Tak Asal Tanam, Petani Sawit Terapkan Pemupukan Tepat Dosis dan Waktu

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Perubahan cara bertani terlihat di kalangan petani sawit rakyat. Kini, mereka tak lagi sekadar mengandalkan kebiasaan turun-temurun, melainkan mulai menerapkan pemupukan dengan dosis dan waktu yang lebih terukur.

Maijan, petani sawit asal Desa Suak Putat, Sekernan, Muaro Jambi, menjadi salah satu yang merasakan perubahan tersebut. Ia kini lebih disiplin dalam menentukan takaran pupuk serta jadwal aplikasinya di kebun.

Sebelumnya, Maijan mengaku hanya melakukan pemupukan secara sederhana tanpa perhitungan yang jelas. Namun, setelah mendapatkan pelatihan Petani Berkualitas dan Sejahtera (PERKASA) dari PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), ia mulai memahami ketepatan dosis dan waktu pemupukan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman dan hasil panen.

“Dulu saya pikir mupuk itu gampang, tinggal tabur saja. Ternyata cara kita memupuk itu menentukan sehat tidaknya sawit yang ditanam. Kalau pemupukan dilakukan dengan benar, hasilnya memang akan optimal,” ujarnya dalam keterangan, Selasa (7/4).

Pelatihan yang diikuti Maijan merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas petani yang dijalankan perusahaan di sejumlah wilayah, seperti Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Dalam pelatihan tersebut, petani dibekali pemahaman agronomi mulai dari pemilihan pupuk, dosis yang tepat, hingga waktu aplikasi yang efektif.

Pelatihan dirancang dengan komposisi 40 persen teori dan 60 persen praktik lapangan selama tiga hari. Dengan pendekatan ini, petani dapat langsung mempraktikkan teknik yang dipelajari, termasuk cara melakukan pemupukan secara presisi di kebun masing-masing.

Hal serupa dirasakan Durham, petani sawit dari Desa Muara Pias, Long Kali, Paser. Ia mengaku sebelumnya sering menghadapi kendala, mulai dari kualitas bibit hingga tanaman yang tidak berbuah, tanpa mengetahui penyebabnya.

“Kendala di lapangan memang banyak, terutama soal bibit dan hama. Dulu kami bekerja berdasarkan kebiasaan saja. Setelah ikut pelatihan, kami jadi paham sistem dan praktik yang benar,” ujarnya.

Untuk memastikan perubahan tersebut berkelanjutan, perusahaan juga melakukan monitoring pasca pelatihan secara berkala. Pendampingan ini bertujuan agar petani benar-benar menerapkan teknik yang telah dipelajari, termasuk dalam hal pemupukan yang tepat dosis dan waktu.

Selain itu, tersedia layanan konsultasi agronomi melalui WhatsApp yang dapat dimanfaatkan oleh petani maupun masyarakat umum. Perusahaan juga membagikan buku panduan agronomi yang disusun secara sederhana agar mudah dipahami dan diterapkan.

Feidy Rogi, petani dari Kutai Barat, Kalimantan Timur, menilai panduan tersebut membantu dalam memperbaiki cara pengelolaan kebun.

“Selama ini kami hanya mengandalkan pengalaman. Dengan panduan ini, kami jadi tahu cara yang lebih baik agar hasil panen bisa optimal,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Agus Jabo Sampaikan Perkembangan Proses Pengalihan Pengelolaan TMP dari Kemensos ke Kemenhan
• 45 menit lalukompas.tv
thumb
Satgas PKH Tindak Tegas Tambang Ilegal PT AKT di Kalteng
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
KPPU Surabaya Gandeng DPRD Kota Awasi Pengadaan Sepatu Sekolah hingga Alkes: “Jangan Ada Vendor Eksklusif”
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Penyebab Empat Pekerja Bangunan Tewas di Jakarta Selatan Akhirnya Terungkap, Ternyata Karena Sesak Napas
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Penertiban PKL di Makassar Ikuti Prosedur Bertahap, Belum Ada Relokasi
• 6 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.