- Aktivis Muhammad Husein menilai AS memasuki konflik dengan Iran terburu-buru tanpa rencana strategis jangka panjang yang jelas.
- Strategi AS menargetkan elite Iran gagal, malah menghasilkan konsolidasi internal yang menguatkan posisi Teheran secara signifikan.
- Narasi propaganda AS yang berubah-ubah menimbulkan protes domestik dan meningkatkan kerentanan strategis pangkalan Teluk Arab.
Suara.com - Memasuki hari keempat eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, jurnalis sekaligus aktivis kemanusiaan, Muhammad Husein, memaparkan hasil evaluasinya.
Melalui akun Instagram pribadinya, @mhuseingazaofficial, ia menyebut Washington telah melakukan sejumlah miskalkulasi fatal yang justru memperkuat posisi Teheran.
Dalam analisis terbarunya, Husein merangkum lima poin utama terkait kelemahan strategi koalisi AS–Israel pada fase awal peperangan ini.
Pada poin pertama, ia menilai Amerika Serikat masuk ke dalam pusaran perang secara terburu-buru dan tanpa perhitungan yang matang.
"Washington ini bener-bener sembrono. Nggak ada roadmap yang jelas, nggak ada peta jalan yang jelas. Mentalitas mereka itu serang dulu, nanti mikirin bagaimana strateginya. Padahal perang ini bukan masalah hari pertama tapi masalah hari ke 100," ujar Husein dalam unggahannya, dikutip Rabu (4/3/2026).
Kedua, Husein menyoroti kesalahan fatal AS yang mencoba menerapkan apa yang ia sebut sebagai Model Venezuela terhadap Iran. Ia menjelaskan, AS berharap dengan menyerang elite, sistem pemerintahan akan runtuh dan memicu pemberontakan rakyat. Namun, kenyataan di lapangan justru sebaliknya.
"Iran bukan negara kardus. Dia punya struktur dan institusi. Justru yang terlihat sekarang adalah konsolidasi internal (Iran) benar-benar kuat, jauh dari keruntuhan. Fatal kan?" jelasnya.
Selain strategi militer yang dinilai buntu, Husein pada poin ketiganya mengkritik narasi propaganda AS yang berantakan. Ia menyoroti sikap Presiden AS Donald Trump dan elite Washington yang kerap berganti-ganti alasan terkait tujuan perang, mulai dari isu pergantian rezim, ancaman nuklir, rudal, hingga persoalan proksi regional.
Husein menegaskan bahwa dalam peperangan modern, kekalahan narasi jauh lebih berbahaya dibandingkan kekalahan di medan tempur.
Baca Juga: Perang AS-Iran Terus Bergulir, Harga Minyak Mentah Dunia Makin Mahal
Ketidakjelasan narasi tersebut, lanjut Husein pada poin keempat, memicu gelombang protes dan pertanyaan di dalam negeri AS sendiri. Publik mulai mempertanyakan urgensi perang tersebut.
"Apakah ini perang untuk kepentingan nasional, ya nasional Amerika, atau untuk kepentingan pihak lain? American First atau Israel First? Ketika basis konservatifnya mulai retak, maka ini bukan lagi masalah opini biasa. Ini alarm politik. Ini sudah bahaya sekali," paparnya.
Pada poin kelima, Husein memberikan peringatan serius terkait dampak geopolitik bagi negara-negara di kawasan Teluk Arab. Keberadaan pangkalan militer AS di negara-negara seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab, yang semula dianggap sebagai payung keamanan, kini justru berbalik menjadi ancaman nyata.
"Negara-negara kaya dengan pertahanan mahal, tiba-tiba terlihat sangat terbuka secara strategis. Basis militer yang dulu dianggap pelindung, Amerika dianggap pelindung, ternyata malah jadi musibah bagi mereka," ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai membuat negara-negara Teluk mulai menyadari bahwa kekuatan militer AS tidak sehebat yang selama ini digembar-gemborkan.
Bahkan, Husein mengungkapkan adanya pergerakan militer yang mengindikasikan kepanikan. Menurutnya, beredar sejumlah video amatir yang memperlihatkan pihak AS mulai memindahkan pesawat-pesawat tempurnya dari pangkalan di Timur Tengah karena khawatir menjadi target serangan balasan Iran.




