REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan, serangkaian serangan udara yang diluncurkan negaranya ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah telah membunuh lebih dari 500 tentara AS. Larijani telah menyatakan bahwa Iran siap terlibat perang jangka panjang dengan AS.
Dalam sebuah unggahan di akun X resminya pada Rabu (4/3/2026), Larijani mengatakan bahwa Trump, yang sudah terpengaruh kekonyolan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, telah menyeret rakyat Amerika ke dalam perang yang tak adil dengan Iran. "Sekarang dia harus menghitung —dengan lebih dari 500 tentara Amerika tewas hanya dalam beberapa hari terakhir, apakah Amerika masih diutamakan— atau Israel," tulis Larijani.
Baca Juga
AS Sebut Spanyol Izinkan Pangkalannya untuk Serang Iran Usai Diancam Trump, ini Bantahan Menlu
Ogah Kirim Pasukan Darat, Trump Persenjatai Suku Kurdi untuk Perang Melawan Iran
Trump akan Kerahkan Armada ke Selat Hormuz, IRGC: Datanglah dan Kawal Mereka
Dia menegaskan bahwa perlawanan Iran atas dibunuhnya Ayatollah Ali Khamenei akan terus berlanjut. "Kisah ini akan berlanjut. Kemartiran Imam Khamenei akan menuntut harga yang mahal dari kalian. Insya Allah," ujarnya.
Sejauh ini Pentagon mengumumkan hanya enam tentara AS tewas sejak Iran memulai serangan udaranya pada Sabtu (28/2/2026). Sebanyak empat di antaranya terbunuh di Kuwait.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke sejumlah wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada Sabtu pekan lalu. Selain beberapa pejabat tinggi pertahanan Iran, serangan tersebut turut membunuh Ayatollah Ali Khamenei.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)