Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyinggung serangan Pearl Harbor saat bertemu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Gedung Putih, di tengah ketegangan perang AS dengan Iran.
Melansir Bloomberg pada Jumat (20/3/2026), pertemuan Trump dan Takaichi terjadi pada Kamis (19/3/2026) waktu setempat. Pertemuan itu diperkirakan berlangsung sensitif Jepang belum memastikan langkah konkret yang akan dilakukan untuk membantu meredakan dampak ekonomi dan keamanan dari perang tersebut.
Keterlibatan dalam konflik bersenjata juga menimbulkan pertanyaan hukum di bawah konstitusi Jepang.
“Mereka benar-benar menunjukkan komitmen. Kami memiliki dukungan dan hubungan yang luar biasa dengan Jepang dalam segala hal," kata Trump saat berdiri bersama Takaichi, seraya membandingkan sikap Jepang dengan sekutu NATO.
Namun, situasi yang canggung terlihat ketika seorang wartawan menanyakan mengapa AS tidak memberi tahu Jepang dan sekutu Eropa sebelumnya terkait serangan Washington terhadap Iran.
“Siapa yang lebih tahu tentang kejutan selain Jepang?” kata Trump sambil menoleh ke arah Takaichi dan tertawa. “Mengapa Anda tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor?”
Takaichi tidak menanggapi pernyataan itu dengan tawa. Dia terlihat mengerucutkan bibir dan melirik para penasihatnya yang duduk di sisi Ruang Oval.
Pernyataan tersebut mencuri perhatian karena mengangkat kembali serangan Jepang ke AS pada era Perang Dunia II sekaligus menyoroti sikap Trump yang terkesan santai dalam memberi tahu sekutu terkait operasi militer besar.
Setelah pernyataan Trump mengenai Pearl Harbor, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang mengatakan topik tersebut tidak dibahas dalam pertemuan tertutup antara kedua pemimpin.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa Jepang memang memperkirakan kemungkinan kejutan dari Trump, tetapi bukan membahas terkait Pearl Harbor.
Insiden itu juga menjadi contoh terbaru pemimpin asing yang berada dalam posisi tidak nyaman saat bertemu Trump di Gedung Putih. Trump kerap memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menekan konsesi atau mengkritik kebijakan negara mitra yang dinilai bertentangan dengan kepentingan AS.
“Kami tidak membutuhkan apa pun dari Jepang atau negara lain, tetapi saya pikir wajar jika mereka meningkatkan kontribusinya,” kata Trump.
Trump juga berharap Jepang meningkatkan perannya karena hubungannya dengan AS yang erat. Dia menyebut, sekitar 45.000 tentara AS ditempatkan di Jepang.
“Kami menghabiskan banyak uang untuk Jepang,” lanjutnya lagi.
Dalam konferensi pers setelah pertemuan dengan Trump, Takaichi mengatakan telah menjelaskan kepada presiden AS mengenai batasan hukum keterlibatan Jepang dalam upaya mengamankan Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, dia juga menyoroti sejumlah titik kesepahaman, termasuk komitmen untuk meningkatkan impor minyak dari AS serta kerja sama dalam pengembangan rudal.
Jepang juga berupaya memanfaatkan hubungan diplomatiknya dengan Iran untuk memengaruhi situasi. Pada Selasa, menteri luar negeri Jepang menghubungi mitranya dari Iran dan mengecam serangan Iran di kawasan Teluk, menurut kementerian terkait.
Dalam pertemuan terbuka dengan Trump, Takaichi tampak tetap tenang dan berulang kali menyampaikan dukungan kepada presiden AS, seraya berterima kasih atas komitmen kuat terhadap aliansi AS-Jepang.
Takaichi mengatakan dirinya membawa sejumlah proposal konkret ke AS untuk membantu menenangkan pasar energi, meskipun dia memperkirakan tekanan terhadap ekonomi global masih akan berlanjut. Dia juga mengecam serangan Iran di negara-negara tetangga serta penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran.
Selain itu, Takaichi menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sejalan dengan alasan utama yang disampaikan Trump ketika memulai perang pada 28 Februari.





