EtIndonesia. Baru-baru ini media mengungkapkan bahwa setelah Amerika Serikat dan Israel bersama-sama menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, para menteri luar negeri Partai Komunis Tiongkok dan Iran melakukan pembicaraan telepon. Beijing kemudian memerintahkan Kedutaan Besar PKT di Iran untuk segera menghancurkan semua dokumen sensitif, bahkan termasuk rincian rencana pelaksanaan dari Perjanjian Kerja Sama Komprehensif 25 Tahun PKT–Iran. Pengamat menilai langkah ini bertujuan mengurangi risiko penyelidikan dan sanksi dari Amerika Serikat.
Menurut informasi yang diperoleh dari pertukaran intelijen internasional dan Taiwan, setelah Ali Khamenei tewas, Beijing segera memerintahkan kedutaannya di Iran untuk menghancurkan sejumlah besar dokumen sensitif.
Cakupan dokumen tersebut sangat luas, termasuk semua data terkait penjualan senjata, program bantuan, data pembelian minyak, bahkan rincian pelaksanaan perjanjian kerja sama 25 tahun antara PKT dan Iran. Para analis menilai langkah ini dimaksudkan untuk menurunkan risiko penyelidikan dan sanksi dari pihak Amerika.
Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa sebelumnya Beijing memperkirakan Khamenei akan terlebih dahulu melarikan diri ke Rusia untuk berlindung. Namun tidak disangka militer AS melakukan operasi “pemenggalan kepemimpinan” (decapitation strike), yang membuat pihak Tiongkok tidak siap.
Pada saat yang sama, rudal anti-kapal supersonik yang dipesan Iran dari Tiongkok sebenarnya dijadwalkan akan dikirim pada awal Maret. Namun Presiden AS Donald Trump justru memilih momen ini untuk melakukan serangan presisi. Hal ini ditafsirkan sebagai langkah yang disengaja untuk menghantam penempatan militer Beijing di Timur Tengah.
“Setelah Amerika Serikat dan Israel menghancurkan fasilitas misil Iran, mereka tentu sangat memperhatikan apakah masih ada bahan bakar misil atau komponen yang akan dikirim ke Iran. Perintah untuk menghancurkan bukti bantuan militer itu sebenarnya tidak banyak berguna, karena masih ada banyak bukti eksternal—misalnya pesawat transportasi yang terbang ke sana—yang menunjukkan adanya bantuan kepada Iran,” ujar peneliti dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi.
“Langkah tergesa-gesa untuk menghancurkan bukti itu terutama untuk menghindari penyelidikan Amerika atau kemungkinan tindakan hukuman dari AS terhadap PKT di masa depan,” tambahnya.
Sumber internal Partai Komunis Tiongkok juga mengungkapkan bahwa setelah serangan terhadap Khamenei, pimpinan tertinggi PKT khawatir demonstrasi anti-pemerintah yang muncul di Iran dapat menimbulkan “efek demonstrasi” yang menyebar ke dalam negeri.
Departemen propaganda telah memperketat pengawasan opini publik, memerintahkan militer untuk meningkatkan frekuensi laporan ideologi dan pendidikan politik. Bahkan para perwira dan tentara diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak membahas situasi tersebut secara pribadi, khususnya tidak boleh membandingkan kondisi Iran dengan situasi di dalam negeri.
Para analis menilai bahwa tewasnya Khamenei memberikan dampak besar terhadap internal PKT. Peristiwa ini terjadi ketika militer Tiongkok sedang mengalami gelombang pembersihan besar, yang membuat moral pasukan goyah. Beijing khawatir perubahan besar di Iran akan mempengaruhi sikap dan moral militer.
Shen Mingshi menambahkan bahwa Xi Jinping sangat khawatir terhadap kemungkinan adanya mata-mata atau infiltrasi di sekitarnya yang dapat membocorkan pergerakannya—seperti yang terjadi pada pemimpin lain yang menjadi target serangan. Ia juga menyebut bahwa baru-baru ini PKT menangkap seorang pejabat setingkat wakil provinsi dengan alasan pertama bahwa ia “mendengarkan atau menonton komentar yang tidak pantas dari luar negeri”, yang menunjukkan bahwa kontrol terhadap ucapan semakin diperketat dan suasana menjadi sangat tegang.
Selain itu, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap ucapan masyarakat. Sejak 28 Februari, isu terkait Iran dijadikan topik pengawasan utama, dan semua platform internet diminta untuk secara ketat menyaring diskusi mengenai Iran.
Komentator urusan terkini Li Linyi mengatakan bahwa baik penghancuran bukti bantuan militer maupun pengetatan kontrol opini publik menunjukkan satu hal: yang paling dikhawatirkan PKT saat ini adalah stabilitas kekuasaannya sendiri.
Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Chang Chun





