Jakarta, VIVA – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pola pengelolaan keuangan masyarakat mulai mengalami pergeseran. Konflik geopolitik, fluktuasi nilai tukar, hingga tekanan terhadap harga komoditas mendorong banyak individu untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial. Namun di balik itu, muncul fenomena yang tidak banyak disadari: pemilik aset bernilai tinggi justru memilih menggadaikan barang mewahnya, alih-alih menjual.
Tas branded, jam tangan mewah, hingga kendaraan premium kini tidak lagi semata dipandang sebagai simbol gaya hidup. Aset-aset tersebut mulai dimanfaatkan sebagai sumber likuiditas yang fleksibel tanpa harus kehilangan kepemilikan. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Perubahan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran bahwa barang mewah memiliki nilai yang relatif stabil, bahkan dalam beberapa kondisi dapat mengalami apresiasi. Di sisi lain, kebutuhan akan dana tunai tetap muncul, baik untuk menjaga arus kas bisnis maupun memenuhi kebutuhan mendesak. Kondisi ini menciptakan dilema antara mempertahankan aset atau memperoleh likuiditas.
Perwakilan dari deGadai, perusahaan yang bergerak di bidang pergadaian ini menyebutkan bahwa masyarakat kini mulai memahami bahwa kebutuhan dana tidak selalu harus dipenuhi dengan menjual aset.
“Gadai memberikan fleksibilitas. Nasabah tetap mendapatkan dana yang dibutuhkan, namun masih memiliki kesempatan untuk menebus kembali asetnya,” ujarnya melalui keterangan yang diterima VIVA, dikutip Jumat 10 April 2026.
Pendekatan ini dinilai lebih adaptif terhadap kondisi ekonomi yang dinamis. Dengan menggadaikan barang, pemilik aset tetap dapat memperoleh dana tunai dalam waktu relatif cepat, tanpa kehilangan potensi kenaikan nilai aset di masa depan.
Fenomena ini juga mencerminkan perubahan cara pandang terhadap gadai. Jika sebelumnya identik dengan kondisi darurat, kini gadai mulai digunakan sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan. Terutama di segmen premium, gadai dimanfaatkan untuk menjaga likuiditas, mengoptimalkan peluang bisnis, serta menghindari keputusan menjual aset di waktu yang tidak tepat.
Sebagai ilustrasi, seseorang yang memiliki jam tangan mewah atau tas branded bernilai ratusan juta rupiah dapat menghadapi kebutuhan dana dalam waktu singkat. Menjual aset memang memberikan solusi instan, tetapi bersifat final. Sebaliknya, dengan gadai jam tangan atau gadai tas mewah seperti Hermes, Dior, atau Louis Vuitton, dana tetap dapat diperoleh, sementara aset masih dapat ditebus kembali ketika kondisi keuangan membaik.





