Menjahit Harapan Anak Aceh Di Bawah Bayang Malnutrisi

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh Tamiang, Langkat, dan Agam, Provinsi Aceh, beberapa waktu lalu tak hanya menyisakan kerugian materi. Bencana itu juga merenggut stabilitas emosional kelompok paling rentan, yakni anak-anak. Trauma mendalam sering kali bermanifestasi pada hal-hal fisik yang kasatmata, mulai dari hilangnya nafsu makan hingga ketakutan berlebih terhadap air.

Di balik puing-puing bangunan dan sisa lumpur yang mengering di Desa Pematang Durian, Aceh Tamiang, pascabencana, keceriaan anak-anak tak lagi seindah pelangi. Suasana desa yang dahulu riuh oleh canda saat mereka bermain di antara pepohonan sawit, kini berubah menjadi hening yang mencekam setiap kali mendung menggantung di langit.

Bagi anak-anak ini, suara rintik hujan bukan lagi melodi untuk bermain air, melainkan dentum peringatan akan bencana yang pernah menghanyutkan ruang hidup mereka.

Baca JugaAnak-anak Korban Bencana Perlu Pendampingan Psikologi
Baca JugaJangan Wariskan Bencana untuk Anak Cucu

Situasi anak-anak Aceh Tamiang, pascabencana, dituturkan oleh para sukarelawan dari berbagai organisasi dalam kegiatan ”Pembekalan Kader Edukasi Gizi untuk Masyarakat di Daerah Pascabencana”, Sabtu (11/4/2026) secara daring. Acara ini diselenggarakan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI).

Kegiatan ini dihadiri oleh para kader dari kabupaten Aceh Tamiang (Aceh), Langkat (Sumatera Utara), dan Agam (Sumatera Barat). Selain itu, diikuti pula oleh para mitra seperti Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), YAICI, dan Rangkul Foundation. Kegiatan yang digagas Zaskia Adya Mecca, ini menjadi forum berbagai pengalaman dalam menangani korban bencana.

Para relawan bercerita bagaimana mereka tidak hanya hadir sekadar membawa kardus bantuan, melainkan membawa misi besar untuk "menjahit kembali" harapan yang sempat terkoyak.

Fenomena "Kenyang Palsu" di tengah pengungsian

Salah satu tantangan terbesar yang ditemukan sukarelawan di lapangan adalah pergeseran pola konsumsi anak yang mengkhawatirkan. Satria Yudistira dari YAICI mengungkapkan fenomena "kenyang palsu" yang menghantui anak-anak di pengungsian.

Karena akses terhadap pangan segar seperti sayuran dan protein hewani terputus, banyak orang tua beralih memberikan kental manis yang diseduh sebagai pengganti susu. ”Ini adalah kenyang semu. Gula yang tinggi memberikan lonjakan energi sesaat, namun nutrisi esensial yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang justru nihil,” ungkap Satria.

Padahal, anak-anak yang sering mengalami sugar crash akibat asupan gula berlebih ini cenderung menjadi mudah lelah, rewel, dan status gizinya merosot drastis. Fenomena ini diperparah dengan banyaknya bantuan logistik yang didominasi makanan instan seperti mi dan biskuit tinggi gula.

Di sisi medis, Prof Tria Astika Endah Permatasari, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta, mengingatkan akan ancaman malnutrisi tersembunyi (hidden hunger) sering kali tidak terlihat dari fisik luar. Di tengah keterbatasan akses pangan sehat, anak-anak cenderung mengonsumsi makanan instan dan minuman manis yang praktis namun minim zat gizi mikro.

Baca JugaBermain Bantu Anak Atasi Trauma di Lokasi Bencana
Baca JugaDeforestasi dan Perubahan Iklim, Ancaman Nyata bagi Pembangunan Aceh

Seorang anak mungkin tampak kenyang setelah meminum segelas cairan manis, namun di dalam tubuhnya, sebenarnya dia mengalami defisiensi zat besi, kalsium, dan vitamin D yang krusial bagi imunitasnya. ”Anak mungkin terlihat aktif, tapi di dalamnya imunitas mereka menurun,” jelas Tria.

Menurut Tria, lingkungan hunian yang sangat padat dan tidak layak, sangat berisiko pada anak. Misalnya paparan debu sisa bencana, kelembaban yang tinggi, kurangnya ventilasi, lalu faktor anaknya sendiri mulai menurun imunitasnya, kondisi kesehatan mental, status gizi yang berkurang, atau ada yang riwayat imunisasinya tidak lengkap, bisa menimbulkan risiko yang lebih tinggi.

Tanpa intervensi yang tepat, kondisi gizi kurang dapat dengan cepat merosot menjadi gizi buruk, terutama jika ditambah dengan sanitasi yang buruk yang memicu diare dan penyakit infeksi lainnya. ”Kondisi serius, jika tidak ditangani, maka infeksi pernapasan ini dapat berkembang menjadi komplikasi berat,” ujar Tria.

Menguatkan sang ibu

Di tengah perjuangan memenuhi gizi, aspek psikososial menjadi jembatan utama pemulihan. Aktris dan pegiat sosial, Zaskia Adya Mecca menekankan untuk memulihkan anak, sukarelawan harus terlebih dahulu menguatkan sang ibu. Ia pun bercerita, bagaimana dalam kunjungannya ke daerah bencana, Zaskia kerap menjumpai para ibu yang tampak tegar namun menyimpan beban mental yang luar biasa berat.

