Aksi Kamisan ke-900: Keteguhan Sumarsih Mencari Keadilan bagi Sang Anak

suara.com
7 jam lalu
Cover Berita

Suara.com - Pelaksanaan Aksi Kamisan telah mencapai angka 900. Sepanjang itu pula, Sumarsih menolak untuk mundur dari palagan. Apa yang membuatnya terus bertahan?

Kabar dari ahli forensik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Budi Sampurno, menjawab segala pertanyaan yang bergumul di kepala Sumarsih tentang kematian putranya, Bernardinus Realino Norma Irawan, yang akrab dipanggil Wawan.

Jum'at malam, 13 November 1998, Budi memberi tahu bahwa Wawan, mahasiswa ekonomi di Universitas Atma Jaya Jakarta, tewas karena ditembak dengan peluru tajam standar militer.

Peluru itu tepat mengenai dada sebelah kiri Wawan, sebelum akhirnya menembus jantung serta paru-parunya.

Wawan seketika tumbang dan hilang nyawa.

Keesokan hari, Sabtu, 14 November 1998, diadakan doa arwah yang dipimpin langsung Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ. Di dalam khotbahnya, Kardinal Julius mengulang kembali pernyataan pasca-autopsi.

Kali ini, Kardinal Julius menambahkan satu kepingan informasi yang tak kalah krusial.

Wawan ditembak di halaman kampusnya ketika sedang menolong seorang korban demonstrasi.

Begitu Kardinal Julius tuntas menyampaikan khotbah, podium kecil lantas diisi anak muda dari gereja tempat Wawan beribadah. Pemuda ini berujar Wawan, pada suatu waktu, pernah berkata kepada dirinya mengenai suatu hal yang membuatnya terkejut.

Nanti namaku akan dijadikan nama taman gereja.

"Dan ternyata itu kalimat yang juga saya dengar saat di rumah. Wawan mengatakan hal yang sama ke saya. Saya langsung menegurnya," kenang Sumarsih.

Eh, Wawan enggak boleh bicara seperti itu. Apa maksudnya?

Pertanyaan Sumarsih tak memperoleh balasan, tenggelam dalam samar di balik tubuh Wawan yang perlahan berlalu. Meski demikian, pertanyaan tersebut menjadi secuil dari sekian banyak kenangan yang mengendap di lapisan pikiran Sumarsih.

Semakin mengendap, bongkahannya semakin mudah untuk dibuka kembali. Dan jika sudah begitu, Sumarsih akan membiarkan dirinya larut bersamanya.

Walaupun sekejap. Walaupun sebentar saja. Walaupun kenyataan, tak lama berselang, bakal menariknya dari ruang-ruang yang dia bayangkan serupa buku catatan yang tersimpan rapi di sudut rak lemari tua berwarna kecokelatan.

Siang itu, pada pertengahan Februari 2026, saya berjumpa Sumarsih di kediamannya. Tidak ada yang berbeda dari sosoknya kecuali rambutnya yang memanjang ketimbang kala terakhir saya berbincang dengannya, mundur empat tahun ke belakang.

Kami saling bertukar pesan sekira satu minggu sebelum pertemuan berlangsung. Dalam percakapan yang terpisahkan oleh layar, saya menuturkan maksud dari sesi wawancara, bahwa saya ingin menulis peringatan Aksi Kamisan yang, pada hari ini, telah menyentuh angka 900.

Sumarsih mengiyakan, dan tiba saatnya kami berhadapan di ruang tamunya yang luas dengan perabotan klasik yang masih setia menemaninya. Kini, yang memisahkan kami bukan lagi layar gawai, melainkan segelas air putih serta beraneka camilan yang Sumarsih ambil dari meja makan.

Kisah di artikel ini akan dibuka dengan bagian yang paling mendasar dari segala yang bermuara ke Aksi Kamisan, juga kematian Wawan.

Siapa Sumarsih?

Bagian I

Di sebuah desa bernama Rogomulyo, yang berlokasi di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sumarsih lahir dan tumbuh dari keluarga petani sederhana.

Ayahnya merupakan penganut Katolik yang taat sehingga dia melekatkan "Maria" di urutan paling depan dari identitasnya. Maria Catarina Sumarsih, begitu lengkapnya.

Sejak kecil, Sumarsih, anak kedua dari tujuh bersaudara, senantiasa diajarkan betapa pentingnya berproses dalam kehidupan. Kedua orangtuanya memberikan contoh langsung proses itu dengan bekerja keras di ladang, lalu menjual hasil dari apa yang mereka tabur sekaligus tanam untuk membiayai anak-anaknya bersekolah.

Prinsip yang kedua orangtua Sumarsih ajarkan ialah bahwa hidup tak melulu berkutat dalam urusan harta atau materi. Bagi mereka, bekal terbaik yang mesti disediakan kepada anak-anaknya yakni jalan lapang menuju kesempatan menggapai pendidikan.

"Kalau diberi warisan, tidak semua anak bisa mengelola warisan. Tapi, kalau diberi warisan berupa ilmu, dia bisa menentukan masa depan mereka masing-masing," sebut Sumarsih.

