FEDERASI Sepak Bola Internasional (FIFA) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Lenovo sebagai mitra teknologi tunggal untuk mendukung perhelatan Piala Dunia 2026. Langkah ini diambil guna mengatasi tantangan logistik dan operasional yang diprediksi menjadi yang tersulit dalam sejarah turnamen sepak bola jagat raya tersebut.
Dalam ajang Lenovo Tech World 2026 di Hong Kong, Selasa (10/3), Chief Technology and Delivery Officer Lenovo, Art Hu, mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengerahkan teknologi terkini, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk mengintegrasikan seluruh elemen kompetisi.
"Lenovo adalah mitra teknologi pertama FIFA di tingkat global. Jadi, kami harus membangun kepercayaan menggunakan keunggulan teknologi kecerdasan buatan (AI)," ujar Art Hu.
Baca juga : FIFA Kirim Tim ke Meksiko: Tinjau Keamanan dan Mobilitas Jelang Piala Dunia 2026
Menyatukan Data yang TerisolasiPiala Dunia 2026 mencatatkan sejarah baru dengan melibatkan 48 tim yang bertanding di 16 kota di tiga negara tuan rumah.
Dengan total 104 pertandingan, aspek operasional mulai dari pengawasan wasit, keamanan siber, siaran resmi, hingga keamanan fisik stadion menuntut integrasi data yang sangat ketat.
Art Hu menjelaskan bahwa selama ini data-data operasional tersebut sering kali terfragmentasi. Lenovo hadir untuk meruntuhkan sekat informasi antar-departemen di FIFA.
Baca juga : Gianni Infantino Optimistis Tiket Piala Dunia 2026 akan Ludes Terjual
"Hal-hal ini sebenarnya merupakan data yang terisolasi. Kami membantu FIFA mengumpulkan semua data tersebut sehingga tidak perlu menghabiskan waktu untuk mencarinya dan kami dapat mengurangi hambatan komunikasi antarberbagai departemen mereka," tambahnya.
Solusi Satu Atap untuk Tantangan LogistikKeputusan FIFA menunjuk mitra tunggal disambut positif oleh Chief Business Officer FIFA, Romy Gai.
Ia mengakui bahwa pada edisi-edisi sebelumnya, FIFA harus bekerja sama dengan banyak vendor berbeda untuk memenuhi kebutuhan teknologi yang beragam, yang sering kali justru menambah kerumitan koordinasi.
"Di masa lalu kami terpaksa menggunakan pemasok yang berbeda untuk berbagai kebutuhan kami. Akhirnya, memiliki satu perusahaan yang dapat menjawab semua pertanyaan dan kebutuhan kami dengan hasil yang memuaskan," kata Romy Gai.
Tantangan nyata Piala Dunia 2026 terletak pada skala geografisnya. Romy menyebutkan bahwa jarak antara dua kota penyelenggara terjauh mencapai 4.000 kilometer. Dengan waktu kurang dari 100 hari menuju *kick-off*, dukungan teknologi terpusat dianggap sebagai kunci pengamanan operasional.
"Tingkat kompleksitas di setiap level, logistik, keamanan, serta dukungan untuk para penggemar, pemain, dan tim sangat penting untuk dikelola dengan baik," pungkasnya.
Melalui kemitraan jangka panjang ini, FIFA berharap dapat lebih fokus pada esensi penyelenggaraan pertandingan, sementara urusan teknis di balik layar sepenuhnya dikelola oleh infrastruktur digital Lenovo. (Ant/Z-1)





