Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan ketersediaan obat dan vaksin di Indonesia berada dalam kondisi yang aman dari potensi kelangkaan di tengah kondisi konflik Timur Tengah.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengakui bahwa ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor masih sangat tinggi, sehingga kondisi global turut berdampak terhadap ketersediaan dan harga.
“Yang berhubungan dengan stok obat dan vaksin, ya kita harus ketahui bahwa mayoritas eh produk-produk kita sembilan puluh persen itu raw material-nya impor. Tentu berpengaruh, termasuk berpengaruh terhadap harga,” ujar Taruna di Kantor BPOM RI, Jakarta Pusat, Rabu (8/4).
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BPOM berencana segera mengumpulkan pelaku industri farmasi guna mencari solusi bersama terkait ketahanan pasokan dalam negeri.
“Nah, dalam konteks itu saya kira kami akan kumpulkan gabungan pengusaha Indonesia industri farmasi dalam waktu dekat untuk bagaimana mencari solusinya. Intinya seperti itu,” katanya.
Taruna juga menegaskan komitmen BPOM untuk menjaga ketersediaan obat, khususnya obat-obatan esensial bagi masyarakat.
“Tapi yang paling penting bagi kami Badan Pengawas Obat dan Makanan memastikan ketersediaan khususnya obat-obat esensial itu aman bagi rakyat kita,” tegasnya.
Terkait batas ketahanan stok saat ini, Taruna menyebut ketersediaan obat dan vaksin nasional masih mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
“Eh untuk selama ini yang kita sudah dapat jumlahnya, ketersediaannya masih enam bulan ke depan masih aman. Iya, tapi kan kita ingin kalau bisa lebih dari itu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, langkah koordinasi dengan industri farmasi akan segera dilakukan dalam waktu dekat guna memperkuat ketahanan stok nasional.
“Makanya dalam waktu dekat Pak Deputi ya kita akan kumpulkan industri farmasi dan pengusaha gabungan perusahaan farmasi untuk berkumpul secepatnya untuk kita cari solusi bersama-sama,” kata Taruna.
Menurutnya, ketersediaan obat dan vaksin merupakan hal krusial yang tidak dapat ditunda, berbeda dengan komoditas lain.
“Karena sekali lagi ketersediaan obat dan vaksin itu adalah hal yang sangat penting. Kalau makanan masih bisa ada konversi ke produk lain. Tapi kalau vaksin dan obat apalagi esensial itu sangat berbahaya,” ucap dia.
Taruna berharap, situasi geopolitik global dapat segera membaik agar tidak semakin mengganggu distribusi bahan baku, termasuk energi dan logistik.
“Mudah-mudahan geopolitik perang bisa cepat berakhir dan kita cukup eh gembira hari ini karena ternyata sudah ada kesepakatan ya dua arah antara Lebanon, Amerika dan Israel untuk gencatan senjata. Dan dibuka akses. Mudah-mudahan ini segera mengakhiri persoalan ketersediaan, termasuk ketersediaan energi,” pungkasnya.