Apa yang dituturkan kedua orangtuanya lalu menjelma rapalan keyakinan yang dipegang Sumarsih dalam mengarungi lintasan nasib. Sumarsih bertekad bakal meraih pendidikan setinggi mungkin.

Namun, garis hidup tidak ada yang pernah tahu.

Jalur yang Sumarsih bayangkan mulus tanpa halangan, nyatanya, berubah rimba belantara yang menyerapnya pelan-pelan setelah ayahnya meninggal dunia, tidak lama usai Sumarsih menyelesaikan bangku SMA.

Kepergian sang ayah membikin Sumarsih, mau tak mau, harus menavigasi ulang tujuan semestanya. Dia menepikan sementara waktu mimpinya melanjutkan pendidikan ke tingkat kuliah, dan memfokuskan diri membantu keluarganya bertahan hidup.

"Ketika bapak meninggal, kemudian saya harus putar haluan. Saya harus bekerja," ucapnya.

Upaya merengkuh pekerjaan tidak semudah membalik telapak tangan. Di tempat tinggalnya, Sumarsih menyaksikan pengumuman berisikan lowongan pekerjaan di bank milik negara.

Sumarsih pun mendatangi pimpinan kecamatan untuk mengungkapkan ketertarikannya. Sayang, jawaban pejabat itu membuatnya kecewa.

Dalam pernyataannya ke Sumarsih, kepala kecamatan memberi tahu lowongan pekerjaan yang tersedia sudah terisi oleh keponakannya, di samping orang terdekat dari polisi serta militer.

Sebagai gantinya, Sumarsih diarahkan mendaftar petugas Keluarga Berencana (KB), program andalan rezim Orde Baru dalam "mengendalikan" laju populasi penduduk. Sumarsih diterima.

Pekerjaan baru yang Sumarsih lakoni diakuinya cukup menjanjikan dengan "insentif besar." Orang-orang di sekelilingnya sempat menyeletuk bahwa Sumarsih dapat membeli rumah dari insentif tersebut. Sumarsih nyatanya tidak menempuh pilihan demikian. Yang terbesit di benaknya adalah keluarganya; ibu beserta saudara-saudaranya.

Maka dari itu, Sumarsih terus bekerja membanting tulang. Tak cukup satu pekerjaan, Sumarsih mengambil peluang lainnya dengan menjadi guru. Aktivitas mengajar, menurut Sumarsih, begitu menenangkan sekaligus menyenangkan batinnya. Dia bersua anak-anak, menuntun mereka dalam menerka hitam atau putih, benar serta salah.

  • Generasi Z dan Peristiwa 1998: 'Relevan dibahas agar anak muda tidak menjadi korban pada masa mendatang'
  • Hari-hari jelang Reformasi 1998 dalam gambar dan catatan
  • Korban kerusuhan Mei 1998, bagaimana kondisi mereka kini?

Di sela-sela kesibukannya, Sumarsih menjalin kedekatan dengan pemuda yang baru rampung kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Pemuda itu memiliki nama: Arief Priyadi.

Cerita bagaimana Sumarsih mengenal Arief mengingatkan saya pada film-film romansa Indonesia 1980-an, ketika tali relasi disambungkan melalui perantara dari mulut ke mulut.

Alkisah, orang terpandang di desa Sumarsih mempunyai anak yang kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana. Dia lantas membangunkan anaknya indekos yang juga, seiring waktu, dihuni mahasiswa lainnya, termasuk Arief.

"Akhirnya, lewat anak Pak Lurah ituorang terpandang di ataskami kenal," ujar Sumarsih, disusul senyum tipis yang mengembang dari wajahnya.

Perkenalan itu, berdasarkan keterangan Sumarsih, diwarnai benih-benih ketertarikan antara satu sama lain, seperti halnya dua insan yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

Sumarsih memandang Arief sebagai pribadi penuh ketenangan, dengan tutur bahasa yang lembut kala keduanya berbicara bersama. Arief, selain itu, juga orang yang sangat pengertian serta perhatian.

Kedekatan mereka kian intens, membuka pintu untuk berpacaran, meski, mengutip Sumarsih, "sempat putus dan nyambung lagi."

Jodoh tak akan ke mana, ucap banyak orang.

Kapal yang masing-masing mereka kemudikan, ujungnya, berlabuh di dermaga yang sama, yang mungkin pernah keduanya ikrarkan menjadi titik pemberhentian terakhir dalam rupa pernikahan.

Sebelum ikatan tersebut direalisasikan, Sumarsih mesti menepati janji yang dulu dia lontarkan kepada para adik-adiknya.

"Saya akan menikah kalau adik saya sudah bekerja," Sumarsih memberi tahu saya.

"Dan begitu seterusnya. Adik saya akan menikah, kalau, misalnya, adik di bawahnya sudah bekerja. Itu turun-temurun."

Tak perlu waktu lama bagi Sumarsih menanti. Adiknya mentas, selesai sekolah dan lanjut bekerja.

Rasa lega mengerubungi diri Sumarsih. Dia pun menikah bersama Arief pada pertengahan 1970-an.

