Seiring berlanjutnya perang di Iran, otoritas Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz. Banyak kapal tanker terpaksa berhenti sementara di Teluk Persia. Akibatnya, tarif pengiriman kapal tanker raksasa di Timur Tengah mencapai rekor tertinggi pada Selasa. Ditambah dengan penghentian produksi di sejumlah fasilitas minyak dan gas, harga minyak mentah serta gas alam Eropa terus melonjak. Pasar khawatir kenaikan harga energi akan mendorong inflasi, sehingga bursa saham global berada di bawah tekanan dan saham maskapai penerbangan ikut merosot.
EtIndonesia. Selat Hormuz—yang terletak di antara Iran dan Oman—setiap hari mengangkut sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Karena serangan Iran terhadap kapal-kapal di selat tersebut, ratusan tanker tertahan di sekitar pelabuhan utama dan tidak dapat mengirimkan energi ke Asia, Eropa, dan wilayah lain.
Sejak pekan lalu, tarif pengiriman supertanker dari Timur Tengah ke Asia hampir melonjak empat kali lipat, dan pada Selasa menembus rekor sekitar US$424.000 per hari.
Irak memperingatkan bahwa dalam beberapa hari ke depan mereka mungkin terpaksa memangkas produksi lebih dari 3 juta barel per hari. Arab Saudi telah menghentikan operasi kilang terbesarnya, sementara Israel juga menutup sebagian fasilitas minyak dan gas.
Harga berjangka minyak mentah Brent Crude pada Selasa sempat naik hampir 8% dan menembus US$83 per barel, level tertinggi sejak Juli 2024. Sejak Jumat pekan lalu, akumulasi kenaikannya telah melampaui 15%.
Qatar pada Senin menangguhkan produksi LNG—yang menyumbang sekitar 20% pasokan global. Harga gas alam Eropa sempat melonjak hingga 40%. Harga gula, pupuk, dan kedelai juga naik bersamaan.
Pasar keuangan pun bergejolak. Saat pembukaan perdagangan Selasa, tiga indeks utama Wall Street turun lebih dari 2%, dengan S&P 500 jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua bulan.
Di Eropa, indeks acuan STOXX 600 turun 3,3% pada Selasa sore; seluruh sektor melemah, dipimpin saham keuangan. Bursa saham Korea Selatan—yang sangat bergantung pada impor energi—anjlok lebih dari 7%.
Terdampak lonjakan harga minyak, saham maskapai dan pariwisata turun untuk hari kedua berturut-turut. Saham Delta Air Lines turun sekitar 3%, Royal Caribbean turun sekitar 4%. Saham Japan Airlines merosot 6,4%, sementara Korean Air jatuh 10,3%—penurunan terbesar sejak Maret 2020. Maskapai besar Tiongkok ditutup melemah sekitar 2%–4%.
Berdasarkan data AAA, harga bensin rata-rata nasional di AS naik sekitar 11 sen dalam satu hari menjadi US$3,11 per galon, dan diperkirakan masih akan bertambah 10–25 sen dalam waktu dekat.
Investor khawatir kenaikan harga minyak akan memicu inflasi. Pasar obligasi pemerintah di zona euro, AS, dan Inggris mengalami aksi jual besar pada Selasa. Pasar kini memperkirakan peluang Federal Reserve menurunkan suku bunga pada Juli sekitar 55%.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,1%, tertinggi dalam lebih dari sepekan. Dolar AS terus menguat—indeks dolar naik 0,77%; yen melemah 0,24%; emas turun 2,7%; dan bitcoin turun 2,2%.
Laporan dari Amerika Serikat oleh reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia




