Nilai Tukar Rupiah Dibuka Depresiasi ke Rp17.109 per Dolar AS Hari Ini (10/4)

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka melemah sebesar 0,47% atau 79,5 poin menjadi Rp17.109 per dolar AS pagi ini.

Adapun, kurs rupiah diperkirakan bergerak melemah pada rentang Rp17.090-Rp17.140 per dolar AS hari ini, Jumat (10/6/2026).

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dan ketegangan geopolitik kembali meningkat di Timur Tengah. Hal ini mengaburkan prospek migas, karena jalur penting yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak global sebagian besar tetap terblokir meskipun ada gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. 

Pergerakan kapal yang terbatas dan terkontrol ketat telah dilanjutkan, tetapi gangguan pengiriman tetap ada, dengan Iran mempertahankan kendali signifikan atas transit dan akses.

Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 10 April 2026

Sentimen pasar juga semakin terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon, yang berisiko merusak gencatan senjata yang rapuh.

Iran mengatakan pembicaraan damai dengan AS akan tidak masuk akal setelah serangan terbaru, dengan alasan bahwa serangan tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata yang baru diumumkan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, yang memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz dan mengurangi hambatan pasokan. 

Namun, para analis memperingatkan bahwa gangguan struktural pada rantai pasokan dan infrastruktur di seluruh wilayah tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki. 

Sementara itu, menurut risalah FOMC bulan Maret yang dirilis pada hari Rabu, para pejabat Fed masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini, bahkan di tengah tingkat ketidakpastian yang tinggi dari perang Iran dan tarif.

Para pembuat kebijakan menyatakan bahwa mereka perlu tetap gesit saat mereka mempertimbangkan dampak perang terhadap inflasi, yang terus berada di atas target Fed, dan perekrutan tenaga kerja, yang sebagian besar stagnan selama setahun terakhir.

Dari dalam negeri, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7%, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8%. Meski direvisi turun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2%.

Adapun prospek ekonomi kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal utama, yakni konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). 

Sebelumnya, OECD memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Pertumbuhan diperkirakan berada di level 4,8% dari sebelumnya 5%. Revisi ini muncul di tengah tekanan global yang meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Foto Rekayasa AI di Kalisari Ternyata Berulang, Pramono: Pelakunya Orang yang Sama
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Alasan Orang Merasa Sedih di Hari Ulang Tahun
• 16 jam lalubeautynesia.id
thumb
Airlangga Yakin Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Bisa Tumbuh 5,5 Persen
• 12 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Penjatahan dan Distribusi Tuntas, BSA Logistics (WBSA) Listing Hari Ini
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Cerita Saksi Sidang Noel Dimarahi Pejabat Kemnaker via Telepon Usai Tolak Setor Duit
• 17 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.