi teosentris (berpusat pada Allah) dan humanis (berpihak pada manusia). Justru, ia menyatukannya. Allah dimuliakan ketika manusia diselamatkan; manusia diselamatkan ketika hidupnya diarahkan untuk memuliakan Allah.
Dalam konteks pendidikan — yang menjadi salah satu warisan terbesar Serikat Yesus — prinsip ini sangat relevan. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan pribadi yang utuh: cerdas secara intelektual, peka secara sosial, dan matang secara spiritual. Di sinilah semangat cura personalis (perhatian pada pribadi secara utuh) menjadi nyata.
Relevansi Bagi Zaman IniDi tengah dunia yang penuh krisis makna, ajaran Ignatius tetap aktual. Banyak orang kehilangan arah, terjebak dalam rutinitas tanpa tujuan lebih tinggi. Spiritualitas Ignasian mengajak setiap orang untuk melakukan refleksi mendalam:
Untuk apa saya hidup?
Siapa yang saya layani melalui pekerjaan saya?
Apakah keputusan saya membawa kebaikan yang lebih besar?
Semangat AMDG mengubah pekerjaan biasa menjadi panggilan. Mengajar, memimpin, melayani, bahkan tugas administratif sekalipun, dapat menjadi jalan menuju kemuliaan Allah jika dilakukan dengan niat yang benar dan demi kebaikan orang lain.
Kekuatan ajaran Ignatius Loyola terletak pada integrasinya: iman dan akal, doa dan aksi, Allah dan manusia. Ad Maiorem Dei Gloriam inque hominum salutem bukan sekadar kalimat Latin yang indah, melainkan kompas hidup. Menyelamatkan jiwa bukan berarti menarik diri dari dunia, tetapi justru terlibat lebih dalam di dalamnya — dengan hati yang bebas, pikiran yang jernih, dan orientasi yang selalu terarah pada kemuliaan Allah yang lebih besar serta keselamatan umat manusia.





