Jakarta: Tax Payer Community menyatakan sikap menuntut penghentian perang yang terjadi di sejumlah negara. Salah satunya agresi militer terbaru Amerika Serikat dan Israel di Iran.
Ketua Tax Payer Community Abdul Koni mengatakan, uang pajak rakyat seharusnya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan membiayai konflik bersenjata.
"Kami menegaskan uang pajak rakyat bukan untuk membiayai perang, melainkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di negaranya masing-masing, memperkuat pelayanan publik, dan membangun masa depan yang lebih aman dan sejahtera," kata Koni dalam siaran pers, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menambahkan para pembayar pajak tidak rela uang yang mereka setorkan digunakan untuk menimbulkan kerusakan dan menghilangkan nyawa manusia.
Pernyataan tersebut disampaikan seiring aksi unjuk rasa damai di Times Square, New York City. Ribuan warga Amerika Serikat berkumpul menyuarakan penolakan terhadap eskalasi agresi militer di Iran.
Para demonstran membawa poster bertuliskan 'Stop the War' dan 'Tax Dollars for People, Not War', serta menyerukan agar konflik dihentikan dan penyelesaiannya ditempuh melalui jalur diplomasi.
Sebagai organisasi advokasi masyarakat pembayar pajak, Tax Payer Community menilai penggunaan anggaran publik untuk operasi militer luar negeri bertentangan dengan prinsip akuntabilitas fiskal dan kepentingan rakyat.
Sekolah Keputrian Iran yang diserang oleh Israel. Foto: Anadolu
Baca Juga :
Kemenlu Prioritaskan Perlindungan 519 Ribu WNI di Timur Tengah, Terbanyak di Arab SaudiMenurut mereka, anggaran pertahanan Amerika Serikat setiap tahun mencapai ratusan miliar dolar. Di tengah tekanan inflasi, kenaikan biaya hidup, krisis perumahan, serta kebutuhan reformasi layanan kesehatan dan pendidikan, pengeluaran perang dinilai berpotensi memperbesar defisit dan mengalihkan sumber daya dari kebutuhan domestik yang mendesak.
"Rakyat Amerika bekerja keras dan membayar pajak dengan harapan dana tersebut digunakan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka, bukan untuk memperluas konflik bersenjata di luar negeri. Perang hanya melahirkan penderitaan, bukan solusi," ujar Koni.
Tax Payer Community juga menilai eskalasi militer di Iran berisiko meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, memicu krisis kemanusiaan, serta mengganggu stabilitas kawasan. Selain itu, konflik tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global, terutama karena ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
Kenaikan harga minyak mentah global dapat berdampak pada peningkatan harga bahan bakar dalam negeri, memperburuk inflasi, serta menambah beban masyarakat berpenghasilan rendah dan kelas menengah.
Tax Payer Community menilai aksi demonstrasi di Times Square mencerminkan meningkatnya kesadaran publik bahwa perang bukanlah solusi atas konflik internasional. Organisasi tersebut juga mendesak pemerintah Amerika Serikat dan Kongres untuk menjalankan fungsi pengawasan secara tegas terhadap penggunaan anggaran militer agar tetap transparan dan sesuai kepentingan rakyat.
Tax Payer Community menyampaikan tiga tuntutan utama, yaitu penghentian segera eskalasi militer di Iran, memprioritaskan diplomasi dan negosiasi damai, serta mengalihkan anggaran perang untuk kebutuhan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan stabilitas ekonomi domestik.
"Perang tidak pernah membawa kemenangan absolut. Yang ada hanyalah penderitaan manusia, kerusakan sosial, dan beban ekonomi jangka panjang," ujar Koni.




