Bayang-bayang tekanan di sektor konstruksi pelat merah semakin nyata. Setelah lama berperan sebagai penggerak utama pembangunan infrastruktur nasional, emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya kini justru menghadapi masa sulit.
Kondisi ini tidak hanya tercermin dari laporan keuangan perusahaan, tetapi juga dirasakan langsung oleh investor ritel. Sejumlah investor mengaku terjebak dalam posisi rugi besar, bahkan hingga puluhan persen. Rasa cemas kian meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Ketika kinerja fundamental melemah dan risiko gagal bayar meningkat, kepercayaan investor pun ikut tergerus. Saham-saham BUMN Karya yang sebelumnya menjadi primadona saat era pembangunan masif kini justru berbalik menjadi sumber kerugian, menahan investor dalam posisi yang sulit untuk keluar maupun bertahan.
Tekanan tersebut tercermin nyata dalam kinerja keuangan sepanjang 2025. Emiten konstruksi BUMN terpantau babak belur, dengan sebagian besar perusahaan mencatatkan kerugian besar, bahkan hingga triliunan rupiah. Imbas dari lesunya laporan keuangan, sejumlah investor pun tak bisa “kabur” dari saham-saham tersebut.
Di sisi lain, risiko di pasar juga semakin meningkat. Sejumlah saham BUMN Karya kini ada yang telah lama disuspensi dan bahkan terancam delisting oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), menambah tekanan bagi investor yang sudah terlanjur masuk.
Berikut kinerja emiten BUMN Karya:




