Di Balik Kisah Monyet Punch di Jepang, BRIN Ungkap Alasan Induk Tolak Anaknya

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Periset Pusat Riset Veteriner Badan Riset dan Inovasi Nasional, Fitrine Ekawasti, menjelaskan fenomena induk hewan yang menolak anaknya sebagai respons biologis yang kompleks.

Penjelasan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap kisah anak monyet makaka di Jepang bernama Punch yang dikucilkan induknya. Kisah Punch viral di sosial media beberapa waktu belakangan.

“Penolakan induk terhadap anak merupakan fenomena biologis kompleks yang tidak dapat dinilai hanya dari sudut pandang emosional manusia,” kata Fitrine melalui unggahan di akun Instagram BRIN, Sabtu (7/3).

Menurut BRIN, perilaku induk yang tidak mengakui atau merawat anaknya bisa dipengaruhi berbagai faktor biologis, sosial, hingga kondisi lingkungan.

Penolakan induk terhadap anaknya terjadi akibat faktor biologis dan lingkungan termasuk gangguan hormonal, kondisi fisiologis induk, viabilitas anak, serta stres lingkungan dan sosial.

“Dalam perspektif evolusi, induk bisa berhenti merawat anak yang peluang hidupnya rendah untuk menghemat energi. Jadi, penolakan induk bukan berarti ‘tidak sayang’, melainkan respons biologis alami atau akibat gangguan tertentu,” katanya.

Ada beberapa faktor yang membuat induk hewan tidak mau mengakui atau merawat anaknya, sebagai berikut:

BRIN juga menekankan manusia tidak perlu selalu ikut campur dalam situasi seperti ini. Intervensi sebaiknya dilakukan hanya dalam kondisi tertentu.

“Manusia sebaiknya ikut campur jika terjadi di lingkungan terkontrol (kebun binatang, penangkaran, pusat rehabilitasi), anak berada dalam kondisi medis kritis dan berisiko mati tanpa bantuan, ada kepentingan konservasi, terutama pada spesies dengan populasi terbatas, serta terjadi kekerasan atau pengabaian berat yang menyebabkan penderitaan berkepanjangan,” ungkapnya.

Sebaliknya, jika peristiwa terjadi di habitat liar, manusia sebaiknya membiarkan proses alami berlangsung. Terutama jika induk masih berada di sekitar anak sehingga masih ada peluang rekonsiliasi atau bonding secara alami.

Intervensi manusia yang berlebihan justru dapat mengganggu struktur sosial satwa.

“Karena itu, keputusan yang diambil perlu mempertimbangkan kesejahteraan hewan, ilmu pengetahuan, dan etika konservasi,” ujar Fitrine.

“Kesehatan hewan jadi pegangan, konservasi lestari jadi tujuan, intervensi berpadu pengetahuan, agar alam terjaga sepanjang zaman,” sambung dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rizki Sadig Salurkan Paket Berkebun di Kediri, Ajak Warga Manfaatkan Lahan Rumah
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Diduga Menjual Produk Kecantikan Tidak Sesuai Label, dr Richard Lee Ditahan
• 5 jam lalukompas.id
thumb
4 Kombes Digeser ke Baintelkam Polri setelah Mutasi Februari 2026
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Purbaya Berencana Kucurkan Tambahan Rp 100 Triliun ke Perbankan 
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Antusiasme Warga Mudik Lebih Awal demi Hindari Kepadatan Jelang Lebaran
• 43 menit lalukompas.com
Berhasil disimpan.