Komitmen pernikahan ini turut membawa Sumarsih ke tempat yang kedua kakinya tak pernah menginjakkannya: Jakarta.

Tempat yang asing sekaligus berjarak. Tempat yang ternyata membikinnya terasa utuh. Tempat yang kelak mengubah banyak harapan yang senantiasa dia panjatkan agar kokoh berdiri, menjadi lebur dalam kemustahilan.

Bagian II

Dalam tradisi Jawa, ada kemungkinan orangtua dan anak mempunyai wetonhari lahir dengan pasaranyang identik: sama-sama Kamis Kliwon, Rabu Pahing, atau Selasa Legi. Kepercayaan masyarakat menyebut jika hal itu terwujud, salah satu di antaranya bakal meninggal dunia, efek dari energi negatif yang tercipta.

Beberapa masyarakat lantas menempuh upacara adat bernama ngguak anak, atau "membuang anak," sebagai bentuk tolak bala atas kesamaan weton.

Jelang 1978 tutup buku, Sumarsih di ambang kebimbangan. Hari itu Sabtu. Sumarsih telah memperoleh tanda-tanda lekas melahirkan. Tubuhnya seolah bilang kalau anak pertamanya tidak lama lagi keluar. Dia lalu menuju ke rumah sakit bersama Arief.

Sepanjang perjalanan sampai ketika masuk ke kamar perawatan, Sumarsih tak berhenti berdoa; meminta kepada Tuhan Yesus supaya kelahiran anak pertamanya tidak terjadi pada Sabtu itu, yang mana bertepatan dengan weton Arief, Sabtu Pon.

Kegelisahan Sumarsih berganti kelegaan begitu proses bersalin tersebut 'tertunda' hingga Minggu dini hari, sekira pukul 12 lebih 5 menit. Anak pertama Sumarsih serta Arief lahir ke dunia dengan berat badan yang sungguh gempal, 3,3 kilogram.

"Saya senang sekali," ungkap Sumarsih.

Tak lama setelahnya, memasuki malam, seorang pastor dari Belanda yang dikenal dengan Pater Bert datang untuk menjenguk Sumarsih. Sumarsih baru pertama kali bertemu dia. Adalah Arief yang dulu pernah mengikuti pelatihan yang dipimpin Pater Bert.

Kehadiran Pater Bert sempat ditahan oleh pengurus rumah sakit sebab melebihi jam besuk. Sang pastor kemudian berupaya meyakinkan bahwa "dirinya datang dari jauh hanya untuk menengok anak Arief," demikian Sumarsih menceritakan kembali momen tersebut.

Para perawat akhirnya memberikan izin kepada Pater Bert.

"Lalu pastor ini memberkati saya, anak saya, dan juga memberikan nama baptis untuk anak saya," tutur Sumarsih.

Anak pertama Sumarsih dan Arief dibaptis dengan nama Bernardinus, terinspirasi dari pemuka Katolik pada abad pertengahan, Santo Bernardus.

Bernardinus kurang lebih diartikan sikap yang kuat atau tangguh seperti beruang.

Tuntas dibaptis, nama anak pertama Sumarsih menjadi Bernardinus Realino Norma Irmawan. Panggilan akrabnya: Wawan.

  • Turun ke jalan sampai terjebak kerusuhan: Apa yang terjadi di kota Anda pada Mei 1998?
  • Kerusuhan Mei 1998: 26 tahun masalah kekerasan seksual terhadap perempuan Indonesia disangkal
  • Kerusuhan Mei 1998: "Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan dibunuh?"

Kemunculan seorang putra membikin Sumarsih sangat bahagia lantaran kepingan itu melengkapi keluarga kecil yang sedang dibangun bersama Arief. Bahagia yang Sumarsih rasakan semakin paripurna setelah dia mengandung anak kedua, yang lahir 'hanya' berjarak 21 bulan dari Wawan.

"Jadi, sewaktu Wawan ulang tahun yang pertama, saya merasa mual-mual. Lalu ke dokter. Dokternya memberi ucapan selamat kalau saya hamil anak kedua," cerita Sumarsih.

Benedicta Rosalia Irma Normaningsih lantas dipilih menjadi nama putri Sumarsih dan Arief. Panggilannya: Irma.

Kelahiran Irma membuat Sumarsih, sekali lagi, mengucap syukur, di samping mengajaknya sejenak untuk melihat ke belakang.

Awal kedatangannya ke Jakarta, Sumarsih mengaku tidak betah. Berbeda dengan kehidupannya di desa yang "banyak kegiatan," hari-hari Sumarsih di Jakarta cuma berkutat di rumah serta pasar di saat suaminya, Arief, bekerja. Sejak menikah, tugas mencari pendapatan dipikul oleh Arief. Sumarsih diminta tak perlu turun gunung, sebagaimana dulu dia tunaikan di kampung halaman.

Namun, Sumarsih tak tinggal diam. Pernah ketika Arief sedang melakoni penelitian di daerah selama tiga bulan, Sumarsih melamar menjadi pegawai asuransi yang hanya bertahan dalam waktu relatif singkat.

Dari asuransi, Sumarsih bergeser ke bidang pendidikan, tepatnya guru. Profesi ini berlangsung cukup panjang, termasuk ketika dia mengandung Wawan.

Arief sempat berujar kepada Sumarsih untuk tidak bekerja saat kedua anak mereka, Wawan dan Irma, lahir. Permintaan ini, disebut Sumarsih, tidak bersifat memaksa. Dalam arti, semua keputusan berada di tangan Sumarsih.

Pernikahan keduanya, mengutip Sumarsih, didasarkan pada prinsip yang setara, bahwa masing-masing dari mereka tidak berperan sebagai objek, melainkan subjek. Lalu, keduanya juga saling sepakat untuk berkompromi atas bermacam kepentingan yang sifatnya fundamental.

Bagi Sumarsih, kompromi itu mewujud melalui keleluasaan dalam menunaikan peran sebagai perempuan yang mandiri sertakelakseorang ibu.

Maka, saat status Sumarsih bertambah dengan predikat ibu dari dua orang anak, dia tetap memutuskan untuk bekerja.

Pada 1982, selepas melewati berbagai tahapan seleksi dan tes, Sumarsih diterima bekerja di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), di bagian keuangan fraksi Golongan Karya (Golkar), partai yang berkuasa serta motor politik Orde Baru.

Pekerjaan di DPR tak menyempitkan waktu Sumarsih untuk anak serta keluarganya. Sumarsih mengingat kalau mereka akan pergi ke gereja bersama-sama setiap Minggu. Rutinitas ini bertahan awet serta baru berubah saat Wawan memiliki kendaraan sendirisemasa kuliah.

Sementara di rumah, Sumarsih, meski merekrut Pekerja Rumah Tangga (PRT) guna membantu mengurus beberapa tugas, tetap mengajari anak-anaknya bagaimana bertanggung jawab terhadap kewajiban.

"Baik Wawan maupun Irma saya selalu ajarkan untuk membereskan hal-hal mendasar seperti mencuci baju, di samping juga saya sering ajak untuk belajar memasak. Istilahnya tugas-tugas rumah tangga," tandas Sumarsih.

Hasil dari 'pelatihan' tersebut adalah sesi unjuk kemampuan memasak yang biasa diselenggarakan Sumarsih pada Sabtu atau Minggu. Beraneka sajian kuliner, mulai dari sate ayam, siomay, atau es buah, menjadi menu yang kerap mengisi meja makan mereka. Semua dimasak serta dibuat Wawan atau Irma, berbekal petunjuk yang diberikan Sumarsih.

Masa saat keluarga kecil Sumarsih bertumbuh merupakan potret yang berkelindan erat dengan situasi Indonesia pada dekade 1980-an manakala kelompok kelas menengah menjamur imbas boom komoditas minyak, merujuk analisis para ilmuwan politik.

Kelas menengah yang muncul di era ini kerap dicirikan sebagai golongan terdidik, bekerja secara mapan, hingga tinggal di sejumlah kota-kota besar.

Di luar Sumarsih yang sehari-hari mencari nafkah di kantor DPR, suaminya, Arief, menjalani profesi di lembaga think tank yang menonjol reputasinya, Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Sumarsih tidak kelewat peduli dengan konteks tersebut. Yang utama dan pertama baginya ialah keberlangsungan keluarganya, keluarga kecil beranggotakan Arief, Wawan, serta Irma, dan itu dianggap sudah lebih dari cukup.

Dengan keluarganya, Sumarsih seperti melukis berbagai panorama yang indah serta berwarna cerah di atas lembaran kanvas yang putih. Setiap lembaran memuat bermacam bentuk perayaan kecil, asa menjemput mimpi, juga doa-doa yang tak pernah putus.

"Saya melihat keluarga kami seperti lambang kebahagiaan kami. Wawan dan Irma adalah buah cinta kami. Kami sangat mencintai mereka," terangnya.

Bagian III

Kematian Wawan memukul telak dunia Sumarsih.

Sumarsih mengaku dirinya telah mati rasa ketika mengetahui Wawan sudah tidak lagi ada. Dia tak bisa merasakan sedih, apalagi suka cita.

Kantor tempatnya bekerja lantas menyediakannya cuti sepanjang tiga bulan agar kondisi Sumarsih perlahan membaik.

Selama tiga bulan, Sumarsih berdiam diri di rumah. Rumah yang dia pernah bayangkan dipenuhi cinta dan kasih sayang, mendadak, tanpa mengetuk pintu kesiapannya, berubah menjadi ruang kelam di mana air mata Sumarsih mengalir deras nyaris saban waktu.

Tangisnya yang pecah seperti sedang mempertanyakan, atau menggugat, kenapa Wawan terbunuh pada hari-hari pasca-kejatuhan Orde Baru.

"Saya di pojok sana," tunjuk Sumarsih ke titik di ruang tamu rumahnya, hanya berjarak dua kursi dari tempat kami duduk, "sambil nangis, membaca kitab suci, dan menunggu Harian Kompas yang saya langganan juga."

Ketika Wawan terbunuh, semuanya serba kabur, terlebih siapa yang melakukannyaatau mengapa penembakan itu mesti dilakukan. Surat kabar Kompas pun menjadi saluran utama Sumarsih dalam mengumpulkan informasi.

