Manuver Usaha Ban Bekas agar Tak Tergilas Roda Modernitas

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Sembari berbincang tentang bermacam hal, tiga pekerja terus bekerja membelah dan mengemas ban bekas di Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (1/4/2026). Soekamto (75), sang pemilik usaha, mengamati pekerjaan karyawannya itu dibalik tumpukan ban bekas yang menggunung sembari sesekali menimpali obrolan mereka.

Usia lanjut dan fisik yang mulai melemah membuat ia tidak lagi bisa turut menggarap pekerjaan berat di tempat usaha yang ia rintis sejak sekitar tahun 1980 itu. Soekamto pun memasrahkan tugas membelah dan mengemas ban mobil, truk, dan sepeda motor bekas kepada karyawannya.

Saat ini ada lima karyawan yang bekerja di usaha milik Soekamto. Mereka menggantungkan hidup mereka dari ban-ban bekas yang mungkin bagi sebagian orang menganggapnya sebagai sampah.

Usaha Soekamto berawal dengan membuat tali untuk kerekan timba sumur. Pada era 1980-an menimba air dari sumur merupakan pekerjaan sehari-hari warga di berbagai daerah. Timba atau ember akan dikaitkan pada kedua ujung tali. Secara bergantian timba akan diturunkan untuk mengambil air dari ujung sumur ke permukaan.

Ban bekas mobil dipilih sebagai tali timba dikarenakan awet. Panjang tali timba bervariasi, dari beberapa meter hingga puluhan meter, tergantung kedalaman sumur. Salah satu daerah yang membutuhkan kerekan timba panjang adalah di Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Kedalaman sumur bisa mencapai 30-40 meter.

Kala itu produknya laku keras karena banyak yang membutuhkan tali tersebut agar dapat menimba air. Ia pun mengembangkan produk lainnya dengan membuat sandal, meja dan kursi, hingga ember dari ban bekas.

Bisnis yang dilakoni Soekamto ketika teknologi modern hinggap ke berbagai lini kehidupan. “Sejak mesin pompa air semakin mudah didapat, penjualan tali timba saya anjlok,” kata Soekamto.

Kini terdapat tumpukan puluhan gulung tali timba yang belum laku terjual. Ia menjual tali tersebut dengan harga Rp 1.000 per meter.

Tumpukan ember dan perabot dari ban bekas juga terlihat di gudang milik Soekamto. Tempat usaha itu hingga saat ini masih memiliki stok tali kekang kuda penarik andong dan pelapis ban dokar atau andong yang semuanya dibuat dari ban bekas.

Soekamto tidak tahu kapan barang-barang yang masih menumpuk di gudang itu akan habis terjual. Kian sepinya penjualan berbagai produk kerajinan dari ban bekas membuat tempat usaha itu beralih bisnis menjadi pemasok ban bekas untuk industri daur ulang.

Ban bekas dari tempat tersebut kini dikirim ke pabrik daur ulang di Jakarta untuk diolah menjadi bahan bakar minyak pirolisis dan campuran aspal. Berkembangnya teknologi daur ulang ban seolah menghadirkan nyawa kedua bagi usaha Soekamto.

Dalam sebulan tempat usaha itu mengirim sekitar 1 ton ban untuk didaur ulang. Harga jual ban bekas tersebut saat ini berkisar Rp 750 per kilogram.

Meskipun sederhana, usaha seperti milik Soekamto kini turut berperan dalam mengurangi timbunan sampah dari ban bekas yang sulit terurai. Melalui pengelolaan yang tepat, ban bekas pun masih dapat menghadirkan manfaat.

Baca JugaKoperasi Desa, Harapan Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Baca JugaKetika Membaca Buku Bisa Mengurangi Masa Hukuman
Baca JugaMenanti Kepulangan Praka Farizal dalam Duka
Baca JugaArsip Foto ”Kompas”: Penyelamatan Woyla seperti di Film Laga


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Andrie Yunus, 4 Tersangka Masuk Tahanan Maximum Security
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
10-12 Ribu Warga Jogja akan Ikuti Kirab Mangayubagyo 80 Tahun Sultan HB X Besok
• 35 menit lalukumparan.com
thumb
NASA Bikin Misi Nyaris Mustahil: Bangun Pesawat Nuklir & Pangkalan di Bulan
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
2 Tahun Nikah, Mantan Suami Dewi Perssik Digugat Cerai
• 4 jam lalutabloidbintang.com
thumb
PT Timah Mulai Olah Sisa Hasil Produksi, Gandeng Kemendikti
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.