Harga Emas Bergejolak Hebat, Ternyata Ini Penyebab Utamanya

cnbcindonesia.com
23 jam lalu
Cover Berita
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas turun pada Senin, tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan munculnya kembali kekhawatiran inflasi yang mengaburkan prospek pemangkasan suku bunga di masa depan setelah perundingan damai AS-Iran gagal.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (13/4/2026) ditutup di posisi US$ 4739,18 per troy ons atau melemah 0,17%. Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan melemah 0,5% dalam dua hari terakhir.

Harga emas membaik pada hari ini. Pada Selasa (14/4/2026) pukul 06.24 WIB, harga emas dibanderol US$ 4757,52 per troy ons atau menguat 0,39%.

Dolar AS kembali menguat membuat logam mulia yang dihargai dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Harga emas sangat bergejolak dalam sepekan terakhir. Emas semat terbang di awal pekan lalu sebelum ambruk pada akhir pekan dan awal pekan ini. Volatilitas emas mengikuti pemberitaan perang yang juga penuh ketidakpastian. 

"Pasar emas saat ini sangat digerakkan oleh berita utama. Semua mata tertuju pada harga minyak mentah karena minyak akan menentukan inflasi, dan itu akan menentukan kebijakan Federal Reserve," kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures, kepada Reuters.

Setelah negosiasi gagal, militer AS menyatakan akan memblokade kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran, sementara Teheran mengancam akan membalas terhadap pelabuhan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$99,08 per barel. Sementara Brent internasional melonjak 4,37% menjadi US$99,36 per barel.

Baca: AS Mulai Blokade Selat Hormuz, China Bakal Umumkan Kabar Genting

Harga minyak yang melonjak memicu kekhawatiran inflasi dan membatasi ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga. Suku bunga tinggi mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil, meskipun logam mulia ini dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Menurut FedWatch Tool milik CME, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 29% bahwa AS akan memangkas suku bunga hingga akhir tahun, turun dari 40% sebulan lalu.

Menyusul pesimisme pemangkasan suku bunga, harga emas spot telah turun lebih dari 10% sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari.

"Kami melihat aksi jual akibat perang ini sebagai hal yang sehat bagi prospek jangka panjang emas, karena posisi spekulatif yang berlebihan kini telah berkurang," kata analis SP Angel.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Laba Chandra Asri Rp 3,51 T per Kuartal I 2026, EBITDA Tertinggi dalam Sejarah
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Cocok dengan Skema 3-4-2-1 Cristian Chivu, Inter Milan Gerak Cepat Bajak Bintang Gratisan Dortmund Musim Panas Nanti
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemhan Tegaskan Izin Terbang Pesawat AS Tak Masuk Perjanjian MDCP
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Shell Angkat Andri Pratiwa Jadi Presiden Direktur dan Country Chair Indonesia
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Hormati Putusan Praperadilan Indra Iskandar, Pelajari Langkah Hukum
• 14 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.