Program pendampingan gizi yang dijalankan PT Nestlé Indonesia selama enam bulan menunjukkan hasil nyata dalam menekan masalah gizi anak. Program yang menyasar keluarga dengan anak berisiko stunting ini berhasil menurunkan prevalensi underweight dan severe underweight sebesar 22,5 persen.
Program Pendampingan Gizi 2025 tersebut dilaksanakan pada Juli 2025 hingga Januari 2026 di tiga wilayah, yakni Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan. Sebanyak 598 keluarga dengan anak berisiko stunting mendapatkan pendampingan dari 147 kader, sementara 520 ibu hamil dan menyusui menerima edukasi terkait pemenuhan gizi anak.
Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Yuni Hastutiningsih, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperkuat pencegahan stunting di Indonesia.
“Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, seperti yang dilakukan oleh PT Nestlé Indonesia, memiliki nilai strategis dalam memperluas jangkauan intervensi, mempercepat perubahan perilaku, serta memastikan keberlanjutan program. Oleh karena itu, mari kita terus memperkuat sinergi menjaga konsistensi dan memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi keluarga Indonesia,” ujarnya.
Program ini mengedepankan pendekatan preventif melalui deteksi dini anak yang berat badannya stagnan atau sulit naik. Intervensi dilakukan dengan memberikan satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan, disertai edukasi keluarga serta pemantauan rutin tumbuh kembang anak oleh kader.
Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan, mengatakan pendekatan sederhana namun konsisten mampu memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan anak.
“Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5%. Ini menegaskan bahwa intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata,” kata Ali.
Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, Ankur Mittal, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya terlihat dari capaian angka, tetapi juga perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
“Kami percaya tantangan gizi anak tidak dapat diselesaikan melalui upaya jangka pendek. Program ini dirancang dengan prinsip intervensi berbasis bukti, monitoring rutin, dan kemitraan lintas sektor,” ujar Ankur.
Selain memperbaiki indikator pertumbuhan anak, program ini juga meningkatkan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian, variasi konsumsi, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin.
Program Pendampingan Gizi 2025 melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, kader posyandu, hingga komunitas lokal. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen global Nestlé untuk mendukung 50 juta anak hidup lebih sehat pada 2030 melalui program Nestlé for Healthier Kids.





