Satu Sakelar Air Mengalir, Petani Tinggalkan Solar dan Pangkas Biaya hingga 50 Persen

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Sejak 2025, petani di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, mulai meninggalkan mesin diesel berbahan bakar solar untuk mengairi sawah. Mereka beralih ke listrik PLN, pilihan yang tidak hanya praktis, tetapi juga lebih hemat di tengah sulitnya mendapatkan bahan bakar.

Perubahan itu dirasakan A Tenri Dolo, Ketua Kelompok Tani Makkawarue. Wajahnya semringah saat ditemui di areal sawahnya di Desa Balusu, Kecamatan Balusu, Barru, Selasa (31/3/2026). Di pinggir sawahnya berdiri kWh meter, tanda sudah ada jaringan listrik di sana.

Alat ukur listrik ini berada di dalam sebuah kotak yang melekat pada tiang. Di samping tiang ada rumah sawah di mana kabel besar tampak tergantung. Ada pula balok yang menjadi tempat sakelar.

Sayangnya, saat itu, pompa airnya tidak ada di sana. Karena ukurannya kecil dan ringan, alat itu sudah dibawa pulang penggarap setelah sawah terisi air.

”Saya khawatir tidak aman jika ditinggal begitu saja di sawah,” kata Tenri saat Kompas meminta dia menunjukkan cara kerja mesin pompa itu.

Namun, dia tidak kehabisan akal. Melalui foto di gawainya, ia bercerita tentang bagaimana listrik menggerakkan pompa air dari sumbernya ke lahan pertanian.

”Tinggal tekan sakelar, air mengalir ke sawah. Dengan BBM yang mahal dan sulit didapat seperti sekarang, saya tidak pusing lagi,” kata Tenri.

Sawah Tenri seluas lebih dari 5 hektar sebelumnya memang bergantung pada mesin diesel untuk memompa air dari sungai dan sumur dangkal. Seperti kebanyakan sawah di sana, lahannya merupakan sawah tadah hujan tanpa jaringan irigasi.

Selama ini, menggunakan solar atau bensin, biaya operasional kerap membengkak. Persoalan bertambah runyam saat stoknya langka di pasar. Ukuran pompa yang besar juga membuat operasionalisasi tidak praktis. Itu mengapa selama ini petani hanya panen dua hingga tiga kali setahun.

”Kalau mahal dan barangnya ada, masih mending. Tapi kalau susah, bikin mati akal,” ucapnya.

Baca JugaBerkah Listrik Masuk Sawah

Sekarang dengan listrik, kondisinya berbeda. Mesin pompa bisa dihidupkan hanya dengan menekan sakelar. Mesin yang digunakan pun lebih kecil dan mudah dipindahkan.

”Menghadapi El Nino nanti, saya juga optimistis sawah tak kekurangan air,” jelas Tenri.

Baca JugaDi Tengah Kekhawatiran Harga Beras, Sebagian Petani di Sulsel Mulai Tanam Padi Lagi

Perbedaan lainnya terasa di masalah biaya. Sebelumnya, ia harus mengeluarkan Rp 500.000 per hektar setiap bulan. Dengan listrik, biaya yang dikeluarkan Rp 200.000-Rp 300.000 per bulan.

Menerapkan sistem bagi hasil, efesiensi ini sangat membantu. Biaya pompanisasi kini turun drastis.

Dulu, jika hasil gabah per hektar mencapai 60 karung, ada biaya setara 10 karung yang harus ditanggung penggarap. Sekarang, dengan hasil panen yang sama, penggarap hanya mengeluarkan 3-4 karung. Satu karung gabah kering panen berukuran 100 kilogram seharga Rp 700.000.

Listrik masuk sawah

Manajer PLN ULP Barru Hermawan mengatakan, pihaknya mendorong petani memanfaatkan listrik untuk pompanisasi sawah. Fokus utama di areal sawah tadah hujan atau perkebunan yang selama ini memanfaatkan air tanah atau sungai sebagai sumber air.

”Ini adalah program electrifying agriculture untuk mendukung program pemerintah mewujudkan swasembada pangan. Sejauh ini, sudah ada beberapa titik di Barru. Ada yang memasang secara mandiri, ada pula melalui program Kementerian Pekerjaan Umum,” katanya.

