JAKARTA, KOMPAS — Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono memetakan sedikitnya lima tantangan besar yang perlu diantisipasi Indonesia, mulai dari eskalasi konflik geopolitik global hingga perubahan iklim, keterbatasan sumber daya alam, urbanisasi cepat, disrupsi teknologi, dan disparitas sosial-ekonomi. Di tengah ketegangan di Timur Tengah, pemerintah juga menegaskan pentingnya deeskalasi, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta komitmen pada hukum internasional untuk mencegah konflik meluas.
Hal itu disampaikan Agus dalam acara buka puasa Partai Demokrat bersama seluruh kader di Jakarta, Rabu (4/3/2026) malam. Presiden Prabowo Subianto yang semula dijadwalkan hadir diwakili oleh Menteri Luar Negeri sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Sugiono.
Acara juga dihadiri Presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, serta para menteri Kabinet Merah Putih yang merupakan kader Partai Demokrat. Ketua DPR yang juga Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Puan Maharani turut menghadiri acara tersebut.
Dalam sambutannya, Agus, yang akrab disapa AHY, mengatakan, acara tersebut sejatinya juga dipersembahkan untuk Presiden Prabowo. Ia menyebut kegiatan itu sebagai wujud kecintaan dan kesetiaan Partai Demokrat untuk terus mengawal serta menyukseskan kepemimpinan Prabowo dalam membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju dan sejahtera.
Namun, Agus memahami padatnya agenda Presiden. Bahkan, pada Selasa (3/3/2026) malam, Prabowo masih menggelar diskusi bersama sejumlah tokoh bangsa di Istana Merdeka hingga pukul 23.30 WIB.
Menurut Agus, saat itu Prabowo telah menyampaikan rencana untuk hadir dalam acara buka puasa Partai Demokrat. Namun, ia memahami Presiden baru saja kembali dari rangkaian perjalanan tugas ke luar negeri sehingga memerlukan waktu untuk beristirahat.
”Kami mendoakan semoga beliau segera pulih, sehat, dan terus bisa memimpin kita semua dengan energi yang penuh. Sekali lagi, salam dan doa terbaik dari keluarga besar Partai Demokrat untuk Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.
Agus menyatakan, Ramadhan tahun ini datang dalam suasana dunia yang tidak baik-baik saja. Di berbagai belahan dunia, khususnya di Timur Tengah, konflik dan peperangan telah menimbulkan korban jiwa, penderitaan, dan kehancuran.
”Ramadhan yang sejatinya membuka pintu untuk saling memaafkan kemudian menjadi pintu saling menghancurkan. Ramadhan yang seharusnya menghadirkan ketenangan batin justru dibayangi dengan rasa cemas dan juga duka yang mendalam. Tentu ini sangat memprihatinkan,” kata Agus.
Agus berharap, peperangan yang terjadi di Timur Tengah tidak berkembang, apalagi menjadi Perang Dunia Ketiga. Indonesia harus sekuat tenaga untuk bisa mencegah terjadinya itu.
Oleh karena itu, ia mengapresiasi Presiden Prabowo yang telah menggelar pertemuan di Istana Merdeka, Selasa kemarin malam, untuk secara serius membahas berbagai kemungkinan skenario terburuk, dan berbagai dampak strategis, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap Indonesia.
"Dan kita harus mempersiapkan diri untuk bisa mengantisipasi dan memitigasi segala risiko yang bisa datang, khususnya di bidang ekonomi, ketahanan energi, dan juga pangan," tuturnya.
Ia juga mengapresiasi segala niat baik dan ikhtiar Presiden Prabowo untuk terus mencari solusi terbaik bagi terciptanya perdamaian dan ketertiban dunia, khususnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Ia mengakui, itu bukanlah jalan yang mudah.
"But, when there's a will, there's a way. Saya rasa juga bukan sesuatu yang tidak mungkin. Tuhan selalu menyiapkan jalan bagi siapa pun yang berikhtiar secara sungguh-sungguh," tegasnya.
Ia percaya bahwa tidak ada konflik yang tidak dapat diselesaikan dengan komunikasi dan iktikad yang baik. Tidak ada pula perbedaan yang tidak bisa dijembatani jika kemanusiaan diletakkan, ditempatkan di atas segala-galanya.
Di luar persoalan geopolitik dan keamanan internasional, Agus juga menyinggung soal dunia yang terus menghadapi tantangan-tantangan global lainnya yang tidak kalah serius. Tantangan-tantangan itulah yang seharusnya menyatukan seluruh bangsa global, bukan justru memecah belah.
Ia memetakan paling tidak ada lima tren global yang menjadi tantangan nyata. Pertama adalah pemanasan global dan juga krisis iklim. Kedua, dengan pertumbuhan populasi manusia, di dunia dihadapkan dengan semakin terbatasnya sumber daya alam.
