Harga Mobil Naik Lebih Cepat dari Pendapatan, Picu Fenomena Down Trading

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Kenaikan harga mobil yang lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan masyarakat, dinilai menjadi salah satu faktor yang mengubah perilaku konsumen di pasar otomotif.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menyebut, fenomena tersebut membuat sebagian konsumen terpaksa menyesuaikan pilihan kendaraan yang dibeli, dari segi harga yang menyangkut besaran angsuran, efisiensi, hingga pengeluaran untuk perawatan rutin.

Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir pendapatan kelas menengah di Indonesia rata-rata hanya meningkat sekitar 3,5 persen per tahun. Sementara itu, harga mobil baru justru naik lebih cepat, yakni sekitar 5 hingga 7 persen setiap tahunnya.

Kondisi ini membuat daya beli masyarakat tidak mampu mengejar kenaikan harga kendaraan baru. Alhasil, banyak konsumen yang akhirnya menurunkan pilihannya atau yang biasa disebut sebagai fenomena “down trading”.

“Kalau kita lihat kelas menengah rata-rata tiap tahun naiknya sekitar 3,5 persen, tapi harga mobil naiknya 5 sampai 7 persen. Artinya jangan heran kalau misalkan 70 sampai 80 persen pasar otomotif itu terkonsentrasi di harga sekitar Rp300 jutaan, itu yang paling laku,” ujar Josua di sela-sela Media Iftar Toyota di Jakarta, Jumat (6/3).

Ia menjelaskan, konsumen saat ini juga semakin rasional dalam mengambil keputusan membeli kendaraan. Jika sebelumnya faktor gengsi atau kebanggaan menjadi pertimbangan utama, kini konsumen lebih fokus pada kemampuan finansialnya.

Menurut Josua, pembeli mobil kini jauh lebih sensitif terhadap besaran cicilan, efisiensi kendaraan, hingga biaya perawatan. Pertimbangan tersebut menjadi faktor penting sebelum akhirnya memutuskan membeli kendaraan.

Selain itu, tekanan terhadap daya beli kelas menengah juga mulai terlihat dari perubahan komposisi pasar. Salah satu indikasinya adalah meningkatnya pembiayaan kendaraan bekas oleh perusahaan leasing.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebagian konsumen yang sebelumnya mampu membeli mobil baru, kini beralih ke mobil bekas sebagai alternatif yang lebih terjangkau, serta penawaran dengan besaran uang muka yang relatif kecil ketimbang pembelian mobil baru.

“Yang tadinya bisa beli mobil baru sekarang beli bekas. Sekarang data pembiayaan leasing mobil bekas meningkat. Terjadi fenomena aspek ekonomi dan faktor berkaitan cicilan dan daya beli masyarakat menjadi faktor penting memengaruhi juga keputusan konsumen,” kata Josua.

Di sisi lain, ketidakpastian kondisi ekonomi juga membuat sebagian masyarakat memilih menahan pengeluaran besar. Dalam situasi seperti ini, masyarakat cenderung menyimpan dana atau mengalihkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti emas.

Menurut Josua, perubahan perilaku tersebut menunjukkan bahwa keputusan membeli kendaraan saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, khususnya kemampuan membayar cicilan dan kondisi keuangan rumah tangga.

Meski demikian, ia menilai pasar otomotif Indonesia masih memiliki potensi besar. Tingkat kepemilikan mobil di dalam negeri masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan, sehingga peluang pertumbuhan jangka panjang tetap terbuka.

"Artinya kalau lihat pasarnya masih besar, persaingannya berubah cepat, banyak pemain baru masuk membuat kompetitif, di sisi lain para pemain di industri ini harus adaptasi lebih cepat, jangan sampai pasarnya ramai tapi produksinya tidak menjadi kuat," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengendara Motor Meninggal Tertimpa Runtuhan Bangunan di Kebraon saat Hujan Disertai Angin Kencang
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Menanti Pemulihan Kinerja Jasa Marga (JSMR) pada 2026
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
BPN Kabupaten Tangerang Targetkan 1.634 Sertifikat Tanah Wakaf di Tahun 2026-2028
• 12 jam lalueranasional.com
thumb
Hukum Zakat Fitrah bagi yang Wafat Sebelum Lebaran, Simak Penjelasan Lengkapnya
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Penderita GERD Wajib Tahu, Ini Cara Mengatasinya Menurut Ahli
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.