Grid.ID - Aksi Dedi Mulyadi minta maaf mendadak jadi sorotan. Hal ini rupanya usai sang Gubernur Jawa Barat itu mendengar kasus ayah pengantin tewas usai dikeroyok preman.
Korban sendiri diketahui bernama Dadang (58) yang harus menghembuskan napas terakhirnya di hari hajatan pernikahan anaknya. Peristiwa nahas itu pun diketahui tejadi di Kampung Cikadu, Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).
Melansir dari Kompas.com, Dadang meninggal usai dikeroyok 10 pemuda yang meminta uang sebesar Rp 500 ribu. Terungkap pula para pelaku sebenarnya sudah diberi uang Rp 100 ribu.
Namun menolak dan meminta uang Rp 500 ribu yang akan digunakan untuk membeli miras.
"Para pelaku sebenarnya sudah diberi uang Rp 100 ribu, namun mereka menolak dan meminta lagi Rp 500 ribu untuk membeli miras. Karena tidak dikasih, akhirnya terjadi pemukulan," ujar Wahyu selaku adik Dadang.
Karena permintaan tambahan tidak dipenuhi, para pelaku yang diduga berjumlah 10 orang tersebut gelap mata dan mengeroyok korban secara brutal. Imbas dari kejadian itu, korban mengalami luka parah namun nyawanya tak tertolong meski sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Mendengar hal itu, Dedi Mulyadi minta maaf dan mendatangi rumah korban untuk menyampaikan belasungkawa.
"Saya bersama keluarga korban, Pak Dadang, korban pembunuhan yang dilakukan oleh segerombolan anak muda yang berada di wilayah Desa Kertamukti," ujar Dedi Mulyadi dikutip Grid.ID dari Instagram @dedimulyadi71, Rabu (8/4/2026).
Imbas dari kejadian itu, Dedi Mulyadi mengimbau agar masyarakat bekerja sama menghilangkan tindakan premanisme.
Dedi Mulyadi mengaku sejak dirinya menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, aksi premanisme itu menjadi musuh utama bagi warga Jabar dan dirinya.
Lebih lanjut, Dedi juga doakan agar keluarga korban diberi ketabahan, serta mendoakan agar korban tenang, diterima iman dan islamnya.
“Semoga almarhum diterima iman dan islamnya, diampuni segala dosanya, serta ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah SWT,” imbuh Dedi Mulyadi.
Dan terakhir, tak lupa, Dedi Mulyadi minta maaf dan merasa menyesal. Dimana hari itu harusnya menjadi hari penuh kebahagiaan namun justru berakhir tragis.
"Seharusnya hari itu menjadi hari bahagia bagi Pak Dadang karena anaknya menikah, mendapatkan jodoh dengan warga satu desa," ucap Dedi Mulyadi.
"Saya sebagai Gubernur Jawa Barat menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Pak Dadang atas kelalaian kami sebagai penyelenggara daerah Provinsi Jawa Barat.
Sehingga tidak bisa melindungi warganya yang melaksanakan kegiatan kenduri (tradisi jamuan makan dan doa bersama), yang pada akhirnya berdampak pada peristiwa menyedihkan dan menyedihkan bagi keluarga dan seluruh masyarakat Jawa Barat," tandas Dedi Mulyadi.
Sementara itu, usai kejadian Polres Purwakarta bergerak cepat melakukan penyelidikan. Hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) menunjukkan bahwa korban mengalami hantaman benda tumpul di bagian vital.
Kasi Humas Polres Purwakarta, AKP Enjang Sukandi, membenarkan adanya keributan antara korban yang sedang menikahkan putrinya dengan sekelompok pemuda.
"Hasil pemeriksaan sementara, diduga pelaku lebih dari dua orang dan saat ini masih kami buru, mudah-mudahan secepatnya bisa kami amankan," kata Enjang. (*)
Artikel Asli