"Ini meniscayakan kompetisi yang semakin sengit. Kompetisi yang tidak bisa dikelola dengan baik bisa mengakibatkan konflik bersenjata, perang antarnegara. Dan sekali lagi, inilah mengapa Indonesia yang dikaruniai dengan begitu besar kekayaan alam juga tidak boleh merasa itu akan hadir dengan sendirinya. Kita harus mengikhtiarkan agar sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan benar-benar bisa didistribusikan secara berkeadilan," ucapnya.
Ketiga, arus urbanisasi yang begitu cepat. Agus mengatakan, hampir 70 persen masyarakat dunia, termasuk Indonesia, diprediksi akan tinggal di kota-kota. Permasalahannya adalah bukan hanya lahan, bukan hanya tata ruang, tetapi juga daya dukung kota-kota tersebut belum semuanya dapat mengakomodasi cepatnya laju urbanisasi tersebut.
Keempat adalah disrupsi teknologi. Kelima ialah disparitas sosial dan disparitas ekonomi antarkawasan. Hal ini juga terus menghantui banyak negara. Kemiskinan ekstrem juga harus dihadapi dan perlu dicarikan solusi yang terbaik.
"Ini semua menjadi karakteristik abad ke-21 dan Indonesia tidak imun terhadap tantangan-tantangan tadi. Oleh karena itu, sekali lagi, Partai Demokrat berkomitmen untuk bisa terus mengawal dan menyukseskan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Agus juga menyampaikan bahwa tahun ini adalah tahun yang bersejarah bagi Partai Demokrat. Pada 9 September 2026, Partai Demokrat akan genap berusia 25 tahun.
Dalam sebuah perjalanan partai politik, kata Agus, perjalanan seperempat abad tentu penuh dengan suka duka, jatuh bangun, keringat dan air mata. Demokrat juga pernah mengalami semua itu.
"Dan kami bertekad bahwa Demokrat di masa mendatang bisa bangkit dan kembali kokoh untuk meningkatkan peran dan kontribusi kami di pemerintahan, maupun di parlemen," tuturnya.
Untuk itu, ia mengajak seluruh kader Demokrat untuk menjadikan momentum 25 tahun ini sebagai momentum kebangkitan Partai Demokrat. Ia mengajak seluruh kader Demokrat untuk benar-benar memperjuangkan harapan dan aspirasi rakyat.
"Itulah mengapa Pak Menlu, Pak Sekjen Gerindra, mohon dilaporkan ke Bapak Presiden selaku pembina koalisi, pembina partai-partai politik, kalau Demokrat tahun ini agak sering turun ke bawah karena semangat 25 tahun tadi. Tolong jangan disalahartikan sebagai sebuah manuver politik karena pemilu masih lama sekali," ujarnya.
Demokrat, lanjutnya, ingin fokus benar-benar mengawal pemerintahan Presiden Prabowo. "That's our objective, tidak ada yang lain. Tapi bolehlah kalau kami punya ikhtiar agar Demokrat tidak paling ujung. Di parlemen, kami sudah paling ujung. Kami pernah paling ujung sana, sekarang paling ujung sini. Jadi kalau lagi sidang paripurna, jangan sampai mepet tembok. Kami ingin kembali kokoh, semakin kokoh," katanya.
Bahkan, ia mengklaim antara Parta Demokrat dan Partai Gerindra memiliki banyak kesamaan. "DNA Partai Demokrat itu banyak kemiripan dengan Partai Gerindra. Jadi saya rasa kami bisa bersinergi dan berkolaborasi tentu dengan partai-partai lainnya," ucapnya.
Menteri Luar Negeri sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Sugiono, yang mewakili Presiden Prabowo, turut menyinggung situasi geopolitik global seusai menghadiri acara tersebut.
Saat ditemui wartawan, Sugiono mengatakan risiko paling buruk dari perang di Timur Tengah adalah terjadinya eskalasi yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak negara. “Risiko paling buruk adalah terjadinya eskalasi yang lebih besar yang melibatkan lebih banyak negara. Itu risikonya,” ujarnya.
Kalau Demokrat tahun ini agak sering turun ke bawah karena semangat 25 tahun tadi. Tolong jangan disalahartikan sebagai sebuah manuver politik karena pemilu masih lama sekali.
Terkait sikap Indonesia dalam konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, Sugiono menegaskan bahwa pemerintah menginginkan deeskalasi dan meredanya situasi. Indonesia juga menyesalkan gagalnya perundingan yang kemudian memicu ketegangan.
“Kita menginginkan ada de-eskalasi, kemudian situasi mereda. Kita menyesali gagalnya perundingan yang kemudian menyebabkan situasi yang terjadi,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia menekankan pentingnya seluruh negara menghormati prinsip kedaulatan dan integritas wilayah negara lain. Pemerintah juga berharap semua pihak dapat menahan diri.
Sugiono menyebut, Presiden Prabowo telah menyatakan kesediaannya untuk menjadi mediator apabila kedua belah pihak menyepakati. “Intinya, kita berharap agar prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) tetap dihormati,” ujarnya.





