PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI memberikan bocoran tipis terkait pembagian dividen tunai tahun buku 2025. Adapun Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) direncanakan pada 17 April 2026.
Salah satu mata agenda RUPS yang akan dilaksanakan penggunaan laba bersih, termasuk penentuan jumlah penyisihan untuk cadangan yang diputuskan oleh RUPS Tahunan.
“Perseroan wajib menyisihkan jumlah tertentu dari laba setiap tahun buku untuk cadangan sampai mencapai paling sedikit 20% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor,” demikian tertulis dalam mata acara RUPS.
Merespons hal itu Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar mengatakan dividen tunai yang akan dibagikan ada kenaikan dari tahun sebelumnya.
“Tunggu aja, pasti dong (ada kenaikan), pokoknya dahsyat,” kata Wisnu ketika ditemui Katadata.co.id di Gedung BSI Jakarta, Rabu (1/4).
Pada RUPST 2024 lalu, BRIS menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 1,05 triliun atau 15%. Besaran dividen per lembar saham dari bank dengan kode saham BRIS itu Rp 22,78 per lembar saham.
Perkuat Fondasi Ekonomi SyariahDi samping itu ada aksi bernilai miliaran rupiah yang dilakukan oleh perbankan syariah terbesar di Indonesia itu. BSI telah menyalurkan zakat perusahaan dan pegawai mencapai Rp 289 miliar kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI.
Total dana zakat yang disetorkan itu naik 7,77% (yoy) dari dana zakat Perseroan tahun 2024 sebesar Rp 268,6 miliar. Secara kumulatif, sejak berdiri pada 2021 hingga 2025, total zakat yang telah disalurkan BSI mencapai Rp 1,07 triliun.
Zakat BSI sejak berdirinya telah menjadi katalisator penggerak ekonomi umat dan sudah menjangkau lebih dari 1,2 juta penerima manfaat.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan zakat menjadi salah satu pilar utama dalam strategi perseroan untuk menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. Sebagai bank syariah terbesar di Tanah Air, ia mengaku BSI tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga hadir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Zakat kami posisikan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat ekonomi umat dan mendorong pemerataan kesejahteraan," katanya di Gedung BSI Jakarta, Rabu (1/4).
Selain itu BSI juga terus memperkuat peran dalam pembangunan ekonomi nasional melalui berbagai inisiatif strategis. Termasuk pembiayaan sektor riil dan UMKM, dukungan terhadap program prioritas pemerintah, hingga pengembangan ekosistem keuangan syariah yang inklusif.
Cetak Laba Bersih Rp 7,57 TriliunAdapun sepanjang 2025, BSI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7,57 triliun sepanjang 2025, naik 8,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berjumlah Rp 7 triliun.
Kinerja laba perseroan ditopang oleh kenaikan pendapatan bank atau fee based income sebesar 25,06% menjadi Rp 6,89 triliun secara tahunan. Berdasarkan paparan publik yang disampaikan pada Jumat (6/2), BSI membukukan pendapatan margin dan bagi hasil naik dari Rp 25,21 menjadi Rp 28,17 triliun.
BSI mencatat penyaluran pembiayaan tumbuh 14,49% secara tahunan menjadi Rp 318,84 triliun, dari sebelumnya Rp 278,48 triliun. Total aset BSI juga naik 11,64% menjadi Rp 456 triliun. Sementara tabungan tumbuh 15,7% menjadi Rp 163 triliun.
Rasio non-performing financing (NPF) gross BSI turun 0,09% menjadi 1,81%. Sementara itu, NPF net juga turun 0,03% secara tahunan menjadi 0,47%. Dari sisi pendanaan, BSI juga mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 16,20% YoY, mencapai Rp 380 triliun hingga kuartal IV 2025.




