3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Anggota DPR Dorong Opsi Penarikan dari UNIFIL

kompas.com
13 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi I DPR Oleh Soleh mendorong adanya evaluasi penempatan prajurit TNI dari pasukan perdamaian atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Evaluasi tersebut harus dilakukan usai tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan tersebut gugur akibat serangan di Lebanon.

"Salah satunya kemungkinan penarikan seluruh prajurit TNI dari misi UNIFIL. Intinya, penugasan ini harus dievaluasi secara serius menyusul gugurnya tiga prajurit kita," ujar Soleh dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).

Baca juga: SBY Minta PBB dan UNIFIL Jelaskan Penyebab Tewasnya Prajurit TNI di Lebanon

Serangan yang terjadi di Lebanon tersebut harus menjadi bahan evaluasi pemerintah terkait penempatan prajurit TNI dalam UNIFIL.

Apalagi masih ada sejumlah prajurit TNI yang mengalami luka-luka akibat sejumlah serangan yang terjadi di negara tersebut.

Jika Indonesia mengirim prajurit tergabung dalam pasukan perdamaian, ia meminta risiko serupa tidak diabaikan.

"Ke depan, pemerintah harus benar-benar memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan prajurit sebelum memutuskan keterlibatan dalam misi perdamaian di wilayah konflik aktif," ujar Soleh.

Baca juga: Anggota DPR: Pemerintah dan TNI Harus Evaluasi Berkala Keamanan Prajurit TNI di Lebanon

Jenazah tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur akibat serangan di Lebanon telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (4/4/2026) malam.

SBY Desak Investigasi

Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjelaskan alasan gugurnya prajurit TNI yang tegabung dalam pasukan perdamaian atau UNIFIL di Lebanon.

"PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka 'peacekeeper' dari Indonesia itu terjadi," ujar SBY lewat unggahan di akun X @SBYudhoyono, dikutip Senin (6/4/2026).

SBY memahami bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis di Lebanon tidaklah mudah.

Baca juga: Kisah SBY Kirim AHY Jadi Pasukan Perdamaian Pertama ke Lebanon

Namun, investigasi itu dinilai tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative).

"Saya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) tahun 1995-1996. Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan." ujar SBY.

Dalam unggahannya, SBY turut menyampaikan duka cita terhadap tiga prajurit TNI yang gugur akibat serangan di Lebanon.

SBY turut memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon yang tiba di Indonesia pada Sabtu (4/4/2026).

Baca juga: SBY Sebut Pasukan RI di Lebanon Kini Berada di War Zone, Bukan Blue Line Lagi

Ia mengatakan, seorang prajurit memang disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka," tulis SBY.

"Merasakan ini semua, secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. Indonesia berhak untuk itu," sambungnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenkeu Buka 380 Lowongan Bea Cukai untuk Lulusan SMA
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Komentar Kontroversial Madam Pang, Thailand Prioritaskan Lawan di 100 Besar FIFA
• 5 jam lalueranasional.com
thumb
Purbaya Buka-bukaan Alasan Pemerintah Rem Kenaikan Harga BBM: Itu Arahan Presiden
• 4 jam laludisway.id
thumb
Dukung Ekonomi Warga, Komisi IV DPR Minta Wisatawan TN Komodo Tak Dibatasi
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Profil To Lam, Presiden Baru dan Sosok Paling Berkuasa di Vietnam
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.