Periset Pusat Riset Veteriner Badan Riset dan Inovasi Nasional, Fitrine Ekawasti, menjelaskan fenomena induk hewan yang menolak anaknya sebagai respons biologis yang kompleks.
Penjelasan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap kisah anak monyet makaka di Jepang bernama Punch yang dikucilkan induknya. Kisah Punch viral di sosial media beberapa waktu belakangan.
“Penolakan induk terhadap anak merupakan fenomena biologis kompleks yang tidak dapat dinilai hanya dari sudut pandang emosional manusia,” kata Fitrine melalui unggahan di akun Instagram BRIN, Sabtu (7/3).
Menurut BRIN, perilaku induk yang tidak mengakui atau merawat anaknya bisa dipengaruhi berbagai faktor biologis, sosial, hingga kondisi lingkungan.
Penolakan induk terhadap anaknya terjadi akibat faktor biologis dan lingkungan termasuk gangguan hormonal, kondisi fisiologis induk, viabilitas anak, serta stres lingkungan dan sosial.
“Dalam perspektif evolusi, induk bisa berhenti merawat anak yang peluang hidupnya rendah untuk menghemat energi. Jadi, penolakan induk bukan berarti ‘tidak sayang’, melainkan respons biologis alami atau akibat gangguan tertentu,” katanya.
Ada beberapa faktor yang membuat induk hewan tidak mau mengakui atau merawat anaknya, sebagai berikut:
Faktor biologis dan kesehatan: ketidakseimbangan hormon, gangguan kesehatan induk, viabilitas anak, serta gangguan bonding awal (sensitive period).
Faktor pengalaman dan status reproduksi: perbedaan pengalaman antara induk yang baru pertama kali melahirkan (primipara) dan yang sudah berpengalaman (multipara).
Faktor sosial (pada primata sosial seperti makaka): hierarki kelompok dan tekanan sosial dari individu dominan.
Faktor lingkungan: gangguan habitat, kebisingan, serta intervensi manusia.
BRIN juga menekankan manusia tidak perlu selalu ikut campur dalam situasi seperti ini. Intervensi sebaiknya dilakukan hanya dalam kondisi tertentu.
“Manusia sebaiknya ikut campur jika terjadi di lingkungan terkontrol (kebun binatang, penangkaran, pusat rehabilitasi), anak berada dalam kondisi medis kritis dan berisiko mati tanpa bantuan, ada kepentingan konservasi, terutama pada spesies dengan populasi terbatas, serta terjadi kekerasan atau pengabaian berat yang menyebabkan penderitaan berkepanjangan,” ungkapnya.
Sebaliknya, jika peristiwa terjadi di habitat liar, manusia sebaiknya membiarkan proses alami berlangsung. Terutama jika induk masih berada di sekitar anak sehingga masih ada peluang rekonsiliasi atau bonding secara alami.
Intervensi manusia yang berlebihan justru dapat mengganggu struktur sosial satwa.
“Karena itu, keputusan yang diambil perlu mempertimbangkan kesejahteraan hewan, ilmu pengetahuan, dan etika konservasi,” ujar Fitrine.
“Kesehatan hewan jadi pegangan, konservasi lestari jadi tujuan, intervensi berpadu pengetahuan, agar alam terjaga sepanjang zaman,” sambung dia.





