Sejalan dengan itu, indeks saham unggulan LQ45 juga mencatat kenaikan 22,61 poin atau 3,22 persen ke level 724,27.
Sentimen global masih menjadi perhatian pelaku pasar. Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat di Wall Street ditutup bervariasi.
Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,18 persen ke level 46.584,46. Sementara itu, S&P 500 naik tipis 0,076 persen ke 6.616,85, dan Nasdaq Composite menguat 0,098 persen ke posisi 22.017,85.
Baca juga: Reformasi BEI untuk MSCI Berjalan, Risiko Pasar Modal Indonesia Masih Terkendali IHSG masih dibayangi tekanan global Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,26 persen ke level 6.971. Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian global dan aksi jual investor asing yang mencapai Rp1,78 triliun.
Tekanan eksternal masih cukup kuat, terutama akibat meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan inflasi global.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.105 per USD seiring penguatan mata uang Negeri Paman Sam. Pasar wait and see, ini proyeksi IHSG Tim riset BRI Danareksa Sekuritas, menyatakan pelaku pasar saat ini cenderung bersikap wait and see, terutama menantikan hasil review FTSE Russell yang berpotensi memengaruhi arus modal asing ke pasar Indonesia.
"Kami masih memproyeksikan IHSG bergerak terbatas di range support 6.950-6900 dan resistance pada 7050-7065. Bias melemah dan tertekan akan tetap ada di pasar selama kondisi risk off perang masih terjadi dan juga capital outflow dari investor asing," tulis tim riset, Rabu, 8 April 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)