Begitu Sumarsih memegang koran, sorot matanya langsung meneliti dengan seksama satu per satu kolom berita, mencari perkembangan terbaru perihal demonstrasi 1998 yang menewaskan Wawan.

Saat pencariannya tidak membuahkan hasil, Sumarsih menutup koran dan mengulanginya lagi keesokan hari.

  • Dokumen rahasia AS diungkap: 'Prabowo perintahkan penghilangan aktivis 1998'
  • Kasus penembakan mahasiswa Trisakti, Semanggi I dan II, belum selesai setelah 20 tahun reformasi
  • Tragedi Mei 1998 : Kenangan dua ibu yang kehilangan anaknya

Di tengah memproses duka, Sumarsih, beberapa saat setelah Wawan disemanyamkan, didatangi perwakilan pemerintah lewat Departemen Sosial.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menyerahkan cek senilai Rp5 juta sebagai "bantuan duka," kata Sumarsih.

Sumarsih tak langsung merespons. Dia kemudian meminta izin terlebih dahulu untuk ke dapur. Di sana, Sumarsih berdoa.

"Tunjukkanlah apa yang seharusnya saya lakukan, Bunda Maria," Sumarsih menuturkan kembali isi doanya waktu itu.

Tak lama, Sumarsih balik menemui perwakilan pemerintah. Sumarsih menyebut bahwa dia bakal menandatangani cek tersebut selama uangnya diserahkan kepada pelaku yang menembak Wawan.

Permintaan Sumarsih ditolak perwakilan pemerintah tadi, berdalih syarat itu terlampau menyulitkan. Sebagai gantinya, bagaimana jika diserahkan saja kepada Palang Merah Indonesia (PMI) yang kebetulan ikut dalam rombongan.

Sumarsih, dengan tenang, menjawab sebaliknya: kalau untuk donasi ke PMI, tak perlu memakai cek dari pemerintah. Ada tiga plastik di lemari berisikan uang sumbangan atas pemakaman Wawan yang bisa dialihkan ke PMI, terang Sumarsih.

Gagal dengan syarat pertama, Sumarsih menyodorkan ketentuan berikutnya. Cek tersebut sumbangkan saja kepada para prajurit TNI yang bertugas pada hari ketika Wawan tertembak.

Lagi-lagi, pemerintah memberikan tanggapan serupa. Alasannya pun tak jauh berbeda: mencari kesatuan yang bertugas akan susah.

Negosiasi yang ditempuh Sumarsih pada akhirnya membikin perwakilan pemerintah angkat kaki membawa cek yang ditawarkan.

Sumarsih sendiri masih berkukuh apabila pemerintah hendak memberikannya santunan, maka seharusnya diserahkan kepada tentara-tentara yang 'mengamankan' demonstrasi 1998.

Sumarsih meneruskan sikapnya dengan menulis surat resmi kepada Menteri Sosial kala itu, Justika Baharsyah. Isinya sama: meminta uang duka diserahkan kepada prajurit TNI. Surat Sumarsih tak berbalas. Panggilan telepon juga tak diangkat.

Dari surat ke menteri, usaha Sumarsih pindah ke surat kabar. Ide ini bermula dari Arief, suaminya, yang mempunyai kemauan agar penolakan atas cek pemerintah disebarluaskan melalui iklan di koran.

Sumarsih lantas mengabarkan rencana tersebut kepada wartawan Femina, Marlini Hasan. Marlini menyatakan harga iklan di media cetak tergolong mahal. Marlini menyarankan supaya pemberitahuan soal cek dimuat di rubrik surat pembaca yang notabene lebih murah.

Saran Marlini disanggupi Sumarsih. Dia membuat surat dari pembaca dan mengirimkannya ke tabloid DeTak. Oleh redaksi, surat Sumarsih ditayangkan. Tak sekadar DeTak, Harian Kompas, belakangan, menyusul mempublikasikan surat pembaca dari Sumarsih.

Pesan yang termuat dalam surat Sumarsih cukup lantang.

"Intinya bahwa bantuan duka dari pemerintah melalui Menteri Sosial, Justika Baharsyah, kami sumbangkan untuk yang menembak Wawan," papar Sumarsih.

"Kalau tidak ditemukan, agar [cek] itu diberikan kepada prajurit yang bertugas di hari di mana Wawan ditembak."

Surat dari Sumarsih seketika viral, menjadi bahan obrolan di kalangan pemerintah dan parlemen. Salah satu anggota DPR, menurut keterangan Sumarsih, menyebutnya "berani melawan pemerintah." Sumarsih tak banyak menanggapi.

"Dan memang suratnya memantik kontroversi," ucap Sumarsih.

Kematian Wawan memecahkan teriakan Sumarsih dalam menentang hegemoni penyelenggaraan negara yang sewenang-wenang.

Selama masa krisis 1998, Sumarsih sengaja menepi dari protes maupun kritik. Statusnya sebagai pekerja di DPR memaksanya memilih sikap semacam itu. Kepada Wawan, Sumarsih pun menghimbaunya supaya tidak ikut dalam demonstrasi.

