Di tengah pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) di perusahaan, konsep ‘token AI’ diproyeksi jadi pusat dari ekonomi AI di masa depan. Token yang dihasilkan dari proses komputasi AI kini dipandang sebagai komoditas digital baru yang akan menentukan, seberapa cepat dan efektif perusahaan dapat mengubah data dan model menjadi keputusan bisnis.
Token merupakan potongan kata yang diproses sistem artificial intelligence untuk memahami konteks dan menghasilkan jawaban dari setiap perintah prompt. Setiap token terdiri dari empat karakter, bisa berupa huruf, angka, dan lainnya.
Lenovo, misalnya, mengembangkan konsep dan infrastruktur AI factory berskala gigawatt untuk membantu penyedia AI cloud membangun pusat komputasi yang mampu menopang model AI generasi baru, termasuk agentic AI dengan triliunan parameter serta komputer super high-performance computing (HPC). Ini seiring meningkatnya kompleksitas beban kerja AI perusahaan, mulai dari operasi, keuangan, hingga pengalaman pelanggan.
Dalam ekosistem baru ini, metrik time to first token (TTFT) pun jadi indikator penting. TTFT mengukur seberapa cepat infrastruktur AI dapat menghasilkan token pertama dan pada akhirnya menjadi bahan bakar bagi aplikasi AI di lingkungan produksi.
Wong melanjutkan, tantangan terbesar perusahaan bukan hanya soal kapasitas komputasi. Ia menyebut banyak organisasi saat ini yang sudah menerapkan AI di berbagai fungsi bisnis, tetapi implementasinya belum maksimal.
"Perusahaan menerapkan AI di seluruh operasi, keuangan, dan pengalaman pelanggan, tetapi sering kali upaya ini tidak ada yang benar-benar terhubung. Hasilnya adalah gesekan, biaya yang tumpang tindih, dan kesenjangan dalam pengawasan," ujar Wong di Lenovo World Tech 2026, Hongkong, Selasa (10/3).
Di sinilah konsep orkestrasi model cerdas muncul. Sistem ini memungkinkan AI secara otomatis memilih model yang tepat untuk tugas yang tepat pada waktu yang tepat, tanpa mengorbankan keamanan data perusahaan.
Alih-alih satu sistem AI besar, pendekatan ini mengandalkan kolaborasi multi-agen AI yang bekerja bersama di berbagai domain untuk menghasilkan satu hasil bisnis yang terpadu.
Lenovo menyebut fondasi ini sebagai Hybrid AI Advantage. Model tersebut terdiri dari tiga lapisan utama:
AI Factory, infrastruktur yang mengubah model dan data menjadi solusi AI perusahaan sekaligus menghasilkan token yang menjalankan beban kerja AI
AI Library, katalog solusi AI yang terbukti, dapat digunakan kembali, dan disesuaikan untuk mempercepat adopsi di berbagai industri
AI Services, layanan yang membantu perusahaan berpindah dari strategi AI ke implementasi hingga operasi berkelanjutan
Dalam kerangka ini, Lenovo menilai token AI menjadi elemen ekonomi baru yang menentukan nilai dari setiap sistem AI. Dengan kata lain, di masa depan, bukan hanya data yang menjadi ‘minyak baru’, tetapi juga token AI atau unit komputasi yang menggerakkan model, agen, dan keputusan otomatis di perusahaan.
Reporter: Annisa Thahira Madina