Hingga Februari 2026, total pelanggan electrifying agriculture di Sulsel, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat sebanyak 4.171 pelanggan dengan total daya terpasang sebesar 204.811 kilovolt ampere (kVA).

Baca JugaDaerah Lumbung Pangan Sulsel Antisipasi El Nino ”Godzilla”

Tak hanya di Barru, lumbung pangan Sulsel lainnya, seperti Sidrap, Soppeng, dan Enrekang, juga menerapkannya.

Tahun 2025, produksi padi di Sulsel mencapai 5,4 juta ton gabah kering giling. Dalam konversi ke beras, jumlah ini mencapai lebih dari 3 juta ton. Saat ini, luas panen di Sulsel lebih dari 1 juta hektar. Adapun kebutuhan di Sulsel hanya berkisar 1 juta ton, dengan surplus mencapai 2 juta ton.

Di Enrekang, misalnya, petani memanfaatkan listrik untuk kebun bawang merah dan tanaman sayur. Daerah ini dikenal sebagai sentra tanaman hortikultura dan kopi. 

Tak hanya memanfaatkan listrik untuk penyiraman otomatis, lampu pada malam hari di kebun-kebun bawang berfungsi sebagai pengusir hama.

Sementara di Sidrap dan Soppeng, jumlah penggunanya jauh lebih banyak lagi. Pemerintah daerah menjadikan listrik masuk sawah sebagai salah satu program swasembada di tengah ancaman krisis energi dan menghadapi El Nino ”Godzilla”.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan, listrik masuk sawah tengah digenjot. Dia bekerja sama dengan PLN membantu agar jaringan listrik bisa sampai ke sawah.

”Ini memungkinkan petani memanfaatkan air sumur dalam tanpa harus bergantung pada mesin diesel,” katanya di sela-sela acara Pertemuan Saudagar Bugis Makassar XXVI di Makassar, Kamis (26/3/2026).

Baca JugaSulsel, Lumbung Pangan yang Berjibaku Menjawab Tantangan

Selle KS Dalle, Wakil Bupati Soppeng, menargetkan program listrik masuk sawah beroperasi di areal seluas 6.000 hektar. Hal ini bakal diandalkan menghadapi dampak perubahan iklim. Menurut dia, di Soppeng, terdapat 11.893 hektar areal sawah yang masuk dalam pengairan beririgasi bakal terdampak El Nino ”Godzilla”.

”Sejauh ini, kami butuh 513 titik sumur bor atau sumur dalam. Karena itu, kami butuh bekerja sama dengan PLN untuk membangun jaringan atau mendistribusikan listrik hingga ke tengah sawah,” katanya.

Baca JugaSawah yang Selalu Menghijau di Sulsel

General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) Edyansyah menjelaskan, program electrifying agriculture PLN hadir untuk membantu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat di bidang pertanian, perkebunan, hingga perikanan. Tujuannya, mendukung ketahanan pangan.

”Program ini adalah bagian dari Astacita Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan bahwa pasokan pangan kita dapat mencukupi dan mencapai swasembada pangan. Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dengan sistem kelistrikan yang andal dan membawa manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Edyansyah menambahkan, program ini dirancang untuk mendorong modernisasi agrikultur di Indonesia dengan adopsi teknologi pertanian modern berbasis listrik.

”Dengan pemanfaatan teknologi agrikultur berbasis listrik, ekosistem pertanian menjadi lebih modern dan akan berdampak pada peningkatan produktivitas petani, tentu juga dampak ekonomi,” katanya.

Kini, di tengah hamparan sawah yang menghijau di Sulsel, cukup satu sentuhan pada sakelar untuk memastikan air mengalirkan sejahtera bagi para petani di sekitarnya.

Baca JugaHadapi Resesi, Sulsel Maksimalkan Pertanian dan Perikanan

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gelar Rapat dengan Amsal Sitepu-Kajari Karo, Komisi III: Tak Ada Intervensi Penanganan Kasus
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Terapkan WFH Tiap Jumat, Pramono Siapkan Sanksi Bagi Pelanggar
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
12 Orang yang Menangani Pengungkapan Kasus Andrie Yunus Terindikasi Mendapat Ancaman
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Tak Perlu Antre dari Subuh, Lapak Asik BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Daftar Online dan Datang Sesuai Jadwal
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Gegara Pidato Trump, Ini Penyebab Harga Bitcoin Turun di Kamis Siang (2/4)
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.