Sumarsih tak mau terjadi sesuatu ke anaknya. Dia senantiasa mengingatkan bahwa pemerintahan Soeharto itu "otoriter dan militeristik." Setiap mereka yang protes, tidak ada jalan bebas, imbuh Sumarsih.

"Wawan, kamu enggak perlu ikut demo. Negara sudah banyak yang mengurus. Saya bilang seperti itu ke dia," kenang Sumarsih.

"Jadi, saya bilang lagi ke dia kalau harus menyesuaikan diri ketika menjadi mahasiswa, begitu pun saya sebagai pegawai negeri."

Akan tetapi, Wawan tak benar-benar mengiyakannya. Dia tetap aktif turut serta dalam gelombang perlawanan.

"Nah, rupanya ketika saya melarang Wawan berdemonstrasi, menurut cerita teman-temannya, Wawan itu anak [fakultas] ekonomi tapi kalau mengadakan seminar [diskusi] di fakultas hukum," tambah Sumarsih.

Wawan merupakan anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Sejak kecil, hobinya membaca buku. Suatu hari, Sumarsih berkisah, Wawan kecil pernah tidak ikut serta dalam rombongan antar jemput sekolah hanya untuk pergi ke perpustakaan di Jakarta Barat dan mendaftarkan diri sebagai anggota di sana.

Memasuki dewasa, keingintahuan yang tersimpan dalam dirinya kian berkembang, terlebih ketika dia diterima menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Jakarta pada 1996, selepas menuntaskan pendidikan tingkat menengah di SMA Pangudi Luhur Van Lith di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Masa-masa perkuliahan yang dilalui Wawan tidak sepenuhnya lancar mengingat pada waktu itu tekanan untuk meminta Soeharto mundur dari jabatannya begitu masif.

Wawan sendiri, sepenuturan Sumarsih, tak mau ketinggalan dalam ambil bagian merespons kondisi politik yang limbung dengan, salah satunya, bergabung ke lembaga pers mahasiswa.

Pengalaman liputan Wawan, Sumarsih mengutarakan, ialah mendatangi sekaligus mewawancarai aktivis Budiman Sudjatmiko yang kala itu ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur, akibat melawan Orde Baru.

"Begitu dia sampai di rumah, dia cerita kepada saya kalau wawancara dengan Budiman. Berangkat tiga orang, bersama kawan-kawannya yang lain, dan masing-masing dapat uang saku dari kampus sebesar Rp45 ribu," sebut Sumarsih.

"Nah, dari uang saku itu, ternyata masih sisa Rp15 ribu. Akhirnya dibagi bertiga, masing-masing dapat Rp5 ribu," sambung Sumarsih seraya tertawa.

Kemudian saat tahun berganti ke 1998, keadaan bertambah genting. Surat kabar diisi dengan berita penculikan aktivis, penembakan mahasiswa, kerusuhan serta kekerasan rasial, sampai pengunduran diri Soeharto.

Di tengah itu, Wawan memutuskan untuk masuk ke tim relawan kemanusiaan yang tugasnya membantu para mahasiswa demonstran atau masyarakat sipil yang terluka karena bentrok.

Sumarsih tak mampu menutupi kegelisahannya. Dia cemas akan keselamatan Wawan. Pada setiap sesi makan malam, satu-satunya kesempatan keluarga kecilnya berkumpul dengan lengkap, Sumarsih terus mengingatkan Wawan untuk berhati-hati. Jangan mendekati titik panas kerusuhan, kira-kira demikian Sumarsih berpesan.

Saban hari, dari kantornya bekerja, Sumarsih mendengar suara tembakan yang pecah dan seolah berhamburan di udara. Dia tak pernah tahu apakah suara itu berasal dari peluru kosong, karet, atau bahkan yang tajam.

Yang Sumarsih tahu, dengan suara tembakan tersebut, negara sudah mengerahkan alat kekuasaannya untuk menyikat siapa saja, dan di sinilah dia takut akan nasib Wawan.

Berselang setengah tahun sejak kemunduran Soeharto, gejolak protes dari massa tetap bermunculan, dan ketakutan yang dibayangkan Sumarsih menjadi kenyataan.

Di halaman kampus Atma Jaya Jakarta, peluru tajam standar militer menembus tubuh Wawan. Wawan tewas seketika.

Peristiwa pahit yang kelak dikenal dengan Tragedi Semanggi I tersebut lantas mengubah arah mata angin kehidupan Sumarsih yang selalu dia mimpikan tenang tak bergelombang.

Selama hampir 20 tahun, Sumarsih berdiri di depan Istana Negara Jakarta, meminta pertanggungjawaban para pemegang kekuasaan dalam kematian putranya.

"Cinta saya kepada Wawan telah bertransformasi menjadi cinta kepada sesama. Dalam cinta ini, ada semangat dan harapan bagi saya yang hidup, bagi kami yang masih hidup, untuk terus berdiri, meminta negara melihat kami, korban atas pelanggaran berat yang sudah mereka lakukan," ujar Sumarsih.

