Bisnis.com, JAKARTA - Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Teheran, Iran, membuat eskalasi konflik di Timur Tengah kian memanas. Negara-negara jazirah Arab pun ikut terdampak sehingga banyak penerbangan yang harus dibatalkan imbas serangan militer AS-Israel yang dibalas oleh Iran.
Situasi perang yang terjadi sejak Sabtu (28/2/2026) di Iran ternyata berdampak pada jemaah yang melaksanakan ibadah umrah di Arab Saudi. Jelita, warga asal Bandung yang baru saja menyelesaikan umrah mandiri, mengaku tak bisa pulang ke Indonesia karena jalur penerbangan ke Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi masih ditutup menyusul ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada penutupan wilayah udara dan pembatalan sejumlah penerbangan.
Jelita menceritakan dirinya bersama orang tua dan kerabat melaksanakan umrah mandiri sejak 19 Februari 2028. Ketiga orang tersebut seharusnya kembali ke Indonesia menggunakan pesawat Etihad Airways dengan nomor penerbangan EY 616 pada Sabtu sore (28/2/2026). Penerbangan tersebut berangkat dari Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, transit di Bandara Abu Dhabi, dan terakhir landing di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.
Namun, ketika ingin check-in, petugas Etihad di Bandara Internasional King Abdulaziz menjelaskan bahwa seluruh penerbangan dari Bandara Abu Dhabi disetop atau disuspend secara mendadak.
"Waktu itu aku belum tahu apa-apa tentang kondisi di Timur Tengah. Aku pikir ada technical error aja kan, yaudah aku tunggu," ujar Jelita kepada Bisnis, Minggu (2/3/2026).
Setelah menunggu sekitar 5 jam, Jelita bolak-balik menanyakan kepada petugas bandara terkait kepastian penerbangan. Sayangnya, petugas bandara memberikan jawaban bahwa seluruh penerbangan di-cancel atau tidak akan ada penerbangan dari Jeddah menuju Bandara Abu Dhabi.
Baca Juga
- Sinyal Perang, Trump Klaim Tenggelamkan 9 Kapal Iran
- Perang AS-Israel vs Iran Memanas, Tiga Personel Militer Amerika Tewas
- Perang AS-Israel vs Iran Memanas, Harga Emas Melonjak
Lantaran situasi yang tidak pasti, petugas tersebut menyarankan Jelita dan keluarganya untuk menyewa hotel di dekat bandara dan akan diberikan update berkala soal keberangkatan jika situasi membaik.
"Saya akhirnya menyewa hotel terdekat, jaraknya sekitar 4 km dari Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah. Namun, biaya hotel ini saya harus tanggung sendiri karena petugas bilang situasi ini force majeure, di antaranya war, sehingga tak ada kompensasi apa pun dari airlines. Mereka hanya bisa mengusahakan tiket pengganti untuk pulang sesuai destinasi masing-masing," tuturnya.
Ketika di Bandara Jeddah, Jelita mengatakan bertemu dengan warga negara Indonesia (WNI) yang juga baru menyelesaikan ibadah umrah. Meski demikian, dia menuturkan sebagian besar jemaah tersebut masih bisa kembali ke Indonesia karena rombongan yang ikut melalui biro travel dan memesan penerbangan langsung dari Jeddah menuju Soekarno-Hatta atau transit di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia.
Menurutnya, sebagian besar jemaah yang tertahan di Arab Saudi mengikuti umrah mandiri serta mengambil penerbangan transit di Bandara Abu Dhabi UEA.
"Kalau tidak salah, ada sekitar 10 orang jemaah asal Indonesia yang tertahan di Bandara Jeddah. Rata-rata memang penerbangan menggunakan Etihad dan harus transit di Abu Dhabi," jelasnya.
Lantaran tidak ada kepastian dari Etihad hingga Senin (2/3/2026) siang, Jelita dan keluarganya mengambil opsi refund atau pengembalian uang tiket. Dia lantas membeli ulang tiket pesawat dari maskapai lain yang tidak transit di Timur Tengah.
Dia mendapat informasi bahwa penerbangan dari Bandara Jeddah menuju Indonesia masih aman untuk rute-rute tertentu.
"Aku akhirnya beli tiket pesawat lagi, AirAsia yang tujuan Jakarta transit di KL [Kuala Lumpur]," katanya.
Terkait situasi di kota Jeddah saat dimulainya serangan AS-Israel terhadap Iran, cenderung aman dan kondusif. Meski demikian, dia mengakui kondisi di Bandara Jeddah sempat kacau karena banyak penumpang yang panik akibat penerbangannya dibatalkan akibat perang.
Jelita juga sudah menghubungi hotline KJRI Jeddah untuk situasi darurat untuk mempertanyakan nasib dirinya dan keluarga. Sayangnya, nomor hotline tersebut tidak responsif dan memberikan jawaban terkait kondisi di Jeddah pasca serangan AS-Israel terhadap kota Teheran.
"Saya harus menunggu hampir 4 jam sampai nomor hotline KJRI Jeddah membalas chat WhatsApp saya, tetapi tetap saja tak ada kejelasan," ungkapnya.
Saat ini, Jelita dan keluarganya menunggu kepastian penerbangan baru dengan maskapai AirAsia agar dapat terbang dari Jeddah ke Soetta dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur.
Dilansir dari Antara pada Senin (2/3/2026), penutupan Bandara Abu Dhabi, UEA, ini terjadi setelah meningkatnya eskalasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang memicu penutupan sementara ruang udara di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Otoritas penerbangan sipil mengambil langkah antisipatif dengan menghentikan operasional bandara dan membatalkan penerbangan guna mengutamakan keselamatan penumpang dan awak pesawat.
Sejumlah maskapai, termasuk Etihad Airways yang berbasis di Abu Dhabi, telah mengumumkan penangguhan penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan, sambil menunggu situasi keamanan dinyatakan kondusif oleh otoritas terkait.
Pihak maskapai mengimbau calon penumpang untuk tidak datang ke bandara dan memantau informasi resmi melalui situs web dan kanal komunikasi resmi perusahaan. Penumpang juga diminta memanfaatkan layanan perubahan jadwal atau pengembalian dana yang disediakan secara daring.
Hingga berita ini disiarkan, belum ada kepastian kapan operasional penerbangan akan kembali normal. Otoritas setempat menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi dan memastikan setiap langkah yang diambil mengutamakan keselamatan serta keamanan publik.
Bagi calon penumpang yang terdampak, disarankan untuk tetap berada di lokasi masing-masing dan tidak memaksakan diri menuju bandara sampai ada pengumuman resmi terkait pembukaan kembali operasional penerbangan.