”Kadang yang mereka butuhkan bukan hanya sembako, tapi kehadiran kita secara utuh. Hanya dengan memegang pundak seorang ibu dan mendengarkan keluh kesahnya selama sepuluh menit, tangis mereka pecah. Itu adalah bentuk pelepasan beban yang sangat mahal harganya,” cerita Zaskia.

Baginya, ketika seorang ibu merasa didukung dan dikuatkan, energi positif itu akan mengalir langsung kepada anak-anaknya, menciptakan rasa aman di tengah ketidakpastian pengungsian. Ketika beban emosional sang ibu terangkat, barulah anak-anak mendapatkan kembali sosok pelindung yang stabil di masa sulit.

Untuk memulihkan anak, sukarelawan harus terlebih dahulu menguatkan sang ibu.

Baca JugaIbu Pegang Peran Penting dalam Penanganan Bencana

Karena itulah, Zaskia mengingatkan para sukarelawan untuk tidak menjadi ”turis bencana” yang hanya datang untuk berfoto. Kehadiran sukarelawan di lapangan adalah tentang membangun hubungan jangka panjang, memastikan masyarakat tidak merasa ditinggalkan saat kamera media sudah mulai berpaling ke berita lain.

Prinsip pemberian bantuan juga menjadi sorotan tajam Budi Setiawan, Ketua MDMC, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurutnya, kesalahan umum dalam penanganan bencana adalah memberikan bantuan berdasarkan apa yang dimiliki donatur, bukan apa yang dibutuhkan oleh penyintas. ”Kadang masyarakat senang diberi makanan manis atau mi instan, tapi itu bukan edukasi yang baik,” ujar Budi.

Kebutuhan tersebut mencakup penyediaan air bersih yang sangat langka di daerah seperti Kampung Serba. Selain itu, juga edukasi gizi agar bantuan tidak menjadi "bencana ganda" bagi kesehatan anak di masa depan.

Penyambung napas kehidupan penyintas

Upaya pendampingan ini juga menjadi pengalaman berharga bagi para relawan dari organisasi ‘Aisyiyah. Mereka hadir di lapangan, mulai dari mengukur lingkar lengan atas bayi dibawa lima tahun untuk deteksi dini gizi buruk hingga menyelenggarakan sekolah darurat di bawah tenda.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Warsiti, menilai persoalan gizi anak, terutama tengkes (stunting) pada balita, masih menjadi tantangan serius dan isu strategis bangsa yang tidak boleh kita abaikan. Masa balita adalah golden period yang menentukan kualitas generasi masa depan kita.

”Tantangan ini menjadi berkali-kali lipat lebih berat saat kita berada dalam situasi pascabencana, di mana kerentanan masyarakat meningkat drastis,” paparnya.

Sering kali, dalam penanganan bencana, publik termasuk para donatur terfokus hanya pada pemenuhan kebutuhan dasar darurat yang bersifat sesaat. ”Kita sering terlupa bahwa ada persoalan gizi seimbang yang terancam setelah masa rekonstruksi dimulai. Padahal, gizi adalah kunci utama pemulihan para penyintas,” tegas Warsiti.

Sukarelawan tidak hanya berperan sebagai pengantar beras, tetapi juga sebagai penyambung napas kehidupan melalui edukasi gizi.

Baca JugaIbu Pegang Peran Penting dalam Penanganan Bencana

Karena itu, kehadiran sukarelawan sangat penting. Kenyataannya, saat bencana dan pascabencana, sukarelawan tidak hanya berperan sebagai pengantar beras, tetapi juga sebagai penyambung napas kehidupan melalui edukasi gizi dan pemulihan trauma (trauma healing) lewat permainan sederhana

Mereka menjahit kembali struktur sosial yang runtuh melalui permainan edukatif dan makan bersama makanan bergizi, memastikan bahwa hak anak untuk hidup sehat dan bermartabat tetap terpenuhi meski di sisa puing bencana.

Pemulihan pascabencana adalah kerja maraton yang memerlukan napas panjang. Dengan kolaborasi antara ahli gizi, praktisi kebencanaan, dan tokoh publik, harapan-harapan kecil itu mulai dirajut kembali.

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah misi kemanusiaan bukan diukur dari berapa banyak bantuan yang tersalurkan. Akan tetapi, ditentukan pula oleh kembalinya binar mata dan tawa tulus anak-anak Indonesia yang mampu bangkit dari bayang-bayang bencana.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dugaan Pelecehan Seksual di FH UI: Korban Masih Pertimbangkan Lapor Polisi
• 9 jam laludisway.id
thumb
Ini kata Jubir KPK terkait pelaporan Faizal Assegaf ke polisi
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Cerita Traveler Indonesia Nyaman Menjelajah & Beribadah di Jepang Tanpa Hambatan
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
BSPS 40 Ribu Unit di Jabar Libatkan Pengusaha Genteng Lokal
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
3 Pilar Kerja Sama Pertahanan Utama RI-AS: Modernisasi Militer hingga Pelatihan
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.