Bagian IV

Pertama kali Elizabeth Drexler menghadiri Aksi Kamisan ialah pada 2008, setahun selepas aksi tersebut diluncurkan ke publik. Drexler merupakan antropolog dari Michigan State University, Amerika Serikat.

Aksi Kamisan meninggalkan impresi yang mendalam bagi Drexler. Dia menyebut bahwa Aksi Kamisan merupakan tempat di mana "siapa saja bisa datang dan berkata betapa semua pelanggaran HAM ini tidaklah benar."

Pada akhir dekade 1990-an, Drexler tiba di Indonesia dan memulai penelitiannya tentang bagaimana kekerasan negara serta impunitaskekebalanbekerja. Penelitiannya memakan waktu tak sebentar, kurang lebih 20 tahun.

Hasil risetnya yang intensif tersebut lalu dibukukan dengan judul Infrastructures of Impunity: New Order Violence in Indonesia (2024).

Dalam bukunya, Drexler menjelaskan keadilan yang tak kunjung diperoleh para korban kekerasan negara bukan sebab tidak adanya instrumen hukum yang mengakomodir kepentingan mereka, melainkan sengaja dilanggengkan oleh sebuah infrastruktur impunitas.

Infrastruktur impunitas ini, menurut Drexler, mencakup beberapa aspek krusial: jaringan hukum, militer, birokrasi, serta propaganda.

Temuan Drexler berangkat dari berbagai kekerasan HAM yang sampelnya diambil sejak pembantaian 1965, penembakan misterius (petrus), tragedi Tanjung Priok, hingga Mei 1998.

Ketika meriset tentang 1965, misalnya, Drexler mendapati korban kekerasan selalu dibingkai sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang jahat. Propaganda Orde Baru mewujud melalui narasi sejarah resmi hingga produk budaya populer seperti film.

Sementara dalam tragedi Mei 1998, lanjut Drexler, pihak-pihak yang bertanggungjawab atas penculikan aktivis maupun penembakan mahasiswa tidak pernah diseret ke pengadilan resmi sebab dilindungi struktur birokrasi militer yang kokoh.

Saat Reformasi menggantikan Orde Baru, struktur itu masih menancapkan dominasinya dengan, salah satunya, menjalin relasi bersama kepentingan elite sipil berkaitan pembagian atau pengukuhan kekuatan politik.

"Kadang-kadang [elemen infrastruktur impunitas] bekerja sendiri, kadang-kadang mereka bekerja sama. Tapi, yang terpenting, efeknya diperkuat oleh yang lain," kata Draxler kepada saya.

Di Indonesia, sistem impunitas tak lepas dari posisi otoritarianisme yang ditancapkan Soeharto, tidak lama usai dia menggeser kekuasaan Sukarno.

Tujuannya, mengutip Drexler, adalah supaya "mereka tidak dihukum," di samping "mempersempit ruang akuntabilitas" terhadap aksi-aksinya.

"Tapi, saya juga melihat bahwa mungkin juga mereka waktu itu tidak khawatir tentang impunitas karena mereka sangat kuat, mereka mengontrol segalanya," tegasnya.

"Dan saat itu, semuanya lebih banyak dikendalikan oleh militer sehingga banyak kekerasan secara langsung yang bermunculan."

Konsekuensi buruk yang diciptakan infrastruktur impunitas yakni pandangan yang menormalisasi kejahatan negara, bahwa negara melakukan itu untuk kepentingan yang lebih besar, Drexler mengungkapkan.

Sejauh mana infrastruktur impunitas bisa dibongkar bergantung dengan sejumlah faktortekanan publik hingga institusi sipilyang prosesnya membutuhkan tahapan yang berlapis.

Drexler mengingatkan semakin lama sistem impunitas berjalan, maka peluang tercipta otoritarianisme turut meningkat. Impunitas, pendek kata, mampu menuntun pada lahirnya kekerasan-kekerasan baru yang berpola, yang melibatkan kekuatan masif dari negara.

  • Mafia Berkeley, Ali Moertopo, hingga Opsus Tiga hal yang perlu diketahui tentang Orde Baru dan sepak terjangnya
  • Tentara duduki kampus, mahasiswa dikirim ke Nusakambangan, hingga larangan baca buku Pramoedya Tujuh hal yang perlu diketahui tentang NKK/BKK pada era Orde Baru
  • Pasang surut gerakan mahasiswa dan kebijakan depolitisasi kampus pada masa Orde Baru

Kendati begitu, Aksi Kamisan, bagi Drexler, adalah sejumput harapan, sekecil apa pun itu, agar sistem impunitas tidak terus berlanjut.

"Di Aksi Kamisan, kita bisa melihat ada hubungan di antara kasus [pelanggaran HAM] lama dan sekarang. Kasus-kasus besar dan kasus-kasus kecil," tandasnya.

"Di Kamisan, setiap orang, setiap korban, dapat bertemu, dan masing-masing mereka merasa seperti didukung satu sama lain. Dan itu sangat penting."

Lewat Aksi Kamisan, negara seolah diberi pesan bahwa setiap kebijakan, setiap aksi, dan setiap tindakan tidak pernah luput dari pengawasan, papar Drexler. Negara tak dapat memperlakukan warganya secara semena-mena.

