JAKARTA, DISWAY.ID-- Menyikapi kondisi perekonomian serta keuangan global yang masih diselimuti ketidakstabilan imbas konflik Geopolitik yang kian memanas, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia kembali menekankan kembali akan pentingnya peningkatan literasi keuangan, terutama dalam sektor ekonomi syariah.
Hal tersebut sendiri diucapkan secara langsung oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, dalam agenda Penutupan Gebyar Ramadan Keuangan (GERAK) Syariah 2026, yang digelar di kantor Menara OJK, Jakarta Pusat, pada Kamis (02/04).
BACA JUGA:Konser Jesse Barrera dan Albert Posis di Jakarta 2026, Berapa Harga Tiketnya?
Dalam penuturannya, Dicky juga turut menyampaikan bahwa peningkatan literasi keuangan, terutama di tengah zaman digital seperti ini, memiliki dampak tersendiri bagi kesejahteraan finansial.
"Ini betul-betul ada dasar dari kajian yang sangat mendalam, yang menyimpulkan bahwa dari negara-negara anggotanya yang disurvey, melihat hubungan yang sangat positif, sangat kuat, antara indeks literasi keuangan dengan indeks kesejahteraan finansial," ujar Dicky dalam sambutannya.
Dari segi ekonomi syariah sendiri, Dicky juga menambahkan bahwa peningkatan literasi keuangan jugaa dapat membawa peluang yang sangat besar.
BACA JUGA:Bareskrim Bongkar Jaringan Judol Internasional, Raup Rp3 Miliar dalam 3 Tahun
"Di sini, literasi keuangan dalam ekonomi syariah merupakan sebuah peluang yang sangat besar. Terutama kalau kita nanti menggunakan digital, ini berbagai pemandu kepentingan ini bisa kita dorong bersama-sama untuk bisa menjangkau keseluruhan lapisan masyarakat kita," tutur Dicky.
Menurut Dicky sendiri, pemahaman umat Islam mengenai ekonomi syariah sendiri sebenarnya sudah cukup baik.
Namun, dirinya menambahkan, mengajak umat Islam untuk memahami keseluruhan sistem ekonomi syariah masih menjadi tantangan tersendiri bagi OJK.
Dalam hal ini, OJK sendiri sudah merealisasikan sebanyak 2632 kegiatan yang terdiri dari 1283 kegiatan literasi, 459 kegiatan inklusi, dan 890 kegiatan sosial.
BACA JUGA:Pentingnya Corporate Training Karyawan untuk Tingkatkan Produktivitas dan Kualitas Kerja
"Berbagai upaya peningkatan literasi dan inklusi selama, terutama selama bulan Ramadan untuk terkait dengan keuangan sariah ini kita dorong. Jangkauan edukasinya, Alhamdulillah ini mencapai kurang lebih 8.350.000 orang," ujar Dicky.
Di sisi lain, OJK juga telah membentuk Komite Pengembangan Keuangan Syariah (KPKS) sebagai upaya penguatan koordinasi dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, agar pelaksanaan prinsip-prinsip syariah dalam sektor jasa keuangan dapat dijalankan secara konsisten, dan terukur.
Tidak hanya itu, kehadiran KPKS ini diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan keuangan syariah nasional.





