Polemik judul dan materi promosi film Aku Harus Mati akhirnya mendapat tanggapan dari pihak PH. Melalui perwakilannya, Iwet Ramadhan, mereka menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
Iwet mengatakan pihaknya memahami berbagai respons masyarakat, terutama terkait penggunaan judul yang dianggap sensitif saat ditampilkan di ruang publik.
“Kami menyesalkan sekali ketidaknyamanan yang ditimbulkan, khususnya dari bagaimana film ini diperkenalkan di ruang publik,” ujar Iwet dalam jumpa pers virtual
Sebagai bentuk respons, PH telah mengambil langkah cepat dengan menurunkan seluruh materi billboard sejak 4 April, lebih awal dari jadwal semula yang direncanakan berakhir pada 5 April.
Menurut Iwet, keputusan tersebut diambil setelah melihat banyaknya keluhan dari masyarakat.
“Kami sudah melakukan penyesuaian, termasuk inisiatif untuk menurunkan materi billboard lebih cepat sebagai respons dari kritik yang muncul,” jelasnya.
Tak hanya itu, pihak produksi juga berencana melakukan evaluasi terhadap materi promosi ke depan, termasuk menambahkan peringatan atau trigger warning.
“Kami akan menambahkan trigger warning pada materi promosi sebagai bagian dari evaluasi yang sedang berjalan,” lanjutnya.
Iwet menegaskan bahwa polemik ini menjadi pelajaran penting bagi tim produksi, terutama dalam memperkenalkan karya ke publik agar lebih mempertimbangkan konteks dan sensitivitas.
“Ini jadi pembelajaran berharga bagi kami untuk lebih berhati-hati dan sensitif terhadap kondisi masyarakat,” ungkapnya.
Meski menuai kontroversi, Iwet menjelaskan bahwa judul Aku Harus Mati diambil dari dialog dalam film yang memiliki pesan sosial.
“Judul ini kami ambil dari dialog di film, yang ingin menyampaikan pesan agar jangan sampai demi validasi atau gaya hidup, seseorang sampai ‘menjual diri’ demi harta,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh proses, termasuk judul dan materi promosi, telah melalui perizinan dari pihak terkait.
Namun demikian, pihak produksi memilih fokus pada evaluasi ke depan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami belajar bahwa dalam kondisi sekarang, banyak hal bisa menjadi trigger. Jadi ke depan kami harus jauh lebih berhati-hati,” tutupnya.





