Waspada, Child Grooming Bisa Berawal dari Game Online hingga Chat Pribadi

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Kasus child grooming semakin perlu diwaspadai orang tua, terutama di era digital ketika anak makin mudah berinteraksi dengan banyak orang lewat media sosial, game online, hingga ruang chat pribadi.

Masalahnya, pendekatan yang dilakukan pelaku sering kali terlihat biasa saja di awal. Anak bisa merasa sedang diperhatikan, ditemani, atau dianggap spesial, padahal itu bisa menjadi bagian dari proses manipulasi yang berbahaya.

Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, menyebut bahwa child grooming memiliki beberapa bentuk yang perlu dipahami orang tua.

3 Jenis Child Grooming yang Perlu Diwaspadai

Menurut dr. Ariani, secara umum child grooming dibagi menjadi tiga kategori.

1. Online Grooming

Jenis pertama adalah online grooming, yang kerap terjadi melalui media sosial, game online, atau chat pribadi. Kasus ini sering tidak terlaporkan karena berlangsung diam-diam dan sulit terdeteksi sejak awal.

“Pelaku menggunakan identitas palsu seringnya atau menyamar dengan foto dengan identitas orang lain dengan selebriti seperti itu,” kata dr. Ariani dalam webinar bersama IDAI, Selasa (31/3).

2. Offline Grooming

Jenis kedua adalah offline grooming, yang justru sering melibatkan orang-orang terdekat anak. Pelaku bisa berasal dari lingkungan yang selama ini dianggap aman.

“Tetangga, keluarga, guru pelatih, orang-orang terdekat,” imbuhnya.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa ancaman tidak selalu datang dari orang asing.

3. Hybrid Grooming

Jenis ketiga adalah hybrid grooming, yaitu ketika pendekatan awal dilakukan secara online, lalu berlanjut ke pertemuan langsung secara offline.

Misalnya, anak awalnya berkenalan lewat game atau media sosial, lalu diajak untuk bertemu secara langsung. Meski bentuknya berbeda, ketiganya sama-sama berbahaya dan dapat menimbulkan dampak serius pada anak.

Bagaimana Modus Child Grooming di Media Sosial dan Internet?

Salah satu modus yang perlu diwaspadai orang tua adalah ketika anak tampak hanya sedang bermain game online, tetapi ternyata ada interaksi yang lebih jauh di baliknya.

Dr. Ariani mencontohkan, orang tua bisa saja awalnya melihat anak hanya sedang bermain game seperti Roblox atau platform serupa. Namun, di dalam permainan itu, bisa ada fitur chat yang menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk mendekati anak.

“Ternyata ada yang memberikan perhatian lebih, jadi tempat curhat. Jadi meskipun game online ternyata di situ ada chatnya. Akhirnya mengajak anak itu ke chat pribadi atau platform yang tertutup,” tutur dr. Ariani.

“Jadi di room yang khusus yang tidak ada yang lain, kecuali mereka berdua. Ngasih hadiah berupa pulsa atau item game sebagai ikatan emosional. Berlanjut dengan tahapan-tahapan yang berikutnya,” sambungnya.

Oleh karena itu, orang tua perlu mengajarkan anak untuk selalu melaporkan jika menerima hadiah dari seseorang, baik secara langsung maupun online.

Orang tua perlu mengajarkan anak sejak dini tentang bagian tubuh mana yang boleh disentuh dan mana yang tidak boleh disentuh. Selain itu, yang tak kalah penting untuk mengenalkan pada anak perbedaan antara rahasia dan privasi, agar mereka memahami bahwa tidak semua hal harus disimpan sendiri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perintah Prabowo ke BNPB: Gerak Cepat Evakuasi Warga Terdampak Gempa di Sulut-Malut
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Rakyat AS Turun ke Jalan, Desak Trump Hentikan Agresi dan Tirani Politik
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menhut Raja Juli Antoni Temui 3 Menteri Jepang Bahas Karbon hingga Komodo
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Malaysia bentuk pusat komando komunikasi sikapi krisis Timur Tengah
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Tokoh Nasional Serukan Petisi Tolak Perampasan Hotel Sultan, dari JK Hingga Din Syamsuddin
• 15 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.