Apalagi, Drexler menggarisbawahi, rezim yang berkuasa di Indonesia sepanjang satu dekade terakhir dibentuk dengan saling berbagi kepentingan antara para elite.

"Saya pikir menemukan orang-orang berkumpul di tempat yang sama, saling menguatkan, adalah [hal yang] esensial di situasi seperti sekarang ini," ujarnya.

Apa yang muncul dalam Aksi Kamisan, bagaimana aksi ini sudah menyentuh angka 900 penyelenggaraan, memperlihatkan upaya untuk menekan pemegang kekuasaan senantiasa berhubungan dengan variabel yang paling mendasar: konsistensi.

Drexler lantas menyodorkan satu nama yang menjaga api itu tetap menyala.

Sumarsih.

Bagian V

Sebelum wawancara berakhir, saya sempat bertanya kepadanya mengenai apa makna di balik Catarina yang menempel pada namanya, dan mengapa orangtuanya memberikannya itu.

Sumarsih tertawa. Dia bilang tak punya jawaban yang pas. Orangtuanya juga tidak pernah membahasnya.

Beberapa hari setelah pertemuan dengan Sumarsih, saya membuka mesin pencarian, mencoba mencari tahu arti Catarina.

Dalam ajaran Katolik, Catarina lekat dengan tokoh-tokoh suci perempuan, para santo, yang digambarkan menjaga keteguhan iman sekaligus dilimpahi banyak kebijaksanaan.

Dengan demikian, dapatkah disimpulkan bahwa orangtua Sumarsih menaruh harapan agar anaknya senantiasa mengamalkan nilai-nilai yang terbungkus dalam jiwa Catarina, sesuai yang diyakini tradisi Katolik?

Kaki Sumarsih terus melangkah mencari petunjuk-petunjuk ihwal kematian Wawan. Kaki itu bahkan bertahan sampai lebih dari 30 tahun lamanya, termasuk tatkala dia menggagas serta mengikuti Aksi Kamisan hingga hari ini, yang sudah menyentuh 900 pelaksanaan.

Apakah Bu Sumarsih memaafkan negara atas apa yang menimpa Wawan, saya bertanya.

Sumarsih diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab dengan sebaris kalimat yang cukup singkat.

"Saya harus memaafkan siapa?" ucapnya, pelan.

"Tidak ada yang mengaku sampai sekarang. Tidak ada yang bertanggungjawab sampai sekarang," dia menambahkan.

Lagipula, sambung Sumarsih, apa artinya maaf jika negara masih melakukan kekerasan maupun pelanggaran kepada masyarakatnya sendiri, baik itu yang terjadi di Papua, Kalimantan, atau daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia.

Peristiwa kelam 1998 berlalu, tapi watak dan karakternya masihlah sama, sebut Sumarsih.

Polisi menembaki warga. Tentara menggusur masyarakat adat. Orang Asli Papua (OAP) disingkirkan pelan-pelan dengan modus operandi "atas nama pembangunan." Ribuan individu ditangkap hanya karena kecewa serta marah atas kebijakan pemerintah yang tak berpihak pada Agustus tahun lalu.

Semua itu, Sumarsih menekankan, hanya mempertebal betapa negara tidak pernah mau belajar dari kesalahannya.

Bahwa negara senantiasa menggunakan instrumen kekuasaannya semata-mata untuk menegaskan posisi mereka yang tak bisa digugat siapa pun.

Pencarian jawaban yang dilakoni Sumarsih terhadap tewasnya Wawan diakuinya sudah mengantarkan dirinya ke dalam perjuangan kemanusiaan. Sumarsih menyatakan satu-satunya tembok yang bakal menghalangi jalannya hanyalah usia.

Tak jauh dari kursi tempat kami duduk, terlihat satu meja makan yang didesain untuk empat orang. Sumarsih menengok ke meja makan itu. Dia bilang memorinya kerap membawa ke momen di mana kedua anaknya, Wawan dan Irma, saling bertukar cerita sehari-hari, dengan Sumarsih serta Arief menyimaknya secara antusias.

Hati Sumarsih terasa penuh.

  • 'Bapak pembangunan' dan pelanggar HAM Mengapa Soeharto dianggap tak layak jadi pahlawan nasional?
  • Temuan Komisi Pencari Fakta di balik kerusuhan Agustus 2025: 'Akumulasi kemarahan publik dan pola operasi mirip Malari 1974'
  • Kisah para eksil 1965: Mereka yang dibui tanpa jeruji


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cerita RS di Kudus Tangani Campak: Dari 113 Suspek, 12 Positif Usai 0-9 Bulan
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
AHY Ingin Suara Demokrat Tak Kalah dari Gerindra di Pemilu 2029
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
Nadiem Geleng-geleng Usai Dengar Kesaksian Vendor Chromebook di Sidang
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Dewan Perdamaian Lumpuh: Pembicaraan Tertunda Akibat Perang Iran
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Ali Larijani: Lebih dari 500 Tentara AS Tewas Hanya dalam Beberapa Hari, Kisah Ini akan Berlanjut!
• 14 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.