Sejumlah umat Hindu mengikuti perayaan keagamaan Holi di dalam kuil di Desa Nandgaon, Uttar Pradesh, India, Kamis (26/2). Tradisi yang dikenal sebagai “Festival Warna” atau “Festival Kasih Sayang” ini menjadi salah satu perayaan musim semi Hindu yang meriah, biasanya berlangsung pada bulan Maret di India dan Nepal. Holi menandai berakhirnya musim dingin sekaligus simbol kemenangan kebaikan atas kejahatan.
Festival ini sarat makna. Holi mengangkat kisah mitologi Wisnu dan Prahlad, di mana kebaikan menang atas kejahatan melalui kematian Holika, serta merayakan cinta ilahi antara Radha dan Krishna. Pada hari puncaknya, masyarakat saling melempar bubuk warna-warni (gulal), menyiramkan air, menari, dan berpesta, menandai kebahagiaan, kehidupan baru, dan kegembiraan bersama.
Perayaan Holi berlangsung selama dua hari. Malam sebelumnya dikenal sebagai Holika Dahan, masyarakat menyalakan api unggun untuk membakar simbol kejahatan secara ritual. Esok harinya, Rangwali Holi atau Dhulandi menjadi momen utama di mana semua orang berkumpul di jalanan untuk bersenang-senang dan saling mewarnai, tanpa memandang usia, gender, atau status sosial.
Selain menjadi pesta warna, Holi juga sarat makna sosial. Festival ini mendorong inklusivitas dan rekonsiliasi, menghapus batasan antara kaya dan miskin, pria dan wanita, serta tua dan muda. Semangat kebersamaan dan persahabatan menjadi inti perayaan, membuat semua yang ikut merasakan kehangatan dan kebersamaan komunitas.
Holi tak hanya populer di India, tetapi juga dirayakan oleh komunitas Hindu di berbagai negara. Beberapa negara bahkan menjadikannya hari libur nasional, seperti Suriname yang mengenalnya dengan nama Phagwa. Dengan kombinasi tradisi, makna spiritual, dan keseruan visual, Holi tetap menjadi festival yang dicintai banyak orang di seluruh dunia.




