GEDUNG Putih membantah kabar yang menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerima begitu saja proposal 10 poin yang diajukan Iran dalam konteks kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
"Gagasan bahwa Presiden Trump akan menerima daftar keinginan Iran sebagai bagian dari kesepakatan adalah hal yang sama sekali tidak masuk akal," katanya dalam konferensi pers di Washington, Rabu (8/4).
Baca juga : Donald Trump Umumkan Pasukan AS Tarik Diri dari Iran dalam 3 Pekan
Leavitt menambahkan bahwa Trump hanya akan menyepakati perjanjian yang berpihak pada kepentingan nasional Amerika Serikat. Ia juga mengungkapkan bahwa proposal awal Iran yang berisi 10 poin tidak sejalan dengan posisi Washington.
Menurutnya, dokumen tersebut bahkan langsung ditolak oleh tim negosiasi AS.
"Proposal benar-benar dibuang ke tempat sampah oleh tim AS," tegasnya dikutip Al Jazeera, Kamis (9/4).
Baca juga : Iran Sebut Deal dengan AS kian Dekat di Tengah Ancaman Trump
Lebih lanjut, Leavitt menjelaskan bahwa Teheran kemudian mengajukan proposal revisi, meski tidak merinci poin-poin yang akhirnya dipertimbangkan oleh pihak AS. Ia menekankan bahwa posisi utama Washington tetap tidak berubah.
"Garis merah presiden, yaitu penghentian pengayaan Iran di Iran, tidak berubah," tambahnya.
Di sisi lain, pernyataan Trump di media sosialnya, Truth Social, sempat menunjukkan nada yang lebih optimistis. Ia menyebut proposal dari Iran sebagai dasar yang layak untuk bernegosiasi, serta menggambarkan gencatan senjata sebagai langkah dua arah.
"Periode dua minggu akan memungkinkan perjanjian tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan," tulis Trump.
Sejumlah poin dalam proposal Teheran yang beredar di publik mencakup tuntutan hak Iran untuk memperkaya uranium, pencabutan sanksi ekonomi, serta penghentian permanen serangan terhadap wilayahnya.
Sebaliknya, dalam proposal versi Washington, pemerintah AS menginginkan Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada Amerika Serikat.
Selama ini, Iran dilaporkan terus mengembangkan program pengayaan uranium yakni material yang berpotensi digunakan untuk senjata nuklir. Namun, pemerintah di Teheran berulang kali menegaskan bahwa program tersebut ditujukan untuk kepentingan damai.
Isu nuklir ini menjadi salah satu pemicu utama konflik, yang mendorong Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran sejak 28 Februari.
Setelah lebih dari sebulan ketegangan, kedua negara akhirnya menyepakati gencatan senjata pada Selasa (7/4) sebagai langkah awal menuju negosiasi lebih lanjut. (I-2)





