Konflik Iran vs AS-Israel itu Konflik Politik Bukan Teologis, ini Penjelasannya

wartaekonomi.co.id
20 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, sejumlah pejabat dan tokoh politik dari pihak AS dan Israel mulai menggunakan retorika agama untuk menggambarkan konflik tersebut.

Dalam beberapa pernyataan publik, perang ini digambarkan sebagai bagian dari "pertempuran atau perang suci" yakni penggambaran seolah-olah konflik ini adalah perang antara "kebaikan melawan kejahatan".

Retorika Agama dari Pemimpin AS dan Israel

Sejumlah pejabat Amerika dan Israel menggunakan referensi agama ketika berbicara tentang konflik dengan Iran.

Sebagai contoh, pernyataan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang menyeret narasi teologis dalam menjelaskan serangan ke Iran.

"Kita membaca dalam bagian Taurat minggu ini: 'Ingatlah apa yang dilakukan Amalek kepadamu', Kita ingat dan kita bertindak," kata Netanyahu.

The Guardian menyebut pernyataan Netanyahu itu ingin menyebarkan narasi kebencian dengan menyeret masalah teologi, Amalek adalah bangsa dalam Alkitab yang digambarkan sebagai musuh eksistensial bangsa Israel.

Dengan menyamakan Iran dengan Amalek, Netanyahu menempatkan konflik modern dalam narasi perang agama kuno seolah-olah Israel sedang memerangi "yang jahat".

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pernyataannya menyebut kepemimpinan Iran sebagai "religious fanatic lunatics".

Pernyataan ini menempatkan konflik dalam kerangka pertarungan antara rasionalitas Barat vs ekstremisme agama Syiah yang sering dipakai dalam narasi perang ideologis.

Senada, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, juga dikritik karena menyindir keyakinan eskatologi Syiah Iran sebagai: "Islamist prophetic delusions". Komentar ini dianggap sebagai serangan terhadap keyakinan teologis Iran, khususnya dalam konsep kedatangan Imam Mahdi dalam eskatologi Syiah.

Beberapa tokoh bahkan merujuk pada kisah dalam kitab suci atau konsep "akhir zaman" (Armageddon) ketika membicarakan konflik di Timur Tengah. Narasi seperti ini menempatkan perang bukan sekadar konflik geopolitik, tetapi seolah menjadi bagian dari rencana ilahi.

Mengapa Konflik Dibingkai sebagai "Perang Suci" ?

Pemimpin negara macam anak buah Trump dan Netanyahu berkepentingan secara politik menyebarkan narasi teologis, apa tujuannya?

Membangun dukungan domestik

Menggambarkan perang sebagai perjuangan moral atau religius dapat membuat masyarakat lebih mudah mendukung tindakan militer.

Menyederhanakan konflik yang kompleks

Konflik geopolitik yang kompleks dapat disederhanakan menjadi narasi "kami melawan mereka". Padahal lebih dari itu, perang ini murni karena dimensi persaingan politik global, bisa karena AS ingin mempertahankan gelar sebagai "negara adi kuasa", "polisi dunia", atau ingin mengamputasi potensi negara lain, terutama China dan Rusia menjadi negara superpower berikutnya.

Menciptakan mobilisasi ideologis

Narasi agama dapat memobilisasi kelompok tertentu, terutama komunitas religius yang melihat konflik Timur Tengah sebagai bagian dari keyakinan mereka.

Para akademisi menyebut pendekatan ini sebagai "civilisational framing", yaitu menggambarkan konflik sebagai benturan antara dua peradaban atau sistem nilai.

Risiko dari Retorika Keagamaan

Laporan dari Al Jazeera memperingatkan bahwa penggunaan bahasa religius dalam perang memiliki risiko besar.

Jika konflik dibingkai sebagai "perang suci", maka lawan bisa dipersepsikan sebagai musuh absolut, bukan sekadar pihak lawan politik. Hal ini dapat:

  • Meningkatkan kebencian dan dehumanisasi musuh
  • Membuat kompromi diplomatik semakin sulit
  • Memperpanjang konflik karena dianggap sebagai perjuangan ideologis

Selain itu, retorika semacam ini juga berpotensi memperluas konflik menjadi ketegangan antara kelompok agama atau peradaban.

Intinya adalah perang Iran vs AS-Israel sebenarnya adalah konflik geopolitik dan kekuasaan, bukan konflik teologis.

Namun, penggunaan bahasa religius oleh para pemimpin dapat mengubah cara masyarakat memaknai perang tersebut.

Ketika konflik dipresentasikan sebagai “perang suci”, dukungan publik mungkin meningkat, tetapi peluang perdamaian justru bisa semakin jauh.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komnas HAM: Warisan UU Cipta Kerja Bikin Konflik Agraria Makin Berdarah
• 7 jam laludisway.id
thumb
Di Balik Perintah Siaga 1 TNI Imbas Konflik Timur Tengah
• 17 jam laludetik.com
thumb
Jangan Tergiur Harga Kendaraan Bekas, Kenali Ciri BPKB dan STNK Palsu
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
218 Jembatan Rampung Dibangun, Prabowo: Tidur Lega Anak Desa Tak Perlu Menyeberangi Sungai Lagi
• 6 jam laludisway.id
thumb
Kawanan Pemuda di Lamongan Ditangkap: Bangunkan Sahur Pakai Sound Horeg
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.