Bisnis.com, JAKARTA - BP-AKR buka suara mengenai kebijakan pemerintah yang menahan harga BBM di dalam negeri saat harga minyak dunia melonjak imbas konflik di Timur Tengah.
Manajemen BP-AKR menyatakan bahwa Perusahaan menghormati kebijakan pemerintah terkait tata kelola dan penetapan harga bahan bakar di Indonesia.
"Sebagai badan usaha niaga bahan bakar minyak [BBM], BP-AKR senantiasa menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan dan mekanisme yang berlaku di sektor energi di Indonesia," ujar manajemen BP-AKR kepada Bisnis, Kamis (2/4/2026).
Seiring hal tersebut, BP-AKR juga tetap berkomitmen dalam menyediakan bahan bakar dan layanan berkualitas bagi pelanggan.
Berdasarkan pantauan Bisnis, Rabu (1/4/2026), harga BBM di SPBU BP-AKR tidak naik pada 1 April 2026. Pada papan harga di SPBU BP-AKR Pancoran, Jakarta Selatan, harga BP 92 dipatok Rp12.390 per liter. Harga tersebut juga tak berubah sejak 1 Maret 2026.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah memutuskan untuk tidak melakukan penyesuaian terhadap harga BBM subsidi.
Baca Juga
- Ikuti Pertamina, Vivo dan BP-AKR Tak Naikkan Harga BBM per 1 April 2026
- Harga BBM Pertamina di Seluruh Indonesia per 1 April 2026, Cek Daftarnya!
- Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi dan Non Subsidi April 2026 Tidak Naik
Harga BBM nonsubsidi saat ini juga belum mengalami perubahan. Bahlil mengatakan, pemerintah bersama dengan PT Pertamina (Persero) maupun badan usaha SPBU swasta masih mengkaji besaran harga BBM nonsubsidi yang ideal.
"Untuk BBM yang nonsubsidi sampai dengan hari ini kami dengan tim Pertamina maupun dengan SPBU swasta lain, sedang melakukan pembahasan sampai waktu selesai. Nah, waktunya kapan? Tunggu dulu, Jadi artinya apa? Belum juga ada penyesuaian harga masih tetap sama," kata Bahlil dalam konferensi pers kebijakan pemerintah menyikapi kondisi geopolitik global terkini, Selasa (31/3/2026) malam.
Dia juga menyampaikan, saat ini fluktuasi harga minyak global makin bergejolak imbas perang Timur Tengah. Imbasnya, harga minyak dunia pun melambung ke level di atas US$100 per barel.
Angka tersebut lebih tinggi dari asumsi Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan dalam APBN 2026, yakni US$70 per barel.
"Sudah barang tentu dengan dinamika fluktuasi harga yang perkembangannya cepat, maka kami juga akan melakukan kajian-kajian lebih cepat sesuai dengan perkembangan yang ada pada dunia," tutur Bahlil.





