Istanbul (ANTARA) - Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengesahkan langkah-langkah, termasuk penggunaan kekuatan militer, guna membuka kembali Selat Hormuz, lapor Bloomberg pada Rabu (1/4).
Dewan Keamanan harus mengambil “tindakan segera” untuk memastikan keamanan navigasi di dalam dan sekitar selat tersebut, kata Duta Besar Mohamed Abushahab dalam surat tertanggal Selasa yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan presiden Dewan Keamanan.
Negara Teluk itu secara khusus meminta penerapan Bab VII Piagam PBB. Kerangka hukum ini memberikan kewenangan kepada dewan untuk menangani ancaman terhadap perdamaian internasional melalui langkah-langkah mulai dari blokade ekonomi hingga penggunaan kekuatan militer yang diizinkan.
Selat Hormuz secara efektif terganggu sejak awal Maret, ketika Iran mulai membatasi jalur tersebut sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat-Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Sekitar 20 juta barel minyak, sekitar 20 persen dari pasokan global, biasanya melintasi selat itu setiap hari. Penutupan selat tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak global, mengganggu pengiriman, dan memicu kekhawatiran akan kerusakan ekonomi yang berkepanjangan.
Adapun Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan terhadap Iran sejak akhir Februari, menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Sumber: Anadolu
Dewan Keamanan harus mengambil “tindakan segera” untuk memastikan keamanan navigasi di dalam dan sekitar selat tersebut, kata Duta Besar Mohamed Abushahab dalam surat tertanggal Selasa yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan presiden Dewan Keamanan.
Negara Teluk itu secara khusus meminta penerapan Bab VII Piagam PBB. Kerangka hukum ini memberikan kewenangan kepada dewan untuk menangani ancaman terhadap perdamaian internasional melalui langkah-langkah mulai dari blokade ekonomi hingga penggunaan kekuatan militer yang diizinkan.
Selat Hormuz secara efektif terganggu sejak awal Maret, ketika Iran mulai membatasi jalur tersebut sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat-Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Sekitar 20 juta barel minyak, sekitar 20 persen dari pasokan global, biasanya melintasi selat itu setiap hari. Penutupan selat tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak global, mengganggu pengiriman, dan memicu kekhawatiran akan kerusakan ekonomi yang berkepanjangan.
Adapun Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan terhadap Iran sejak akhir Februari, menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Sumber: Anadolu





